Ikhlas

Apakah artinya ikhlas? Jujur saya sering menduga diri saya bukan orang yang mudah mengikhlaskan sesuatu. Konsep ikhlas termudah yang bisa saya pahami adalah tentang orang buang air besar yang sama sekali tidak memikirkan lagi akan ke mana si kotoran itu berujung, lewat mana saja si kotoran hingga tiba di ujung pembuangan. Ada perasaan lega yang terkandung di dalamnya. Mungkin lega telah menunaikan hak si badan yang perlu melepaskan sisa proses pengolahan di dalam tubuh. Selebihnya, saya belum berhasil memahami apa hakikat ikhlas. Baik dari segi agama, bahasa, maupun norma-norma yang berlaku di masyarakat.

Kira-kira beberapa bulan lalu ketika mengikuti ibadah shalat Jumat di sebuah masjid, khatibnya membicarakan tentang ikhlas. Ikhlas menurut dia adalah mirip dengan konsep yang sudah saya pahami, namun penjelasan dia ditambah perumpamaan yang lebih konkrit. Ikhlas itu memiliki makna ketika saya sudah memberikan sebuah buku kepada kawan, maka saya tidak akan peduli lagi apa yang kawan saya lakukan terhadap buku tersebut. Saya tidak akan bertanya sudah membaca sampai di halaman berapa dia, apa kesan yang dia dapatkan setelah membaca buku pemberian saya, atau malah justru bukunya dijual lagi ke pedagang loak. Jika seperti ini, saya jujur saja sulit menerapkannya. Saya sering berpikir. Saya terkadang membayangkan. Dan yang tersulit adalah karena saya masih mempunyai “perasaan” yang tidak wajar terhadap kumpulan tulisan yang menjadi buku. Tapi untuk benda lain, saya malah sepertinya tidak punya kepedulian sama sekali.

Apabila saya mencoba mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari yang di mata saya semakin menuntut kehati-hatian, saya jadi mentok. Bagaimana mungkin saya mempertanyakan lari kemana uang sumbangan yang saya niatkan untuk korban peperangan dan bencana alam misalnya? Zaman sekarang, ada saja kelompok yang berusaha memanfaatkan kesempatan di dalam kesempitan, berpura-pura menjadi lembaga penyalur bantuan padahal semata-mata mengeruk keuntungan untuk kelompoknya saja.

Pertanyaan saya pada akhirnya adalah memang seperti apakah bentuk ikhlas? Apakah ketika saya memberikan buku, saya cukup sampai di memberi tanpa peduli lagi hendak dibakarkah buku pemberian saya tersebut? Ataukah untuk hal-hal tertentu ada yang perlu diketahui perjalanannya dan ada yang tidak?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s