Idola

Hai cantik. Apa kabar dirimu?

Mudah-mudahan dalam keadaan tidak kekurangan sesuatu apa pun. Tidak kasih sayang. Tidak perhatian. Tidak pula istirahat. Mudah-mudahan.

Aku sedang terlalu banyak berpikir. Tentang perasaanku tentangmu. Tentang hidupku di masa depan. Tentang tempat ini dan dinamika di dalamnya. Tentang kenapa aku berpikir. Tentang ibu di pulau seberang lautan sana. Tentang buku-bukuku. Tentang manusia di sekitarku. Tentang.

Pelik,ya memang pelik benakku ini. Aku sendiri belum mengerti kenapa serumit itu aku berpikir. Entah apakah memang pelik seperti dugaanku atau semuanya hanya ilusi semata. Yang sering kudengar teman-temanku katakan adalah aku terlalu serius dan kaku. Pelik? Entahlah.

Perihal perasaanku ke dirimu. Benarkah dirimu yang menarik perhatianku? Seluruhnya? Sebagian? Itu sampai saat ini masih dalam pencarian. Awalnya sebagian namun kemudian timbul keseluruhan,kurasa. Bisa mengendalikan rasa adalah kemampuan yang sangat ingin kumiliki. Aku tidak ingin tiba-tiba timbul rasa suka terhadap seseorang di saat yang tidak terduga. Tapi itu tidak mungkin. Jadi kubiarkan saja perasaan ini mengalir begitu saja tanpa ada usaha untuk menarik perhatianmu. Sedikit ada,namun aku tidak berminat berbuat terlalu jauh. Mengetahui dirimu telah memiliki dan dimiliki membuatku berpikir ulang tentang apa yang hendak aku perbuat. Aku bukan orang yang suka merebut milik(?) manusia lain. Mungkin itu juga merupakan cara Tuhan untuk menghalangiku tenggelam lebih jauh dalam cinta yang meresahkan. Dia tahu aku tidak akan mampu melawan gundah gulana yang mungkin akan timbul dalam lima huruf itu,dan aku pun kemudian dijauhkan darimu. Mungkin begitu. Banyak yang bilang kepadaku bahwa cinta itu harus diperjuangkan. Aku setuju. Sangat setuju,namun kupikir bukan saat ini dia harus kuperjuangkan. Belum. Mungkin belum atau mungkin tak akan pernah kucari dan kudapatkan. Lama kurenungkan tentang perasaanku ini. Apakah aku benar menyukaimu atau sekedar mengagumimu karena keindahan yang dititipkan Tuhan pada dirimu. Lama aku merenungkannya. Berkali-kali aku bertanya kepada yang lain perbedaannya. Mencoba mencari perbedaan. Mendefinisikan. Tapi ini sulit,ini perasaan. Hanya aku sendiri yang bisa mencari maknanya. Biar sejuta orang berkata bahwa keduanya sama dan serupa tapi jikalau aku berpikir mereka tidak sama maka keduanya tidaklah sama. Dan sepertinya aku telah mendapat kesimpulan dari pergulatan ini. Aku hanya pengagummu. Aku pikir wajar ketika seorang penggemar tertegun ketika idolanya ada di dekatnya. Bibir terkatup rapat padahal ribuan kata ingin diucap. Yang muncul malah sorot mata kesombongan penuh tipu daya. Sebab,sang penggemar sangat ingin bertanya banyak hal kepada idolanya. Namun apa daya. Dia lemah.

Setelah ini kuharap keberanian itu akan muncul karena aku sangat ingin berbicara denganmu. Bukan sebagai orang yang berharap untuk menjadi seseorang yang berarti di hidupmu. Hanya ingin mendengar kisahmu. Itu saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s