Eksistensialisme adalah Humanisme (2)

Hal ini akan membantu kita dalam memahami apa yang dimaksud sebagai – mungkin dengan kata yang agak muluk – kesedihan mendalam, keterabaian, dan putus asa. Seperti yang anda dapat segera saksikan, sebenarnya sederhana saja. Pertama, apa yang dimaksud dengan kesedihan mendalam? – Para eksistensialis sebenarnya telah menyatakan bahwa manusia dalam kesedihan mendalam. Maksudnya adalah sebagai berikut: Ketika seorang manusia menyerahkan dirinya untuk menjalani sesuatu, dengan penuh kesadaran mengetahui bahwa dia bukan semata-mata memilih akan menjadi apa yang dia inginkan, namun lebih dari itu juga pada saat yang sama merupakan pembuat peraturan yang menentukan keseluruhan umat manusia – pada saat tersebut seorang manusia tidak dapat melepaskan diri dari rasa tanggung jawab yang sempurna dan mendalam. Tentu saja terdapat banyak orang yang tidak mengalami kegelisahan tersebut. Tapi dapat kita nyatakan dengan tegas bahwa mereka hanya menyamarkan kesedihan mereka atau sedang berusaha lari darinya. Dan tentunya, banyak orang berpikir bahwa dalam melakukan sesuatu, mereka menjalaninya hanya untuk diri mereka sendiri: dan jika ditanyakan kepada mereka, “Apa yang akan terjadi jika setiap orang berlaku serupa?” mereka akan mengangkat bahu seraya membalas,” Tidak semua seperti itu.” Namun pada kenyataannya, seorang seharusnya selalu bertanya pada dirinya sendiri apa yang akan terjadi jika semua orang melakukan hal yang sama dengannya; dan seorang tidak akan bisa lepas dari pikiran mengganggu tersebut kecuali dengan cara menipu diri sendiri. Manusia yang bersandar pada pemakluman diri sendiri, dengan mengatakan ” Semua orang tidak akan melakukannya” pasti ketenangan batin di dalam dirinya sedang sakit, sebab dengan melakukan kebohongan menandai keberadaan nilai universal yang sedang dia tolak. Melalui penyamarannya sendiri si kesedihan itu terungkap. Kesedihan inilah yang oleh Kierkegaard disebut sebagai ” Kesedihan mendalam Ibrahim.’ Anda tahun ceritanya” Seorang malaikat memerintahkan Ibrahim untuk mengorbankan anak laki-lakinya; dan kepatuhan adalah sebuah yang kewajiban, jika memang benar adalah seorang malaikat yang hadir dan berkata, ” Kamu, Ibrahim, hendaklah mengorbankan anakmu.” Namun siapapun pada kasus tersebut akan bertanya-tanya, pertama, apakah memang benar yang tadi merupakan malaikat dan kedua, apakah saya benar-benar Ibrahim. Di mana bukti-buktinya? Seorang wanita gila yang menderita halusinasi berkata bahwa orang-orang sedang menelepon dia dan memberinya perintah-perintah. Sang dokter bertanya, ” Namun siapa yang berbicara kepadamu?” Dia membalas: ” Dia mengatakan dia adalah Tuhan.” Dan pada intinya, hal apa yang dapat membuktikan bahwa yang berbicara dengannya adalah benar-benar Tuhan? Jika malaikat datang kepada saya, apa bukti bahwa itu adalah malaikat; atau, jika saya mendengar suara-suara, siapa yang dapat membuktikan bahwa suara tersebut datang dari surga dan bukan malah neraka, atau mungkin dari alam bawah sadar saya atau merupakan sebuah gejala penyakit? Siapa yang dapat membuktikan bahwa hal tersebut memang dialamatkan kepada saya?

