DIY

Kamis lalu saya bersama 4 orang kawan berkunjung ke salah satu dari dua daerah istimewa di Indonesia. Berangkat dari St. Kiaracondong di Bandung pada pukul 20.40. Naik KA Kahuripan di gerbong 5. Ini adalah pengalaman pertama saya berkunjung ke DIY. Saya memang tidak termasuk orang yang sering berpergian. Saya sangat penasaran dengan perjalanan kemarin. Yogyakarta menurut saya cukup unik. Dia daerah istimewa,dia mempunyai sultan. Ada Malioboro yang katanya sangat ramai. Yang paling baru saya suka dari Yogyakarta adalah JHF. Jogja Hiphop Foundation adalah kelompok pegiat seni yang menggabungkan hip hop dengan budaya jawa. Budaya Jawa disini artinya liriknya bahasa jawa,tema lagunya juga mengambil beberapa falsafah jawa. Terdapat juga penggunaan beberapa instrumen gamelan jawa yang saya tidak tahu apa namanya.Lagu yang paling terkenal setahu saya adalah 

yang berkisah tentang pilihan warga Yogyakarta yang ingin mempertahankan status istimewa mereka.

 

Eaaa..kebanyakan ngelanturnya. Di kereta kami mendapatkan tempat duduk di 19A 19B 19C 20C dan 21C. Ternyata posisi tersebut tidak memungkinkan untuk kita mengobrol sepanjang perjalanan. Kursi 21C terpisah dengan yang lain. Walhasil saya,yang mengalah untuk memisahkan diri di 21C diajak duduk berempat di 19 A-C. Tidak nyaman memang bagi saya duduk seperti itu,namun karena bukan saya yang meminta untuk duduk seperti itu dan yang lain tidak melancarkan protes maka saya pun menikmati saja ketidaknyamanan tersebut. Tidak banyak hal menarik yang terjadi sepanjang perjalanan dari Kiaracondong sampai kami memutuskan untuk tidur. Hanya sempat membeli sebuah buku TTS,membeli segelas kopi dan berganti posisi duduk dengan Anton. Satu hal lucu yang terjadi adalah ketika kereta berhenti entah di stasiun mana,datang penjual kalung,anting dan aksesoris yang tiba-tiba menggantung dagangannya di bagasi kami. Dia kemudian menatap wajah Zong dari dekat sembari berkata olaolaola berkali-kali. Saya awalnya mengira ini adalah salah satu bentuk praktik hipnotis. Saya kira olaolaola itu adalah semacam mantra yang akan membuat korban terlena,namun ternyata bukan. Pedagang tersebut hanya iseng mengerjai Zong,dia melihat Zong membaca beberapa lembar kertas dan langsung diketahui bahwa dia mahasiswa dan mahasiswa menurut pedagang tersebut pasti tidak akan membeli apapun maka oleh dia dikerjai. Setelah pedagang tersebut berlalu kita semua tertawa,lucu karena melihat air muka Zong yang nampaknya terkejut dan juga karena si pedagang wajahnya mirip salah seorang senior kami di jurusan. Sekitar pukul 12.30 saya minta Anton kembali ke kursinya dan saya hendak kencing. Saya lihat mata yang lain perlahan sudah mulai menutup makanya saya minta Anton kembali ke kursinya. Saya sendiri waktu itu tidak terpikir untuk tidur. Dan ketika melihat kursi 21C yang ternyata sudah dipakai tidur oleh penumpang lain,saya pun menjadi mantap untuk tidak tidur sekalian. Saya putuskan duduk di depan pintu keluar,sesekali berdiri. Di seberang saya lihat ada seorang bapak tertidur sambil menjaga televisi LCD yang dibelinya untuk keluarganya di Madiun. Dia tidur beralaskan koran dan menyewa dua buah bantal yang tarif satunya adalah 4000. Satu-satunya hal yang  mengganggu saya adalah bau asap rokok setiap orang yang menyempatkan untuk menghisap berbatang-batang rokok dalam perjalanan sepanjang sekitar 10 jam itu. Tapi ya sudahlah,kereta ekonomi. Ada penumpang yang tidur di lantai,banyak pedagang aneh bermunculan. Bukan hanya kopi dan popmie,tapi ada nasi ayam,telur asin,buah-buahan entah apa. Bagi saya yang baru pertama kali naik kereta ekonomi,semua itu wajar saja. Saya yakin saya sempat tertidur waktu duduk di depan pintu itu. Beberapa kali memeriksa telepon genggam dan melihat waktu berlalu lebih cepat daripada yang dirasakan. Ketika kereta berhenti di stasiun Kroya saya melihat pertandingan Liga Champions antara Bayern Munich melawan Real Madrid. Kebetulan pertandingan memasuki masa injury time dan tiba-tiba tim berseragam merah merayakan gol yang baru dicetak. Haha,ternyata Real Madrid kalah 2-1 di kandang Munich. Yah,saya cukup senang mengetahuinya karena di Bundesliga sudah hampir tidak ada harapan untuk merengkuh gelar. Tapi saya realistis saja,laga kedua di Bernabeu rasanya akan sulit untuk meloloskan Munich ke final di Allianz Arena. Walaupun dalam hati saya berharap final nanti adalah antara Bayern melawan Chelsea. Bosan rasanya melihat Barcelona melawan Madrid. Media berlebihan memberitakan setiap kali mereka bertemu,membuat saya muak. Seakan-akan klub lain di dunia tidak ada harganya. Saya akui menonton permainan mereka menarik. Tapi ketika dimuat berlebihan,itu seperti mengajak saya untuk muntah.

