Identitas

Suku di Indonesia ada berapa yah sekarang? entah,gw ga hafal berapa banyak jumlah suku,pulau di negeri ini,terlalu banyak jumlahnya. Tapi kalo lu tanya gw suku apa,gw bakal langsung jawab bugis,lebih tepatnya bugis wajo. Gw lahir dusun ongko desa ongkoe kecamatan belawa kabupaten wajo kira-kira 20 tahun yang lalu. Gw cuma sempat menghirup udara segar di sana selama 6 bulan,setelahnya dibawa ke ibukota. Besar di ibukota bikin gw kenal macem2 orang(baca:suku),well ngga juga sih. Mayoritas yang gw temui jawa,maklumlah masih pulau mereka juga. Cuma gw jarang menemui mereka berbicara dalam bahasa jawa ketika di sekolah,namun masih tetap ada yang berbicara dalam bahasa jawa ketika mereka di rumah masing-masing.sd,smp,sma begitu terus,jarang nemu orang bicara dalam bahasa daerahnya masing-masing tapi gw berharap sih mereka masih mempertahankan bahasanya kalo di rumah kaya yang orang tua gw biasa lakukan di rumah yaitu bicara dalam bahasa bugis. Ketika gw masuk kuliah di bandung barulah gw menemukan fenomena orang medok banyak bertebaran ngobrol dengan teman sedaerahnya. Gw seneng dengernya,unik hehe. Dan tentunya urang sunda yang mendominasi(?) kampus gajah.

Nah ketika gw mudik baru-baru ini ada 1 hal yang baru gw pelajari. Ternyata sepupu-sepupu gw yang makan mandi buang air di makassar ,bahasa bugisnya bisa dibilang kurang lancar dibanding gw. Kalo gw pikir sih mungkin mereka jarang dicekokin bahasa bugis di rumahnya,lebih sering bahasa makassar. Gw jadi merasa berterimakasih ke orang tua gw yang masih mau ngajarin gw dikit-dikit bahasa kampung gw sendiri. Gw emang terbiasa menggunakan gw elo di dalam komunikasi sehari-hari tapi itu ga membuat gw lupa akan identitas gw yang lain. Tentang tanah tempat gw dilahirkan,rumah tempat gw pertama kali menatap dunia.

Namun ada sisi negatif yang gw rasakan ketika kemarin gw pulang kampung,gw merasa “terasing” entah karena sepupu gw semua lebih fasih berbahasa makassar ketimbang bugis atau entah apa. Bahkan adik gw yang 11 12 tinggal di jakartanya sama gw juga dalam waktu 2-3 tahun lancar berbahasa makassar. Gw yang pendiem jadi makin pendiem aja kalo di dekat sepupu-sepupu.Mau gimana lagi,kadang-kadang ada kosa kata yang ganjil di telinga ditambah lagi ketika melihat bahasa tulisan keluarga di makassar pada media pisbuk,owh owh owh sulit dimengerti. Kesulitan karena kosa kata dipersulit dengan singkatan-singkatan dan pola besar kecil yang sesungguhnya tidak berpola.

Diiringin lagu The Howlingnya Within Temptation gw tutup tulisan kali ini dengan harapan kelak gw punya istri yang berdarah bugis juga,orangnya ada lah wkwkw. Gw pengen kaya orang tua gw,melestarikan budaya suku gw sendiri.

Nya sakitu weh,pamit heula hayang sare atawa modol heula nya? -_-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s