Dengan demikian, siapa yang dapat membuktikan bahwa saya adalah orang yang tepat untuk menentukan, dengan pilihan saya sendiri, konsepsi saya tentang manusia sebagai bagian dari umat manusia? Saya tidak akan pernah mendapatkan satu buktipun; tidak akan pernah ada tanda yang sanggup meyakinkan saya. Jika ada suara berbicara kepada saya, itu masih merupakan diri saya sendiri yang harus memutuskan apakah suara tersebut adalah malaikat atau bukan. Jika saya meyakini sebuah rangkaian tindakan adalah baik, hanya diri saya sendiri yang dapat meyakini bahwa itu adalah baik dan bukan justru buruk. Tidak ada hal yang dapat menunjukkan bahwa saya adalah Ibrahim: meskipun demikian saya tetap memiliki kewajiban untk melakukan perbuatan-perbuatan sebagai sebuah suri tauladan. Semua hal terjadi kepada setiap manusia seakan-akan mata seluruh umat manusia tertuju kepada apa yang akan dia lakukan mengaturnya supaya berjalan dengan benar. Sehingga setiap orang seharusnya mengatakan, “Apakah saya benar-benar merupakan manusia yang memiliki hak untuk bertindak menurut aturan tertentu di mana kemanusiaan mengatur dirinya berdasarkan apa yang saya lakukan.” Jika seorang manusia tidak mengatakan hal tersebut, maka berarti dia menyembunyikan kesedihannya. Jelas sekali bahwa kesedihan yang sedang kita bicarakan bukan sesuatu yang dapat mengarahkan kita kepada kepasifan atau berpangku tangan. Dia merupakan kesedihan yang murni dan sederhana, sebuah kesedihan yang diketahui oleh setiap orang yang pernah memikul tanggung jawab. Sebagai contoh misalnya apabila seorang pimpinan militer berkata bahwa dia bertanggung jawab atas sebuah serangan dan dengannya mengirim beberapa orang menuju kematian, dia memilih untuk melakukannya dan pada dasarnya dia sendiri yang mengambil pilihan. Tidak diragukan lagi bahwa dia di bawah komando yang lebih tinggi, namun perintahnya, yang sifatnya lebih umum, membutuhkan pemahaman dari dirinya sendiri dan pada pemahaman itu bersandar hidup dari sepuluh, dua puluh, atau ratusan orang. Dalam mengambil keputusan, dia tidak bisa tidak merasakan sebuah kesedihan. Setiap pimpinan mengetahui kesedihan tersebut. Kesedihan tersebut tidak mencegah mereka mengambil tindakan, justru sebaliknya merupakan keadaan dari tindakan mereka, sebab tindakan tersebut mempunyai banyak asumsi kemungkinan akibat, dan dengan memilih salah satu darinya, mereka menyadari bahwa terdapat nilai di dalamnya karena pilihan itulah yang telah diambil. Dan inilah kesedihan yang dijelaskan oleh eksistensialisme, lebih jauh lagi, kita akan sama-sama lihat, menjadi tersurat melalui tanggung jawab langsung kepada semua orang yang ikut merasakan. Jauh dari sebuah layar yang membatasi kita dari tindakan, justru merupakan keadaan dari tindakan itu sendiri.

Ketika kita membicarakan “pengabaian” – kata paling disukai Heidegger – kita hanya bermaksud mengatakan bahwa Tuhan tidak ada, dan adalah penting untuk menarik konsekuensi tadi ketidakhadira Tuhan hingga ke paling ujung. Eksistensialis dengan gigih menolak sebuah jenis moralitas sekuler yang berusaha menekan Tuhan dengan usaha yang paling minimum. Menjelang 1880, ketika para professor dari Perancis mencoba memformulasikan sebuah moralitas sekuler, mereka berkata seperti ini: Tuhan adalah hipotesis yang tidak berguna dan mahal, sehingga kita akan berjalan tanpa Tuhan. Meskipun begitu, jika kita ingin memiliki moralitas, sebuah masyarakat dan dunia yang taat hukum, adalah esensial bahwa beberapa nilai harus dijalankan dengan serius; mereka harus memiliki keberadaan yang bersifat apriori. Kita harus memandang wajib untuk menjadi jujur, tidak berbohong, tidak menyakiti istri kita, untuk mendukung anak-anak