Satu hal yang menarik perhatian saya adalah ketika bapak dari Madiun mengobrol dengan sesama penumpang di kereta. Sebut saja bapak A,saya lupa namanya. Bapak A baru saja menikahkan anaknya yang perempuan. Pernikahan dilangsungkan di gereja. Bapak A seorang muslim namun anaknya memilih mengikuti agama suaminya. Bapak A memiliki pandangan bahwa ustad atau kyai zaman sekarang sudah tidak dapat dipercaya lagi. Dia mengambil contoh di daerahnya yang kyainya menyumbang dengan mencantumkan nama pada saat memberikan sumbangan. Dia merasa hal tersebut tidak pantas. Dia juga berpandangan bahwa pada dasarnya kyai atau ustad hanya masalah pengaruh,yang saya tangkap sebagai kharisma yang bisa mempengaruhi warga sekitarnya. Bukan masalah isi omongan,namun cara. Bapak dari Madiun membantahnya dengan cara yang saya sangat sukai. Dia mengatakan bukanlah menjadi masalah seorang kyai sekalipun mencantumkan nama pada saat dia menyumbang. Memang benar ada ungkapan tangan kanan memberi tangan kiri tidak tahu. Namun,hal tersebut tidak selamanya benar. Dengan posisi seseorang sebagai ulama,ada kalanya dia mengajak manusia kepada kebaikan dengan cara mencontohkan. Wow,rasanya ingin tepuk tangan atas pandangan tersebut. Benar sih,zaman sekarang tidak melulu kita senang mendengar ajakan belaka namun sesuatu yang dicontohkan. Ibaratnya,si kyai tersebut menginspirasi warga sekitarnya untuk menyumbang. Mengenai nikah beda agama,bapak dari Madiun menanggapinya dengan mengatakan bahwa pada saat seseorang memutuskan untuk keluar dari Islam,langsung putus hubungan dengan orang tuanya,tepat pada saat itu juga.  Sebenarnya urutan penceritaan ini terbalik hehe,awal mula obrolannya adalah soal nikah beda agama yang kemudian dilanjutkan kepada kyai di daerah bapak A. Selebihnya tidak ada lagi hal yang benar-benar menarik perhatian saya,sampai akhirnya Kahuripan tiba di Lempuyangan pukul enam pagi.

 

Tiba di Lempuyangan,foto-foto sebentar kemudian berjalan kaki ke tempat menginap. Kesan pertama saya terhadap Yogya adalah tertib dan nyaman. Hal yang saya tidak sukai adalah cuacanya yang panas bukan main. Saya yang terbiasa dengan cuaca di Bandung langsung kepayahan. Pagi itu sarapan gudeg di Malioboro,sepuluh ribu. Mahal juga rupanya,mengingat saya pernah makan gudeg di Bandung di dekat masjid Pusdai dan harganya di bawah sepuluh ribu untuk nasi dan lauk yang lebih banyak. Tapi sepertinya hal ini wajar karena daerah Malioboro merupakan salah satu daerah yang banyak didatangi wisatawan. Wajar harganya mengalami “penyesuaian”.

