Menjadi Manusia Indonesia

Buku ini pada intinya membahas tentang betapa kuat sistem, betapa kencang massa mengendalikan individu. Manusia menjadi ‘hilang’ di depan sistem yang menggurita dan tidak hanya mengarahkan, membimbing, menuntun tanpa memberikan si manusia kemampuan untuk menjalankan pilihannya sendiri.
Hilang, dalam bahasa Radhar Panca Dahana adalah seperti ini. Ketika kita memungut serpihan kaca untuk kembali menyusunnya, maka retakan-retakan yang terdapat di dalam kaca itu melambangkan masa lalu yang tidak pernah ada dalam ingatan meskipun sebenarnya dia ada. Selamanya, sampai akhir hayat tidak akan pernah lengkap. Jika saya mencoba mengingat diri saya sendiri, saya jujur saja tidak ingat kapan pertama kali kencing di celana, apa kata pertama yang keluar dari mulut saya, ke mana saja saya digendong oleh ibu saya ketika balita.
Penulis sendiri sepertinya tidak meyakini keberadaan ‘masa kini’. Bagi dia, masa kini yang sering dibicarakan pada dasarnya merupakan sebuah waktu di masa depan yang akan dalam sekejap menjadi masa lalu setelah kejadian tersebut berlangsung.

Setelah membaca buku ini, sepertinya Gus Dur merupakan panutan penulis. Di beberapa tulisan, terutama di bagian kedua yang menyoroti tarik ulur kekuatan pada saat suksesi setelah BJ Habibie ditolak laporannya oleh MPR ketika itu, Gus Dur didaulat sebagai aktor pembawa perubahan ke arah terang. Gus Dur digambarkan sebagai provokator yang lincah bermain kata-kata dalam melontarkan kritikan terhadap siapa pun tanpa pandang bulu,termasuk terhadap kelompoknya sendiri. Gus Dur dipuji sebagai sosok kiai yang berani mendobrak kebiasaan lama ketika dia maju dalam pencalonan presiden dengan tidak menghiraukan pendapat beberapa kiai dari Kelompok Langitan yang tidak merestui Gus Dur menjadi calon presiden. Gus Dur disebut bergerak dengan kecepatan yang jauh di atas masyarakat Indonesia pada umumnya sehingga banyak yang terkejut menyikapi pernyataan dan tingkah laku dia selama memangku tugas presiden. Bagi yang telah mengenal Gus Dur sejak dia menjadi ketua DKJ, aksi-aksi Gus Dur bukan lagi hal yang asing.

Satu hal yang saya sayangkan adalah isi bukunya yang lebih banyak membicarakan Jawa. Di bagian akhir yang bertajuk ‘Jejak yang Berserak’, dari 15 judul hanya ada 4 yang membicarakan suku selain ‘Jawa’ . Mungkin sedikit banyak ego saya sebagai orang yang menumpang lahir di Wajo meminta porsi juga dalam hal disoroti sebagai Indonesia. Ah tapi ada berapa banyak suku di Indonesia yang membentuk negara ini? Ego kesukuan semestinya ditempatkan sesudah kebangsaan.

Pada akhirnya, memang buku ini mengungkapkan keresahan dari sebuah generasi¬†yang lahir dan besar di era modern. Era dimana seseorang akan mudah menjawab pertanyaan kecuali satu ” Siapa saya”. Sesuatu yang sampai saat ini masih menghantui diri saya sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s