dan banyak lagi lainnya; sehingga kita akan melakukan sedikit pekerjaan bada bagian ini, yang nantinya akan membuat kita mampu memperlihatkan bahwa nilai-nilai tersebut pada dasarnya ada, telah tercantum dalam ranah yang dapat dipahami, meskipun, tentu saja dengan tidak ada Tuhan. Dengan kata lain – dan ini, saya yakin adalah inti dari apa yang kami di Prancis sering sebut radikalisme – tidak akan ada yang berubah seandainya Tuhan tidak ada; kita akan menemukan norma yang sama tentang kejujuran, kemajuan dan kemanusiaan, dan kita akan menyingkirkan Tuhan sebagai hipotesis yang ketinggalan zaman dan dengan sendirinya mati dalam kesepiannya. Eksistensialis, justru sebaliknya mendapati bahwa hal ketiadaan Tuhan adalah sangat memalukan, sebab dengan enyahnya Tuhan, lenyap pula bersama-Nya segala kemungkinan untuk mencari nilai di dalam ranah yang dapat dimengerti. Tidak akan ada lagi apriori yang baik, sebab tidak ada lagi ketakterhinggaan dan kesadaran sempurna untuk memikirkannya. Tidak tertulis di manapun bahwa ” yang baik” adalah ada, bahwa setiap orang harus jujur atau tidak boleh berdusta, sebab kita sekarang berada di dalam kerangka yang hanya berisi manusia. Dostoevsky pernah menulis: ” Jika Tuhan tidak ada, maka semua hal akan diperbolehkan”; dan itu, bagi eksistensialis, merupakan titik permulaan. Semua hal menjadi boleh jika Tuhan tiada, dan manusia berada pada konsekuensi menyedihkan, sebab dia tidak mampu lagi mencari tumpuan baik yang berada di dalam maupun di luar dirinya sendiri. Dia dengan segera mendapati, bahwa dia adalah tanpa permaafan. Sebab jika memang benar eksistensi mendahului esensi, seseorang tidak akan pernah bisa menjelaskan tindakan-tindakannya mengacu kepada sifat alamiah manusia yang spesifik; dengan kata lain, tidak ada determinisme –manusia adalah bebas, manusia adalah kebebasan. Dan di sisi lain, jika Tuhan tidak ada, maka kita diberikan sembarang nilai-nilai atau perintah-perintah yang dapat memperkenankan perilaku kita. Sehingga kita tidak memiliki baik di belakang maupun di hadapan kita sebuah dunia nilai yang berkilauan, atau pembenaran atau sebuah pemakluman. – Kita tinggal sendiri, tanpa sebuah kecuali. Ini adalah yang saya maksud ketika mengatakan bahwa manusia dikutuk untuk menjadi bebas. Dikutuk, sebab dia tidak menciptakan dirinya sendiri, namun demikian tetap pada kebebasan, dan dari saat dia dilemparkan ke dunia, dia bertanggung jawab atas setiap tindakan yang dia lakukan.Eksistensialis tidak percaya kepada kekuatan dari hasrat. Dia tidak akan pernah melihat hasrat yang besar sebagai gelombang yang menghancurkan yang di mana manusia akan tersapu menuju perbuatan seakan-akan oleh takdir, dan yang nantinya akan menjadi pemaklumannya. Dia berpikir bahwa manusia bertanggung jawab atas hasratnya. Dia juga tidak akan berpikir bahwa manusia dapat mencari pertolongan melalui sejenis tanda yang diberikan ke bumi berdasarkan orientasinya: sebab dia berpikir manusia akan mengartikan tanda tersebut seperti yang dia inginkan. Dia berpikir bahwa setiap manusia, tanpa dukungan atau bantuan apapun adalah dikutuk pada setiap waktu untuk menciptakan manusia. Seperti yang pernah ditulis Ponge dalam sebuah artikel,” Manusia adalah masa depan manusia.” Itu adalah sangat benar. Hanya jika seorang melihat ini dan mengartikannya bahwa masa depan terletak di Surga, bahwa Tuhan mengetahuinya, maka ini menjadi salah sebab tidak akan ada lagi yang disebut masa depan. Namun jika, ini berarti bahwa tampak sebagai apa pun manusia sekarang, terdapat masa depan untuk diciptakan, sebuah masa depan yang terbuka masih menantinya – maka ini adalah benar. Tetapi yang di masa sekarang sedang dilupakan.