Kami menginap di penginapan bernama Puri. Satu malam tarifnya 70.000. Murah,kalau punya duit hehe. Kamar yang disewa ada dua sebab jumlah orangnya ada lima. Tapi pada malam hari tetap hanya satu kamar yang dipergunakan. Kasur di kamar yang lain dipindahkan ke kamar yang dipakai tidur. Setelah mandi dan sedikit meluruskan punggung kami pun berangkat mengunjungi situs yang diklaim sebagai salah satu keajaiban dunia. Menurut Ikbal,dia pribadi tidak berminat ke Borobudur sebab tidak ada hal yang menarik bagi dia. Namun karena saya dan Onta belum pernah berkunjung ke sana akhirnya kami pun ke sana. Dari penginapan kami naik Trans Yogya ke arah Terminal Jombor,saya lupa berapa kali berganti bis sebelum tiba di Jombor. Bisnya menurut saya sangat nyaman. AC berfungsi dengan baik,cukup untuk mengatasi udara panas kota pelajar,kapasitas bis pun dimanfaatkan sebaik-baiknya. Tidak seperti Trans Jakarta yang dimanfaatkan semaksimal mungkin,sampai sulit bergerak. Sepanjang perjalanan dari Jombor sampai Borobudur saya hanya tidur. Biasanya saya akan melihat-lihat pemandangan di kiri kanan jalan namun kali ini saya menyerah oleh panas dan rasa letih. Berjalan kaki sebentar dari tempat bis berhenti sampai ke pintu masuk candi. Panasnya bukan main. Biaya masuk ke Borobudur adalah 30.000 rupiah. Untung Ikbal bersedia membayari tiket masuk saya. Di dalam komplek candi kami hanya foto-foto. Saya tidak mengerti apa saja makna relief yang ada pada bangunan candi. Hanya ingat istilah Arupadhatu,Kamadhatu. Tapi tidak ingat apa yang mana,maknanya apa. Murni hanya melihat-lihat. Sedikit sedih melihat banyak bagian candi yang sudah diganti dengan batu lain sehingga bentuk reliefnya jadi rusak. Saya baru tahu ternyata Sir Raffles adalah orang yang mengawali pencarian terhadap Borobudur. Setelah itu beberapa kali bangunan mengalami pemugaran. Saya juga baru tahu ternyata Borobudur pernah terkubur oleh abu Merapi akibat letusan di tahun 1800an.

Sekitar pukul 1 siang diputuskan untuk menyudahi kunjungan ke Borobudur dan beristirahat sejenak di balai-balai di dalam sana. Pada saat kami tidur-tiduran,kami berpapasan dengan mahasiswi STP Enhai yang meminta tolong untuk mengisi survei tentang pelayanan di Borobudur. Setelah merasa cukup berbaringnya,kami pun shalat Zuhur,airnya terasa sangat tidak segar dibanding air di Bandung. Keluar dari komplek candi sekitar pukul 13.30 dan kami pun memutuskan untuk langsung kembali ke penginapan akibat terlalu lelah menahan panas terik. Di perjalanan saya melihat ternyata di beberapa daerah hari itu telah mengalami hujan. Kami memutuskan makan di KFC di sebuah mal di Malioboro. Begitu masuk,rasanya nikmat banget. Adem. Jam lima sore keluar dari mal dan kembali ke penginapan. Perjalanan akan dilanjutkan setelah magrib ketika udaranya lebih sejuk. Anton pergi menemui temannya di UGM,Ikbal menemani istri dan anaknya belanja. Oh ia,anaknya yang pertama sungguh tidak bisa diam. Lincah banget,membuat saya cuma bisa geleng-geleng melihat kelakuannya. Seakan-akan energinya nggak habis-habis. Istri dan anak Ikbal menemani kami pada saat perjalanan pagi hari dari penginapan menuju Jombor. Sepanjang perjalanan itu ada saja tingkah si Faris dan ocehannya yang membuat ibunya kerepotan. Saya malah terpikir untuk tidak mempunyai anak sekalian kalau melihat tingkah Faris. Eh tapi kalau calon ibunya ada dulu ya hahahaha.

