Ewako 2014

Ini cuma rekaman kejadian tadi malam di lapangan basket kampus ITB. Ini adalah bagian lain dari kegamangan yang terangkum dalam diriku. Permasalahan yang masih saja menghantui dan masih ingin aku dapatkan jawabannya.

Tadi malam aku kembali menyaksikan acara Ewako yang menginjak perhelatan ketiga. Aku pertama kali menyaksikannya pada tahun 2011. Aku mengira aku sudah melewatkan dua kali perhelatan, namun ternyata aku hanya melewatkan sekali saja. Tidak buruk untuk ukuran diriku yang jarang menghadiri acara kesenian. Keramaian bukan tempatku. Seringnya sih seperti itu. Aku berharap tahun-tahun berikutnya hal ini masih akan terus hadir.

Jam 19.00 aku tiba di lapangan basket, mengantre dan duduk selama kira-kira 20 menit hingga acara kemudian dimulai. Aku jujur saja bukan orang yang nyaman dengan menunggu. 20 menit itu terasa menyebalkan. Aku mengambil tempat duduk di sayap kiri deretan tempat duduk. Tempatku duduk terhalang oleh salon besar yang hitam menjulang di sisi kanan dan kiri panggung. Pikirku tak apalah, aku lebih ingin memanjakan telingaku ketimbang mata. Biarlah pemandangannya kurang sempurna, sebab apalah arti sempurna di hadapan rasa haus manusia yang tidak berujung?

Sekitar pukul 19.30 aku mendengar teriakan dari bagian belakang deretan tempat duduk. Ternyata itu menandai dibukanya acara malam itu. Aku tidak mengerti sedikit pun kata-kata yang diucapkan tadi, sepertinya bahasa Toraja, yang ternyata dalam pengucapannya sepertinya “J” menjadi “Y” sehingga yang benar adalah Toraya. Sayangnya si pembuka acara tidak hafal kalimat-kalimat yang harus dia ucapkan, dia memegang telepon selular. Ah,kecewa aku melihatnya. Seperti tidak serius saja. Tapi mungkin memang sulit mengingat kata-kata dalam bahasa yang jarang dipergunakan sehari-hari, namun tetap saja tidak membuat hati ini enak.

Setelah itu datang pembawa acara, seremoni basa basi yang diisi sambutan oleh alumni unit, ketua acara, ketua unit.

Setelah sambutan, barulah dimulai tari-tarian dihadirkan. Tidak satu pun tarian aku kenali. Aku ingat ada tari Paduppa yang dibawakan, tapi seperti apa gerakannya, aku akan kesulitan untuk menyebutkan atau menjelaskan. Yang aku mampu lihat hanya betapa indahnya penari-penari itu membawakan tariannya. Ada yang sepanjang tarian tersenyum sampai kelihatan giginya, ada juga yang sepertinya kesulitan menghilangkan ketegangan dari badannya sehingga senyumnya tidak nampak sama sekali, tapi toh pada akhirnya tidak mampu mengurangi kenikmatan melihat betapa gemulainya mereka bergerak. Makhluk yang berjuluk perempuan memang indah.

Aku ingat betapa singkatnya penari-penari itu membawakan kesenian bernafas etnis Makassar, dibandingkan tiga tarian lainnya, terasa sangat sebentar. Aku jadi sulit untuk mengingatnya. Ketika tarian dari Bugis ditampilkan, yang entah apa namanya, aku sedikit merinding. Ada kesyahduan dalam lagu yang mengiringi. Entahlah, aku jarang merasa menjadi bagian dari suku tersebut. Orang tuaku keduanya memang lahir di Kabupaten Wajo seperti kedua orang tua mereka masing-masing dan begitu pula aku, namun hanya setengah tahun aku menghirup udara di sana. Perjalanan hidupku tidak sampai dua tahun dihabiskan di sana. Tapi entah bagaimana caranya bulu kudukku sedikit berdiri saat kesenian Bugis ditampilkan. Selanjutnya adalah Mandar, etnis yang mendiami propinsi Sulawesi Barat. Aku ingat tiga tahun silam, ada satu lagu yang menarik perhatianku. Judulnya Tenggang- Tenggang Lopi. Iramanya riang dan untuk orang yang sering bermuram durja sungguh sebuah penyegar. Tarian yang diiringinya seperti apa, aku tidak ingat. Terakhir, entah kenapa aku merasa heran dengan tarian dari etnis Toraja yang sepertinya riang gembira. Aku ingat bahwa mereka adalah suku yang sangat meninggikan kematian dibandingkan kehidupan. Upacara kematian bisa mengundang kematian lagi ataupun rasa malu karena tidak mampu membiayai upacara adat kematian yang bisa berhari-hari dilaksanakan. Sebagai informasi, sebutan untuk upacara kematian di etnis Toraja adalah Rambu Solo.