Sebagai contoh supaya anda lebih mantap memahami keadaan pengabaian ini, saya akan mengambil kasus seorang murid saya, yang dulu mencari saya dalam kondisi seperti berikut. Ayah dia telah bertengkar dengan ibunya dan juga dituduh sebagai “kolaborator”; kakak dia yang tertua telah terbunuh pada tahun 1940 ketika Jerman menyerang dan si anak muda ini, dengan sebuah sentimen yang primitif namun baik hati, dibakar api dendam yang membara untuk membalas kematian kakaknya. Ibunya tinggal berdua dengan dia, sangat tersakiti oleh separuh pengkhianatan yang ayahnya lakukan dan oleh kematian anak laki-lakinya yang pertama, dan sebagai hiburan dirinya hanyalah si anak muda ini. Namun dia, pada saat ini, memiliki pilihan antar pergi ke Inggris untuk bergabung dengan Pasukan Prancis Merdeka atau tinggal di dekat ibunya dan membantunya bertahan hidup. Dia menyadari sepenuhnya bahwa perempuan ini hanya hidup untuk anaknya dan kepergian dia – atau mungkin kematian dia – akan menjerumuskan dia kepada keputusasaan. Dia juga menyadari, dengan konkrit dan berdasarkan fakta-fakta, setiap tindakan yang dia kerjakan berdasarkan diri ibunya adalah merupakan efek dari perasaannya yang ingin membantu ibunya bertahan hidup, yangakhirnya menyebabkan semua tindakan yang dia lakukan untuk pergo bertarung akan menjadi perbuatan yang ambigu dan mungkin akan hilang layaknya air pada pasir dan tidak memiliki arti apapun. Sebagai contoh, untuk pergi ke Inggris dia harus menanti dalam batas waktu yang tidak jelas di sebuah kamp di Spanyol dalam perjalanan melalui Spanyol; atau, ketika tiba di Inggris atau di Aljazair dia mungkin akan ditempatkan di sebuah kantor untuk mengurusi berkas-berkas. Sebagai konsekuensi, dia mendapati dirinya di antara dua pilihan tindakan yang jauh berbeda; yang konkrit, segara, tapi tertuju langsung kepada satu individu; di sisi lain tindakannya dialamatkan kepada sesuatu yang lebih besar, kolektifitas nasional, namun untuk alasan yang sangat ambigu tersebut – dan dapat saja dia menjadi frustrasi dalam perjalanannya. Pada saat yang sama, dia dalam keraguan antara dua jenis moralitas; pada satu sisi moralitas simpati, tentang pengabdian personal, dan di sisi lain, moralitas yang cakupannya lebih luas namun dengan validitas yang dapat diperdebatkan. Dia harus memilih dia antar kedua hal tersebut. Apa yang dapat membantu dia mengambil pilihan? Doktrin iman Kristiani? Tidak. Doktrin Kristiani berkata: Bertindaklah dengan kemurahan hati, cintai tetanggamu, tolak dirimu demi orang lain, pilih jalan yang tersulit, dan seterusnya. Namun yang manakah jalan yang tersulit? Kepada siapakah orang yang memiliki cinta yang lebih besar, sang patriot atau sang ibu? Apakah sasaran yang lebih bermanfaat, bertarung demi masyarakat dan seluruh komunitas yang sifatnya lebih umum, atau sasaran yang lebih jitu dengan membantu satu orang tertentu untuk hidup? Siapa yang dapat menjawab pertanyaan sulit ini? Tidak ada. Tidak juga di dalam naskah-naskah yang membahas etika. Etika Kantian mengatakan, ” Jangan pernah memandang orang lain sebagai cara, tetapi selalu sebagai tujuan.” Baiklah; jika saya pilih tetap dengan ibu saya, saya akan memandang dia sebagai tujuan dan bukan sebuah cara: tapi dengan tanda yang sama saya berada dalam bahaya memperlakukan orang lain yang bertarung demi saya sebagai sebuah cara; dan yang sebaliknya juga berlaku, bahwa jika saya pergi membantu yang berperang maka saya akan berakhir melihat ibu saya sebagai sebuah cara. Jika nilai tidak punya ketetapan, jika masih terlalu abstrak untuk ditentukan kejelasannya, kasus konkrit yang sedang dipertimbangkan, maka tidak ada lagi yang tersisa selain mempercayai insting kita sendiri. Itulah yang coba dilakukan oleh si anak muda; dan ketika saya melihatnya, dia berkata ” Pada akhirnya, yang bermain adalah perasaan; arah yang lebih mendorong saya adalah yang seharusnya saya pilih. Jika saya merasakan bahwa cinta saya kepada saya cukup untuk mengorbankan segalanya untuk dia –niat saya untuk membalas dendam, semua keinginan saya untuk mengembara maka saya memilih tinggal bersamanya. Jika, pada kondisi sebaliknya, saya merasa bahwa cinta saya kepadanya tidak cukup besar, saya akan pergi.” Namun bagaiman cara seorang memperkirakan kekuatan dari sebuah perasaan? Nilai dari perasaan dia kepada ibunya ditentukan secara jitu dari fakta bahwa dia ada di samping ibunya. Saya dapat berkata bahwa saya mencintai beberapa kawan sampai cukup untuk mengorbankan sebagian atau sejumlah uang untuk dia, tapi saya tidak akan bisa membuktikannya kecuali saya pernah melakukannya. Saya bisa berkata, ” Saya mencintai ibu saya sampai saya memilih bersamanya,” jika pada kenyataannya saya memang bersamanya. Saya hanya dapat memperkirakan kekuatan dari perhatian ini apabila saya telah melakukan tindakan yang akan mendefinisikan perasaan tersebut. Tapi jika saya kemudian menarik perasaan saya untuk membenarkan tindakan, saya akan tertarik ke dalam lingkaran setan.