Jam enam sore Ikbal dan Anton kembali. Kami yang di penginapan pulas tertidur di kamar. Kami pun kembali mandi karena baju basah kuyup dan kulit pun rasanya lengket. Semua orang selesai mandi kami kemudian diajak ke alun-alun selatan. Jalan kaki dari Malioboro,kami pertama kali tiba di alun-alun utara yang sepi dari manusia. Hanya ada beberapa pasang manusia yang berpacaran di atas motor. Kami berputar-putar di area keraton karena Ikbal ternyata juga tidak terlalu hafal jalanan di dalam sana. Lama kami berjalan kaki,untungnya udaranya lebih bersahabat ketimbang siang harinya. Rupanya kenapa kami pergi ke alun-alun selatan adalah karena ingin mencoba membuktikan sebuah mitos,atau mungkin membantahnya. Konon katanya di alun-alun selatan ada sepasang pohon beringin yang katanya kita tidak akan bisa berjalan lurus ke arahnya apabila kita berjalan dalam keadaan mata tertutup. Tadinya ingin mencobanya,namun hujan sore itu membuat tanah di sana menjadi becek dan terdapat genangan. Sayang sekali. Kami hanya duduk sebentar di alun-alun selatan menikmati suasana kota di malam hari yang tanpa gedung pencakar langit. Eksotis menurutku. Ikbal dan Zong memesan wedang ronde,saya sih tidak berminat. Rasanya aneh di lidah,terakhir kali mencoba waktu itu di Kiosk Dago ketika Rilekser berkumpul untuk buka puasa bareng pada Ramadhan tahun lalu. Pulang dari alun-alun selatan,kami kembali berjalan kaki. Lumayan juga perjalanannya kalau dipikir-pikir,berangkat jam 7 malam dan kami baru kembali jam 11 malam. Oh,saya sangat suka keadaan Malioboro waktu kami berangkat. Indah banget. Ada pengamen,banyak orang lalu lalang,lampu kota yang cahayanya tidak terlalu terang namun cukup untuk memberikan penerangan di jalan-jalan,segala macam pedagang pakaian,makanan,tumpah ruah di jalanan. Tiba di penginapan perut masih keroncongan,masih ingin mencari makanan. Tapi di sekitar penginapan nggak ada penjual nasi goreng atau sate yang lewat menjajakan dagangannya. Akhirnya kami keluar lagi mencari makanan. Untunglah masih ada warung nasi goreng yang buka. Ikbal memesan nasgor,Zong dan Onta memesan mi ayam sedangkan saya cukup kopi susu saja. Nggak lapar hanya haus. Menunggu makanan dihidangkan semuanya hanya bisa diam,berusaha melawan kantuk.Keluarga penjual nasi goreng ini sepertinya hanya ada tiga orang. Anaknya perempuan,mungkin usianya sekitar 20-25 tahun,entahlah saya bukan orang yang pandai menaksir usia seseorang dari tampilan fisiknya. Bapaknya bekerja menambal ban di dekat warung nasi goreng tersebut sementara ibunya mengerjakan tugas memasak hidangan yang akan dijual. Usia si bapak tebakan saya di atas 50 tahun. Usia yang dalam benak saya seharusnya adalah waktu untuk beristirahat di tempat yang sejuk,nyaman dan bukan bertarung mempertahankan hidup.  Tapi ya itulah kerasnya hidup,tidak semua manusia akan menikmati hari tua dengan tenang.

