Duduk di bangku besi yang basah di depan bangunan yang tidak jelas gunanya. Duduk menghadap arah barat. Menatap langit hitam pekat. Tidak ada bintang. Hanya awan bergulung-gulung,sisa hujan tadi sore. Tanah masih basah,genangan masih luas.

Hujan belum lama berakhir memang. Tidak ada seekor burung melintas,burung besi sekalipun tidak terlihat di kejauhan. Cuaca memang sedang tidak bersahabat akhir-akhir ini. Tapi aku tetap suka menikmati bau tanah setelah hujan, indah.

Aku duduk sendiri di luar. Awalnya ingin ke kamar mandi hendak menunaikan kewajiban terhadap diri sendiri. Namun dibatalkan karena tiba-tiba hasrat itu sirna. Buku yang dibawa akhirnya dinikmati sambil berselimut dingin. Kantuk terkadang menyerang,maklum perut baru terisi daging dan sosis. Kambing yang dibakar ,sosis yang dibakar dan sosis yang masih “mentah”. Semuanya enak. Tapi entah akibatnya nanti setelah menyantap penganan yang mentah tersebut. Yang lalu berakhir dengan perut bergejolak hebat di pagi hari. Tapi tak mengapa,menikmati sesuatu yang baru itu menyenangkan.

Kembali ke malam ini,sambil membaca Anak Tanah Air karya Ajip Rosidi,telinga sesekali menyimak pembicaraan di dalam. Tempat manusia beradu argumen,belajar berbicara,mengutarakan pendapat,menghargai perbedaan,menilai karakter,menilai pribadi,walaupun saya yakin lebih banyak bibir terdiam membisu dibandingkan yang kering karena banyak bertutur. Ada yang malu,ada yang bingung,ada yang tidak menyimak pembicaraan,raganya di dalam namun benaknya pergi entah kemana.

Dalam pandanganku,seharusnya malam ini cukup satu hal saja dilaksanakan. Cukup kita membakar daging dan sosis-sosis itu saja atau cukup kita mengevaluasi saja kegiatan yang lalu. Perhatian terbagi seperti ini menurutku tidak tepat. Ah tapi itu berdasar asumsi semua orang memperhatikan dengan seksama hal yang mereka ikuti. Mudah-mudahan sih begitu. Bukan begitu adik-adik? Aneh memang,dulu aku akan lebih suka menggunakan kata rekan,teman atau kawan di situ. Tapi baru-baru ini ada seseorang yang baru kukenal berkata “Saya lebih suka disebut sebagai saudara ketimbang teman,lebih dekat rasanya”. Saya setuju. Kembali kepada kegiatan adik-adikku di dalam sana. Maaf tidak menyimak dari awal,bahkan sejujurnya karena ketidaksetujuanku terhadap dualisme acara malam ini menyebabkan diriku lebih suka bercengkrama dengan makhluk-makhluk di luar sana yang menyiapkan makanan. Lebih akrab saja rasanya. Bahkan saya mulai dipanggil mbah sama 2010,sebutan yang hanya dipakai oleh beberapa 2008,menyenangkan. Satu hal yang kutangkap adalah masih adanya keseragaman,masih takutnya adik-adik 2010 untuk menjadi berbeda. Terlihat dari pernyataan di akhir-akhir kegiatan “Yah saya sih sama intinya mah”. Pemikiran yang sama terhadap satu hal,bisa karena memang hal itu betul-betul tidak dapat diperdebatkan lagi sehingga seluruh umat manusia akan berujar seia sekata tentangnya tanpa sedikit pun keraguan. Sebab lain mungkin karena memang tidak mampu mengungkapkan pendapatnya sendiri sehingga setelah seorang berkata,yang sesudahnya akan menirukan dengan cara yang juga mirip. Tapi ambil positifnya saja,berani berkata sudah merupakan kebaikan. Tidak semua orang mampu dan berani untuk berbicara bahkan setelah dipaksa sekalipun.

Mendengar riuh rendah ketika tawa bermunculan,saya merasa tenteram. Damai. Tertawa itu menyenangkan,tetapi mendengar sekelompok manusia di bawah satu atap dalam satu ruangan tertawa renyah buatku lebih nikmat. Sesaat terlupakan kesulitan hidup dan keresahan hati. Namun dibalik setiap tawa tersimpan duka yang selalu siap sedia menerkam dalam setiap kesempatan. Melihat komposisi makhluk di dalam,terbersit tanda tanya dalam benakku. Akankah tahun depan keriangan ini terjadi lagi? Aku khawatir,tahun depan ketika pengurus yang lebih senior sekarang beranjak pergi dari sini,jumlah manusia di sini akan menciut. Menurun. Berkurang. Khawatir terhadap masa depan memang tidak beralasan,segala sesuatunya bukanlah hal yang bisa diukur dengan pasti. Masih misterius. Memang,kita sudah seharusnya menepis jauh-jauh bayang-bayang pikiran negatif,akan tetapi kekhawatiran ini bukan sesuatu yang tidak berdasar. Melihat apa yang selama ini terjadi kekhawatiran itu akan muncul. Mungkin diri ini khawatir berlebihan karena rasa sayang terhadap keluarga ini. Mungkin. Tapi yang pasti kuharap,tahun depan kekhawatiran ini akan hanya tersurat pada tulisan ini dan tidak menjadi sesuatu yang berjalan di atas bumi ini. Tidak menjadi kenyataan pahit yang harus dihadapi kelak. Aku berharap seperti itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s