Lebih jauh lagi, seperti yang telah dikatakan dengan baik oleh Gide, sebuah sentimen yang berpura-pura dan yang vital adalah sulit untuk dipisahkan satu sama lain. Untuk menentukan bahwa saya mencintai ibu saya dengan cara tinggal bersamanya, dan untuk bermain komedi yang juga saya lakukan – ini adalah sesuatu yang mirip. Dengan kata lain, perasaan dibentuk oleh perbuatan-perbuatan yang seorang lakukan; sehingga saya tidak dapat menggunakannya sebagai panduan untuk bertindak. Dan ini juga berarti bahwa saya tidak akan bisa mencari di dalam diri saya sendiri rangsangan yang otentik untuk bertindak, dan saya tidak dapat berharap, dari sebuah etika, formula yang akan memperbolehkan saya untuk bertindak. Anda dapat mengatakan bahwa para pemuda melakukannya, setidaknya, pergi ke profesor untuk mencari saran. Tapi jika anda mencari bimbingan – dari seorang pendeta, andaikan anda telah memilih pendeta tersebut; dan pada dasarnya anda telah mengetahui kurang lebih apa yang akan dia katakan. Dengan kata lain, untuk memilih seorang penasihat setidak-tidaknya adalah menyerahkan diri untuk menjalani pilihan tersebut. Jika anda adalah seorang Kristen, anda akan berkata minta pertimbangan pendeta; tetapi terdapat kolaborasionis, pendeta yang menolak dan pendeta yang menunggu kesempatan yang baik: yang mana akan anda pilih? Jika anak muda ini memilih pendeta yang menghambat, atau memilih yang berkolaborasi, dia sebenarnya telah memutuskan sendiri akan mendengar saran yang seperti apa. Sama saja, dengan datang kepada saya, dia telah mengetahui saran yang akan saya berikan, dan saya hanya punya satu hal untuk saya katakan. Kamu adalah bebas, dengan demikian, pilih, atau dengan kata lain, ciptakan. Tidak ada aturan moral yang umum yang dapat menunjukkan kepadamu apa yang harus kamu lakukan: tidak ada tanda yang diberikan kepada dunia ini. Para penganut Katolik akan berkata, ” Oh tentu saja ada!” Baiklah; tetap saja pada akhirnya saya sendiri yang harus mengartikan tanda tersebut. Ketika saya dipenjara, saya berteman dengan seorang manusia yang luar biasa, seorang Jesuit, yang menjadi anggota Jesuit setelah menjalani hal berikut. Dalam hidupnya dia telah menderita kemunduran berkali-kali. Ayahnya meninggal saat dia masih anak-anak, meninggalkan dia dalam kemiskinan, dan dia telah dihadiahi beasiswa gratis oleh sebuah institusi relijius, di mana dia berulang kali dibuat merasa bahwa dia diterima semata-mata atas kemurahan hati, dan sebagai konsekuensinya, dia ditolak untuk dianugerahi penghargaan yang membuat bahagia anak-anak. Ketika dia berumur delapan belas tahun, dia mengalami dukacita dalam urusan yang sentimental; dan akhirnya pada umur dua puluh dua – ini sebenarnya sepele, tapi ini merupakan puncak dari segala penderitaannya – dia gagal dalam ujian militer. Anak muda ini, kemudian, melihat dirinya sebagai sebuah kegagalan sempurnya: ini adalah pertanda – tapi pertanda apa? Dia dapat mengungsi pada kegetiran atau keputusasaan. Namun dia memahaminya – dengan sangat cerdiknya –sebagai tanda bahwa dia tidak diciptakan untuk kesuksesan sekuler, dan hanya dalam urusan agama, yang bersifat suci dan tentang keyakinan, yang tersedia untuknya. Dia mengartikan catatannya sebagai pesan dari Tuhan, dan menjadi anggota dari Ordo tersebut. Siapa yang dapat meragukan bahwa pilihan untuk mengartikan tanda tersebut adalah hanya untuk dia sendiri? Seorang dapat menarik kesimpulan yang jauh berbeda dari serangkaian kemunduran – misalnya sebagai tanda bahwa dia lebih baik menjadi tukang kayu atau seorang revolusionaris. Untuk pemecahan makna dari tanda tersebut, dia memikul seluruh tanggung jawab. Ini adalah yang secara tersirat dimaksudkan sebagai ” pengabaian”, bahwa kita sendiri yang menentukan keadaan kita. Dan dengan pengabaian ini, kesedihan pun pergi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s