Perut kenyang,kami pun kembali ke penginapan dengan satu tekad yaitu tidur. Hanya Zong yang berusaha untuk bertahan terjaga sampai pertandingan Chelsea melawan Barcelona ditayangkan. Saya sih sudah menyerah lebih dulu sekitar pukul 12 malam. Kasur empuk ditambah angin dari kipas membuat saya lelap tertidur sampai esok harinya bangun sekitar jam 8 pagi. Sekitar jam 9 kurang kami baru siap untuk melanjutkan pelancongan. Setelah diskusi singkat yang nggak jelas alurnya,diputuskan untuk pergi ke Taman Sari yang dulunya merupakan tempat pemandian raja dan selir-selirnya.Biaya masuknya 3000 rupiah,untunglah tidak semahal Borobudur. Sayangnya,kolam pemandiannya tidak boleh dipergunakan lagi. Padahal saya penasaran bagaimana rasanya mandi di pemandian kolam terbuka seperti itu. Eh tapi mungkin sama saja dengan berenang di kolam renang sabuga. Air di kolamnya berwarna hijau,terlalu banyak lumutnya. Melihat bangunan di dalamnya,lagi-lagi sedih. Tembok bangunannya tidak terawat,banyak alay sialan yang menulis di tembok bangunannya. Bahkan ada alay tolol dari Thailand dan Jepang yang ikut menyumbangkan bukti ketololan pada tembok bangunan. Mungkin mereka pikir tembok bangunan adalah semacam buku tamu yang etikanya adalah harus diisi sebagai penanda bahwa mereka pernah datang. Sekalian saja kencingi itu tembok biar seperti anjing kalian. Di dalam Taman Sari ternyata bukan hanya ada pemandian tetapi juga lorong-lorong yang konon merupakan jalur pelarian pada zaman perang kemerdekaan. Saat ini sih kalau menurut pengamatan saya sudah tidak lagi dipergunakan,hanya ada pengemis dan sepasang pengamen di dalamnya. Terdapat juga tempat shalat di dalam sana. Yang lucu ketika di sini adalah adanya pemandu wisata dadakan yang tiba-tiba mendekat dan bercerita macam-macam. Saya yang merupakan anak kemarin sore dalam hal perjalanan wisata hanya berusaha sopan dan mendengar cerita si bapak tanpa menyadari bahwa kelak akan dimintai uang sebagai ganti beliau memberikan keterangan macam-macam. Ya sudahlah,berbagi rezeki dengan penduduk lokal buatku bukan masalah. Yang menjadi gangguan adalah caranya yang tiba-tiba mengajak berbicara itu,saya jujur saja tidak bisa melawan hal seperti itu.

Selesai mengelilingi daerah Taman Sari,kami pun memutuskan untuk makan. Tujuan kami adalah Spesial Sambal. Rumah makan yang menyediakan berbagai jenis sambal. Dulu di Bandung masih ada rumah makan tersebut,namun dua atau tiga tahun lalu rumah makan tersebut tutup. Total kami membeli makanan dan minuman seharga seratus ribu rupiah. Ada 5 macam jenis sambal yang kami coba,saya sudah lupa apa saja. Sambalnya memang enak semua,baik yang menggunakan cabai hijau maupun yang memakai cabai merah. Yang pasti,bagi saya cabai hijau jauh lebih pedas. Onta adalah yang pertama kali menyerah hahaha,dia bukan orang yang mampu makan makanan yang pedas. Dia bahkan memesan sambalnya supaya jangan terlalu pedas hahaha. Kami memesan minuman masing-masing minimal dua gelas. Udara panas ditambah pedasnya sambal membuat lidah rasanya ingin diberi es saja. Selesai makan,leyeh-leyeh dulu menikmati semilir angin dan hentakan lagu Sistar dari pengeras suara di SS. Kaget juga,kok bisa lagunya yang diputar seperti ini. Jam 3 sore kami pergi dari SS dengan tujuan ke pasar buku bekas di Taman Budaya di dekat pasar Beringharjo. Saya penasaran ingin melihat seperti apa buku di sana. Lumayanlah dapat sebuah buku karya Edward Said yang judulnya Covering Islam,masih sambungan dari Orientalism yang sampai saat ini belum selesai dibaca karena masih berbentuk ebook. Kalau ada duit lebih sih,saya pasti belanja banyak buku. Banyak buku yang membuat mata saya lapar hahaha. Terutama buku yang berhubungan dengan kebudayaan Jawa,kehidupan keraton dan dunia pewayangan. Yang membuat saya terkejut adalah tumpukan skripsi yang dijual bebas disana. Saya baru tahu kalau skripsi bisa dijual seperti itu,jasa pembuatan skripsi saya sudah pernah dengar,nah kalau jasa penjualan skripsi baru kali ini saya melihatnya. Dari pasar buku bekas itu,kami melanjutkan ke mal yang kemarin didatangi untuk membeli KFC. Kami menunggu hingga magrib untuk pergi ke stasiun. Menunggu di mal dipilih karena hawanya sejuk dan juga karena Ikbal hendak mencari pakaian sebab besoknya dia harus menjalani wawancara di Jakarta. Kami yang menunggu di foodcourt membeli kentang goreng dan cola. Sambil menunggu kami membicarakan beberapa hal,mulai dari kemampuan wanita dalam mengendarai kendaraan,soal himpunan,dan lain-lain. Detailnya lupa namun yang paling saya ingat adalah ketika saya bertanya” Eh,cowok itu gampang suka sama cewek nggak sih? ” Sontak dua orang mengangguk,sisanya terdiam. Saya hanya tertawa,menyadari bahwa ternyata bukan saya saja yang seperti itu. Setelah shalat magrib dan menelan liur ketika melewati Periplus dan Gramedia kami berempat pergi ke Lempuyangan sedangkan Ikbal pergi ke Tugu. Dia harus berada di tempat wawancara pada pukul 9 pagi dan oleh sebab itu dia menaiki kereta yang berbeda. Kali ini kami mendapat posisi yang bagus. Bisa mengobrol dengan nyaman berhadap-hadapan. Kami pun memanfaatkannya dengan mengobrol dari sejak kereta berangkat sampai kereta berhenti di Banjar seingatku. Di Banjar berhenti cukup lama,membuat suasana menjadi senyap dan kantuk pun tidak tertahankan lagi.

