Absurd

Do not pity the dead,pity the living.

–AD

Kemarin dan hari ini sepertinya kalimat itu sangat menohok perasaanku. Terkait Sondang. Dia disebut bunuh diri,dibilang melakukan kekonyolan,stres,gila apapun lah itu. Dia juga diberi penghargaan dengan diberi sebuah gelar sarjana kehormatan. Saya ingin tidak peduli dengan semua itu. Awalnya saya tidak setuju dengan kutipan pada tulisan ini. Karena saya berpikir,kalau saya di posisi Sondang akan seperti apa perasaan saya? Apa saya tidak tersinggung dicibir dan dihina oleh sekelompok orang? Tidak semua orang memahami apa yang saya lakukan dan kemudian tuduhan segala rupa dijatuhkan kepada saya. Tapi berpikir kembali dan tiba-tiba saya tersadar,memang benar untuk apa mengasihani yang mati. Kasihani yang hidup. Biarlah Sondang berurusan dengan Tuhan di sana. Biar penghakiman Tuhan jatuhkan atas apa yang pernah dia lakukan semasa hidupnya sampai saat dia meregang nyawa. Biar semua itu mereka lakukan di sana. Kita yang masih hidup pedulikan saja yang masih hidup. Biarlah cibiran dan hinaan terus kita lontarkan atas tindakannya. Biar ibunya mendengar anaknya dihakimi seperti itu. Biarlah biar. Iya kan?

Tapi jadi kontradiktif ketika kita berkata kasihani yang hidup? Ibu Sondang ada dimana? Perasaan beliau seperti apa melihat media massa beramai-ramai memberitakan pujian dan hinaan terhadap anaknya.  Saya memang tidak akan pernah memahami perasaan beliau karena selamanya saya tidak akan menjadi seorang ibu. Tidak akan pernah repot-repot mengandung seorang anak selama kurang lebih 9 bulan. Tidak akan repot menyusuinya selama kurang lebih dua tahun. Tidak akan pernah kualami itu.

Dengan segala pujian yang dialamatkan kepada Sondang,akankah rasa rindu itu sirna dari hati beliau? Saya bukan aktivis di kampus saya,bukan. Saya tidak pernah melakukan apa-apa namun hari ini saya teringat ibu dan membayangkan ibu saya ketika saya melakukan tindakan seperti Sondang. Alasan apapun pasti membuat diri ini bertanya-tanya,karena memang manusia sudah seharusnya tidak menerima dengan mentah apapun. Bertanya dulu dipikirkan dulu.

Dengan segala cercaan hilangkah rasa kehilangan dari hati beliau? Saya ragu itu terjadi , cukup anak saya meninggalkan saya itu sudah cukup berat. Dengan jalan yang tidak lazim pula.

Anak saya kemudian dijadikan alasan solidaritas. Anak saya kemudian dijadikan alasan demonstrasi. Demonstrasi untuk membela katanya. Namun demonstrasi tersebut menghinakan perempuan. Apa artinya memberikan pembalut dan celana dalam wanita? Apakah menjadi wanita serendah itu? Tanya ibumu seperti apa dirimu ketika kecil baru kemudian bertanya apakah pantas kuberikan celana dalam dan pembalut seperti itu? Saya pikir dirimu bahkan untuk menyentuh kakinya pun sekarang tidak pantas setelah ini. Di tempat lain,anak-anak gajah sibuk belajar untuk masa depan yang lebih cerah. Kehidupan yang lebih baik,lebih baik dari orang tuanya,lebih baik dari masyarakat di sekitarnya. Hal ynng wajar,karena manusia memang seharusnya berusaha untuk menjadi yang terbaik. Yang kutakutkan adalah nanti ketika kalian bekerja,semasa mahasiswa semudah itu UAS menjadi alasan. Nanti 10,20 tahun lagi seperti apa alasanmu untuk menutup mata terhadap ketidakadilan hidup di sekitar kalian? Dengan kenyamanan hidup kalian lalu kalian tidak peka? Sedih mengetahuinya. Ketika hati dibutakan,seribu juta alasan pun akan didapat. Tapi ketika hatimu bisa melihat,alasan tidak lagi perlu ada. Cukup kepuasan bisa membantu sesama manusia. Itu sudah cukup. Tidak bisa membantu apa-apa? Silakan berusaha peduli,walaupun terkadang hanya peduli itu tidak cukup tapi ketika keterbatasan hadir, biar perasaan kalian menjadi wakil atas diri kalian. Semoga Tuhan menyampaikan rasa itu ke manusia lain yang berkemampuan lebih untuk membantu.

Advertisements

One thought on “Absurd

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s