Pasar Buku di Facebook

Pasar buku sekarang sedang bergeser. Buku tidak lagi hanya diperjualbelikan di dunia nyata. Toko buku yang menjual buku-buku terbaru seperti toko Gramedia dan Gunung Agung, ataupun pasar buku bekas seperti di Palasari Bandung atau pedagang buku loak di bilangan Blok M mendapat saingan baru dalam hal pemasaran.

Dunia maya khususnya laman Facebook telah menjadi tempat yang ikut menggerakkan semangat membaca di masyarakat. Dulu saya terlalu meremehkan peran pedagang buku dalam proses mencerdaskan bangsa, terlalu terpaku kepada sistem “gratis” yang diusung perpustakaan. Sayangnya sekarang perpustakaan cenderung dipercaya menjadi hanya tempat untuk buku-buku akademis, sehingga bagi orang-orang yang menyukai buku-buku bertema teenlit misalnya, perpustakaan menjadi tempat terakhir untuk dikunjungi. Padahal perpustakaan seharusnya bisa membantu orang-orang yang dananya minim tapi minat bacanya besar.

Mencermati pasar di Facebook yang baru beberapa bulan saya ikuti, saya merasa ada energi besar yang tersimpan di sana. Saya sudah pernah membeli buku dari sekitar sepuluh pedagang buku di Facebook, kebanyakan buku yang saya beli dikirimkan oleh pedagangnya ke tempat kawan saya. Saya sempat membeli buku dari sekitar sepuluh akun di Facebook. Semua pedagang berlokasi di Pulau Jawa. Ada yang domisilinya di Bandung, Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta. Pedagang buku yang paling jauh domisilinya dari tempat saya tinggal sekarang ada di propinsi paling barat Indonesia. Jumlah akun pedagang buku di daftar teman saya sendiri jumlahnya lebih dari lima puluh, tetapi yang saya perhatikan aktif hanya berkisar 20-30. Aktif di sini maksudnya rutin mengunggah foto buku yang baru mereka dapatkan setelah berburu ke pelosok atau kalau boleh meminjam istilah Jokowi ‘blusukan’ . Buku-buku yang didapatkan dari blusukan ini terkadang ada yang dibaca terlebih dahulu, namun kebanyakan langsung dijual lagi. Saya belum banyak bercengkrama dengan para pedagang ini. Saya baru sempat beberapa menit mengobrol dengan Kang Dadan yang mengelola sebuah kios di depan Universitas Pasundan di jalan Taman Sari kota Bandung. Menurut penuturan dia, buku yang dia jual kebanyakan didapat dari hasil berburu yang hasilnya tidak tentu setiap harinya, bisa dapat banyak bisa dapat sedikit, tergantung peruntungan. Tapi saya pribadi menyukai buku-buku yang dijual oleh Kang Dadan, banyak buku teks akademik berbahasa Inggris dengan harga yang tidak terlampau tinggi.

Beberapa pedagang ada yang menjadi semacam distributor buku-buku teks akademik berbahasa Indonesia. Di titik ini saya jadi menyadari betapa pentingnya teman-teman pedagang buku di Facebook. Saya pernah melihat pedagang di Yogyakarta yang mengirimkan buku ke Maluku. Di saat Gramedia atau Mizan memiliki divisi pemasaran yang mengandalkan situs-situs mereka untuk memfasilitasi penjualan, atau situs seperti Bukabuku dan IniBuku, Facebook berhasil menyediakan kemudahan yang masih langka di situs penjualan daring seperti Amazon. Saya termasuk orang yang malas membeli buku di situs-situs seperti Gramedia Online karena memang enggan mengikuti prosedurnya yang menurut saya bertele-tele, meskipun saya paham bahwa sebenarnya sistem dibuat untuk memudahkan.

Mekanisme keranjang belanja yang disediakan di laman seperti milik Gramedia belum merupakan hal yang lumrah bagi masyarakat Indonesia. Belum lagi jika pembayarannya harus dengan kartu kredit yang bukan fasilitas yang umum dimiliki kalangan menengah ke bawah atau pelajar. Ketika membeli buku di Facebook, ada keramahan yang terbina oleh interaksi antara pedagang dengan pembeli yang tidak akan didapatkan ketika saya hanya mengklik tombol pesan.

Kekurangan tentu saja ada, hampir semua pedagang buku di Facebook dikelola oleh perorangan atau paling banyak dua orang yang kemungkinan besar merupakan pasangan suami istri. Hal ini menyulitkan sebab tidak semua pembeli paham bahwa si pedagang punya kehidupan lain selain berjualan buku, dan diperparah dengan kondisi dunia yang ingin segalanya serba cepat, terkadang ada saja pembeli yang marah-marah karena pelayanan yang diberikan terkesan lambat. Belum lagi ketika jaringan internet milik si pedagang sedang melemah, terkadang si pedagang sampai meminta maaf karena belum sempat membalas pesan yang masuk ke kotak suratnya. Masalah lain yang sering muncul adalah akibat persaingan yang tidak sehat ketika terdapat hanya satu buku yang diminati oleh banyak orang, mau tidak mau siapa cepat dia dapat. Ini biasanya terjadi untuk buku-buku lama yang banyak diburu kolektor. Pedagang yang baik akan mencantumkan dengan jelas peraturan tentang pemesanan, apakah pemesanan hanya berlaku untuk komentar di foto buku atau ada cara lain misalnya memesan lewat kotak surat masuk, pesan singkat, atau ada juga yang menggunakan blackberry messenger. Kelebihan lain dari sistem jual beli di Facebook yang sering dimanfaatkan dengan semena-mena oleh oknum pembeli adalah ‘menahan’ supaya buku pesanannya tidak ditawarkan ke orang lain sampai dia melunasi tagihan buku yang dia pesan. Ini menyulitkan pedagang karena perputaran modal yang mereka miliki jadi terhambat. Hal ini ditanggulangi dengan cara si pedagang memberikan tenggat waktu pemesanan, bisa tiga hari, bisa seminggu, terserah dia.

Anehnya, meskipun ada laman media sosial lain yang juga sering dimanfaatkan untuk berjualan seperti Instagram, tetapi sepengetahuan saya tidak ada lapak buku yang berkeliaran di sana. Twitter pun tidak dipergunakan untuk berjualan. Rasanya seperti memang hanya Facebook tempat yang cocok untuk berjualan buku. Sepertinya baik pembeli maupun penjual merangkap pembeli sudah cukup nyaman berada di tempat yang disediakan Mark Zuckerberg.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s