Kami membicarakan lagi-lagi soal himpunan,yah maklumlah ada penunggu sekre,ada mantan keton,ada mantan pengurus,mantan DPM. Jadi obrolan yang paling mudah adalah seputar itu. Kami berbagi pandangan tentang bagaimana keadaan pengurus sekarang. Bagaimana H* sekarang. Bercerita tentang kebusukan pendidikan di Indonesia pada saat UAN.Tentang keadaan bangsa ini yang masih saja menyedihkan,memang kami tidak mampu berbuat banyak untuk melakukan perubahan. Tapi setidaknya proses pembangunan kesadaran ke arah yang lebih baik harus terus dipupuk. Ada beberapa hal yang masih bisa saya ingat. Yang pertama ketika ada sebuah rahasia yang diceritakan. Di sana saya agak terkejut,saya pikir wow. Manusia ini,sungguh sangat rumit. Sulit untuk bisa memahami satu orang saja. Orang yang saya pikir saya sudah cukup memahaminya ternyata salah besar hahaha. Hal kedua yang menarik adalah ketika saya melempar pertanyaan terkait bagaimanakah cara agama Islam disebarkan. Zaman sekarangketika informasi sangat mudah disebarkan dari satu tempat ke tempat lainnya,rasanya tidak perlu lagi melakukan dakwah yang panjang dan lebar. Saya juga bertanya kenapa khutbah jumat hanya bersifat searah dan bukan diskusi yang menurutku lebih menarik. Kembali ke masalah penyebarluasan agama Islam,Anton berkata bahwa sebenarnya Islam disebarkan bukan dengan cara dakwah yang kental nuansa doktrinasinya tapi dengan jalan memberikan contoh. Bagaimana orang Islam memperlakukan tamu,berbicara,berpakaian,beribadah,dan lainnya. Saya jujur saja suka jawaban itu,dan sedikit banyak berkaitan dengan obrolan di kereta pada saat kami berangkat. Tentang khutbah jumat,konon dulunya khutbah tidaklah menggunakan waktu yang lama,namun karena suatu sebab yang sekarang saya sudah lupa,menjadi lama. Beragama itu seharusnya mudah,ketika beragama menyulitkan maka bagi saya sia-sia agama itu ada. Obrolan kami malam itu tidak menyinggung soal percintaan,mungkin karena malam pada perjalanan dari Bandung kami sudah sedikit menyinggungnya. Lagipula takut topiknya menyinggung pihak tertentu sih hahaha. Sekitar jam 7 pagi kami tiba di Kiaracondong.

Dan berakhirlah sudah perjalanan kali ini.  Memang jujur saja kurang puas mendatangi tempat wisatanya. Saya pribadi lupa bahwa di Yogya banyak toko buku,seharusnya sebelum ke sana mencari info terlebih dulu dari Goodreads. Lain kali harus lebih siap. Tapi yang pasti saya puas mengeksplor otak masing-masing peserta perjalanan kali ini. Saya tidak banyak bicara seperti biasa,tapi saya senang mendengar mereka mengungkapkan isi kepala mereka.
Hatur nuhun ATJ,DAW,FAA,IN. 😀 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s