Zainab

Adapun kemerdekaan adalah hak semua bangsa

Sebuah kalimat menemukan maknanya dalam sebuah keinginan. Pada tahun 1940-an, kalimat itu gamblang dengan sendirinya: kata “kemerdekaan”, seperti juga kata “bangsa” dan “hak” , diperjelas oleh hasrat dekolonialisasi.

Pada masa itu kolonialisme — ketika sebuah wilayah dijadikan bagian kekuasaan dari luar dirinya — telah dianggap kejam dan tak wajar. Maka, “kemerdekaan” berarti kesempatan untuk memiliki sebuah wilayah ┬áhidup sendiri. Tak ada di hari itu satu suara pun yang mempersoalkan benarkah “kemerdekaan” hanya berarti itu.

Tak ada yang menggugat, bukankah antara “merdeka” dan “berwilayah” bisa terjadi hubungan yang ganjil? Bukankah dalam “kesempatan untuk memiliki sebuah wilayah hidup sendiri”, yang penting adalah penghargaan kepada hidup? Dan bukankah “hidup” tak niscaya berkait dengan sebuah ruang dengan batas-batas yang definitif? Sebuah satuan teritorial bagaimanapun bukanlah sebuah sumber, bukan sebuah fondasi, dari “hidup” ataupun “kemerdekaan”. Ia hanya sesuatu yang secara aksidental terkait, mungkin sebuah instrumen. Ia tak membuat hidup menjadi hidup dan membuat kesempatan serta-merta terbuka.

Tapi pada hari-hari ini saya dengar orang masih bicara tentang kedaulatan dan kemerdekaan, ruang hidup dan teritorium. Di Jakarta orang menghendaki “keutuhan wilayah nasional”. Di Lhokseumawe: “Aceh merdeka”, dan di Wamena: “Papua merdeka”. Pada saat seperti ini saya teringat akan kisah Zainab yang diculik dan Buta Singh yang bunuh diri. Saya teringat India, Pakistan, tahun 1947.

Saya teringat akan apa yang terjadi ketika sebagian penduduk India memilih sebuah ruang hidup tersendiri, menjadi bangsa tersendiri, dan Pakistan pun lahir. Kejadian bersejarah itu disebut Partition (“Pemisahan”). Seperti setiap kejadian bersejarah, ia mengandung sesuatu yang dahsyat.

Dalam sebuah buku yang mencoba merekam apa yang terjadi di masa itu, The Other Side of Silence, Urvashi Butalia menggambarkan kedahsyatan itu sebagai kebengisan. “Belum pernah sebelum dan sesudahnya begitu banyak orang bertukar rumah dan negeri dengan cara demikian lekas. Dalam jarak waktu hanya beberapa bulan, sekitar 12 juta manusia bergerak antara wilayah India yang baru yang terpenggal, dan dua sayap di barat dan di timur, yang membentuk negeri yang baru diciptakan itu, Pakistan.”

Dalam proses itu, ketegangan kian jadi seperti demam yang gila antara mereka yang berpindah ke Pakistan — hampir semuanya orang Islam — dan mereka yang memilih berada di India. Bentrokan, pembantaian, dan pemerkosaan berlangsung. Sekitar satu juta orang tewas. Sekitar 75 ribu perempuan diculik dan diperkosa. Ribuan keluarga berpisah, rumah dihancurkan, panen ditinggalkan hingga busuk, dusun ditelantarkan. Berjuta-juta manusia bergerak, sebagian besar berjalan kaki dalam rombongan besar yang disebut “kafilah”, yang terkadang begitu panjang sehingga makan waktu delapan hari lamanya seluruh barisan melalui satu tempat.

Dalam tragedi itu ada Zainab. Ia seorang gadis muslim yang diculik dari sebuah kafilah yang lewat. Tak jelas sudah berapa tangan yang telah menjamahnya. Yang tercatat hanya ini: Zainab akhirnya dijual ke seseorang yang hidup di distrik Amritsar, Buta Singh namanya.

Seperti ditentukan adat, Buta Singh, yang belum beristri, menjalani sebuah upacara untuk mengawini Zainab. Konon, mereka kemudian ternyata saling mencintai. Zainab melahirkan dua anak perempuan. Sebuah keluarga pun terbentuk. Tapi Pemisahan masih terus mengerkah korbannya.

Beberapa tahun setelah 1947, serombongan orang dari Pakistan datang ke Amritsar. Mereka mencari Zainab. Tak jelas kenapa mereka tiba-tiba muncul. Ada yang menduga bahwa adik Buta Singh yang mengundang. Mereka takut kalau kelak anak-anak Zainab akan mengurangi bagian dari milik tanah keluarga. Dan Zainab tak punya pilihan lain. Dengan menggendong si bungsu dan sebuah buntelan kecil pakaiannya, ia masuk ke dalam sebuah jip yang telah menunggu. Ia sendiri tak tahu kepada siapa ia akan kembali. Pada hari-hari Pemisahan dulu orang tuanya terbunuh dan hanya seorang saudara kandung perempuan yang tinggal.

Di Amritsar yang ditinggalkan, Buta Singh berusaha agar Zainab kembali. Tapi sia-sia. Pada suatu hari ia diberi tahu bahwa istrinya yang telah hidup nun di Pakistan itu akan dipaksa menikah oleh keluarganya yang masih hidup. Buta Singh segera menjual tanah miliknya, menyiapkan diri menyusul. Tapi Pemisahan telah membentuk tapal batas, dan tak gampang bergerak dari wilayah India ke wilayah Pakistan, terutama ketika dua negeri itu sedang berseteru. Buta Singh tak putus asa. Ia pun memutuskan untuk jadi warga negara Pakistan. Ia masuk Islam. Ia berganti nama jadi Jamil Ahmad. Ketika dengan segala susah payah ini pun ia ditolak, ia pun masuk ke Pakistan dengan visa jangka pendek.

Tapi di negeri itu, ia lupa melapor ke pejabat setempat — dan melanggar sebuah aturan yang berlaku bagi orang India yang datang ke Pakistan dan sebaliknya. Buta Singh pun dibawa ke pengadilan. Di depan hakim, ia mengisahkan maksud kedatangannya: ia ingin menemukan istrinya kembali. Maka, Zainab pun didatangkan sebagai saksi. Tapi perempuan itu, yang dijaga ketat oleh keluarganya, menampiknya. “Saya kini sudah menikah. Saya tak berurusan lagi dengan laki-laki itu. Ia boleh membawa kembali anak yang dulu saya bawa dari rumahnya….”

Esok harinya, Buta Singh membiarkan tubuhnya tergilas kereta api. Di saku bajunya ada sepucuk surat. Ia minta dikuburkan di dusun Zainab. Tapi permintaan ini pun ditolak. Sebab, sudah ada petugas imigrasi, ketentuan paspor dan visa, dan segala tanda kedaulatan. Dua negeri telah lahir, bebas dari kolonialisme. Ya, “kemerdekaan adalah hak semua bangsa…”

Dikutip dari Catatan Pinggir 6, dari Tempo 26 Agustus 2001

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s