Pa Sarwan

Setelah dengan terengah-engah berjalan kaki dari kampus ke BIP bersama Arif kemudian berjalan kaki ke arah sebaliknya, kakiku terpaut di Taman Flexi. Sambil meminum Teh Botol plastik pemberian media sosial hijau, aku duduk di sana selama kurang lebih 10 menit. Aku tidak duduk di bangku yang menghadap ke jalan Juanda. Aku duduk di sisi yang menghadap ke jalan Ranggagading. Aku duduk sendiri sambil menikmati dedaunan yang sesekali gugur tertiup angin. Untunglah terik yang menerpa Bandung dari pagi tadi agak berkurang sengatannya. Aku menatapi jalanan yang tidak pernah sepi, dan pada suatu kesempatan juga melihat seorang tukang parkir kencing di pohon besar yang ada di seberang jalan.

Setelah termenung selama kurang lebih lima menit, aku melihat seorang bapak tua yang setengah mengantuk sedang duduk di bangku yang lain. Di hadapannya terdapat sebuah gerobak sampah yang terlihat kosong melompong. Benakku yang sempit langsung menduga bahwa si bapak yang sekilas terlihat tua sedang kesulitan untuk mengumpulkan sampah yang akan dia kumpulkan hari itu. Mungkin ada sekitar 5 menit aku mengumpulkan keberanian untuk mengajak bapak itu berbicara. Sebelum akhirnya keberanian itu terkumpul aku menyempatkan diri membeli sebotol minuman kemasan untuk sekedar menjadi alat pembuka omongan.

Setelah dengan usaha basa basi yang tidak seberapa, aku pun akhirnya berhasil mengajak dia berbicara hari itu. Aku ketahui nama dia adalah Sarwan. Memiliki seorang istri dan tiga orang anak. Anaknya yang tertua tinggal di Cililin, tempat yang sama yang juga merupakan daerah asal istri Pa Sarwan. Pa Sarwan berusia 72 tahun dan dia hadir di kota Bandung semenjak hari ulang tahun Republik Indonesia yang ketiga. Sejak 1948, Pa Sarwan sudah pindah dari Tegal ke Bandung, dan sudah sangat lama sekali dia tidak pulang kampung ke Tegal, sebab sudah tidak ada lagi keluarga yang bisa dia datangi. Upah menjadi pemulung dalam 1 bulan adalah 720.000. Harga kontrakan yang harus dia bayarkan setiap bulan adalah 350.000. Dengan anggota keluarga yang berjumlah empat orang yaitu Pa Sarwan dan istri beserta dua orang anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar, maka hitung-hitungan kasar biaya hidup mereka dalam satu hari adalah ((720-350)/30)/4 = 3000 rupiah. Memang, istri Pa Sarwan juga berusaha membantu meringankan tanggungan yang harus dipikul oleh keluarga ini, namun sepertinya pendapatan yang diharapkan dari menjual nasi di sebuah proyek tidak akan pernah cukup untuk menutupi kebutuhan hidup sehari-hari. Secara logika, harusnya keluarga ini sudah mati bertahun-tahun yang lalu, tetapi mungkin di sini ada yang namanya kekuasaan Tuhan, meskipun penghasilan sangat minimum namun masih tetap mampu bertahan hidup entah bagaimana caranya, aku tidak ingin tahu lebih jauh dan mendetil. Cukup kenyataan bahwa masih ada orang yang usinya telah menginjak 72 tahun masih tetap setia menjalani pekerjaan yang sering dipandang sebelah mata. Aku mendengar keluhan Pa Sarwan saat dia menyayangkan betapa sulitnya dan betapa brengseknya sistem berlaku di Indonesia, ketika manusia-manusianya tidak diberikan kesempatan untuk melakukan pekerjaan yang layak semata-mata karena tidak memiliki gelar pendidikan yang tinggi. Sementara di sisi lain berapa kali cita-cita pendidikan nasional yang termaktub dalam pembukaan UUD ’45 yang dengan manisnya berucap “mencerdaskan kehidupan bangsa” dikhianati setiap kali terdapat seorang anak yang putus sekolah. Aku minta maaf seandainya ini hanya terlihat sebagai sebuah gerutuan yang mungkin akan hilang lenyap seperti buih di lautan tapi aku jujur saja merasa otakku kelu ketika melihat pemandangan seperti kemarin. Rasanya hidup ini kok harus sepahit itu ya? Aku mengerti bahwa memang tidak akan pernah aku mengerti semua hal di dunia ini, akan ada hal-hal yang selamanya menjadi rahasia Tuhan dan bukan tugasku untuk bertanya dan bahkan mempermasalahkan, tetapi tetap saja terasa pedih melihatnya. Aku memang belum bisa berbuat apa pun untuk membantu meringankan penderitaan orang-orang seperti Pa Sarwan, tapi terkadang aku merasa kota Bandung lupa bahwa di balik taman-taman yang indah, di balik gemerlap lampu kota yang indah dan riuh rendah tawa orang beradu dengan kemacetan di pagi dan sore hari, ada orang-orang yang hidup dengan penuh perjuangan, lalu aku akan meludah ke langit dan bertanya kepada diri sendiri ” Masih pantas kamu mengeluh Wir?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s