Setelahnya yang aku ingat adalah pementasan drama yang berjudul Batingna Lebona. Kurang lebih artinya adalah Tangisnya Lebona. Alkisah, terdapat seorang kembang desa bernama Lebona. Dia adalah yang tercantik di kampungnya. Aku lupa siapa nama kekasih Lebona. Yang menyimpan hati kepada Lebona, ada banyak pria. Salah satunya berakal licik, sebut saja dia X. X mengajak kekasih Lebona pergi berperang entah melawan siapa aku juga tidak ingat. Aku hanya ingat si X belakangan mendatangi Lebona dan menyampaikan kabar bahwa kekasih Lebona telah meninggal di medan pertempuran. Lebona, yang seperti kebanyakan orang yang ditinggal mati kekasihnya tentu saja menangis. X yang mencoba mengambil kesempatan dengan menawarkan bahunya untuk tempat menangis malah diusir oleh Lebona. Lebona, yang mungkin masih berpikiran pendek, tidak berusaha menyelidiki kebenaran kabar kematian kekasihnya tersebut. Dia malah mengambil jalan bunuh diri untuk menyusul kekasihnya yang dia ketahui telah pindah dunia. Kekasih Lebona yang terlambat menyadari kepergian Lebona, ternyata berpikiran sama pendeknya, sepertinya mereka memang pasangan yang serasi. Bedanya, Lebona lebih cepat mengambil keputusan untuk meregang nyawanya sendiri. Dan berakhirlah kisah sedih Lebona.

Ada beberapa hal yang aku pikir menarik. Bahwa bukan bahasa Toraja, Mandar, Bugis, maupun Makassar yang dipakai dalam percakapan di drama tersebut. Indonesia menang. Memang jujur saja aku kesulitan mengartikan pola hubungan antara Indonesia dengan etnis yang membentuk entitas bertajuk Indonesia. Bukankah tujuan diadakan malam kesenian adalah juga untuk mengenalkan kebudayaan lokal setidak-tidaknya, namun ketika bahasa yang dipergunakan adalah bahasa “asing” , apakah pesannya atau semangatnya masih sama? Seperti ketika menyatakan “Aku Cinta Indonesia” namun disampaikan dengan bahasa Inggris. Kontradiktif. Yang kedua, apa sih tema paling menjual sepanjang sejarah umat manusia? Cinta! Tidak ada tema lain selain cinta yang mampu membius orang-orang untuk membeli kaset (ketahuan tuanya ini mah), buku, dan bermacam-macam hal lainnya untuk sekedar mengekspresikan rasa cintanya. Tidak terkecuali aku sendiri. Tidak sedikit yang mengakhiri hidupnya karena menganggap hidup ini tiada lagi artinya setelah asmaranya kandas. Sempat ketika di drama ditunjukkan adegan kekasih Lebona melihat roh Lebona di dekat pohon yang tumbuh dari kubur Lebona, aku menduga jangan-jangan kekasihnya ini akan ikut ke dunia sana seperti cerita Orpheus dan Eurydice yang berakhir tragis. Aku kurang nyaman ketika mendengar dialog-dialog gombal yang diucapkan di atas panggung entah kenapa. Aku juga tidak nyaman melihat betapa sibuknya orang-orang berkomentar saat drama berlangsung, yang aku inginkan adalah cukup duduk dan simak dengan baik sebab belum tentu semua orang dapat mendengar dengan baik, dan bukankah lebih baik mendengar sampai tuntas baru melayangkan pertanyaan?

Suguhan terakhir adalah tentu saja Ganrang Bulo yang kali ini dibumbui beberapa lawakan. Sempat mereka berpura-pura sedang mengadu tendangan penalti dengan menggunakan dua orang sebagai tiang gawang yang mengusung seorang lagi sebagai mistar di atas. Tawa baru meledak ketika mereka memparodikan iklan LINE yang menggunakan bintang film Ada Apa Dengan Cinta sebagai pemeran iklannya. Sempat juga dimasukkan lagu Sakitnya Tuh Di Sini yang jujur saja membuat saya mengerenyit seraya bertanya dalam hati, “Ini apa?” Mungkin memang resep untuk bisa diterima di dalam masyarakat adalah untuk ikut dalam arus. Padahal siapa itu Cita Citata? Penyanyi dari Makassar bukan, dari Toraja juga bukan. Kenapa bukan Andi Meriam Matalatta misalnya, tapi siapa yang kenal dengan dia? Para pengisi acara jangan-jangan belum lahir ketika Andi Meriam meluncurkan albumnya.

Pada akhirnya memang aku tidak banyak memahami apa pun malam ini. Aku hanya ingin merinding dan sedikit merasa nyaman. Tidak mempunyai kampung halaman adalah salah satu ketakutanku. Aku kadang merasa tidak berhak mengatakan aku orang Bugis ketika untuk sekadar menuliskan aksara Lontara pun aku masih kalah dibanding anak SD di kampung-kampung. Mau bilang orang Jakarta, kok rasanya aku bingung apa itu Jakarta, aku bukan orang Betawi yang jelas. Orang Sunda bukan, orang Jawa bukan. Tidak jelas. Tapi setidaknya aku jadi rindu rumah-rumah panggung yang banyak di Ongkoe sana, ingin kembali diingatkan bahwa bukan hanya gadis berdarah Sunda saja yang cantik di dunia ini hehe. 

Terima kasih ya Adli dan Bayu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s