Janji-Janji

Aku jarang menonton film. Dan setelah membaca tulisan Goenawan Mohamad di Catatan Pinggir nomor 6 aku tergerak untuk mencari film Promises yang dia singgung di tulisannya.
Bukan sebuah kesalahan ternyata, meskipun beberapa kali napas menderu menahan sedan yang ingin muncul saat menyaksikan adegan di film yang diproduseri oleh B.Z.Goldberg, seorang berdarah Israel dan Amerika.

Film yang menggambarkan kehidupan beberapa orang anak-anak di tanah yang pernah dan masih berkonflik. Ada Daniel dan Yarko, Mahmoud, Faraj, Sanabel, Shlomo.

Sanabel yang ayahnya ketika itu masih ditahan oleh pemerintah Israel karena dia merupakan salah satu pemimpin perlawanan terhadap Israel di kamp Deheishe. Ketika film dibuat, sudah dua tahun ayah Sanabel dibui tanpa pernah ada dakwaan yang jelas dan melalui proses pengadilan yang sah. Adegan pertama yang membuatku menangis adalah ketika Sanabel ditanya oleh Goldberg tentang hal apa yang membuat dia senang. Dia menjawab dia senang saat ayahnya mengirimkan surat kepada dia. Saat dia hendak menambahkan, dia cuma sanggup berhenti di kata “dan” dan matanya berkaca-kaca. Dia pandai menari. Tariannya berkisah tentang kehidupan di pengungsian, tentang kegigihan orang Palestina bertahan dan mimpi mereka tentang kedaulatan negara Palestina. Sanabel juga menginginkan suatu hari hanya anak-anak yang memutuskan tentang seperti apa konflik yang berkecamuk ini penyelesaiannya, dan bukan orang seperti Netanyahu yang harus mengambil keputusan.

Daniel dan Yarko adalah anak kembar kelahiran Israel yang senang bermain voli. Kakek mereka adalah pelarian dari Polandia. Jadi mereka adalah keturunan kedua dari Yahudi Schindler. Ada adegan ketika mereka bertanding voli di sebuah gelanggang olahraga pada sebuah kejuaraan tingkat nasional, mereka kalah. Dan salah satu dari si kembar ini menangis. Di gelanggang itu juga terlihat ada orang dewasa menyandang senapan mesin sedang berjaga-jaga.Aku sulit membayangkan hidup di Indonesia saat misalnya ada kejuaraan futsal dan di tribun ada beberapa petugas keamanan berdiri dengan menyandang SS-1.

Faraj, seorang anak keturunan Arab yang berlomba mewakili Kamp Deheishe pada cabang lari 100 meter. Dia terjungkal begitu melewati garis finish dan menjadi juara kedua. Dia pun menangis. Sama seperti si kembar menangis. Aku jadi penasaran apa beda tangis anak-anak Arab dan Yahudi atau Papua misalnya. Ketika mereka sama-sama kalah dan gagal menjadi juara. Faraj tinggal bersama neneknya. Nenek yang selalu membawa kunci rumah yang telah luluh lantak rata dengan tanah. Pada suatu hari Faraj dan neneknya menyelinap masuk daerah bekas pemukiman mereka dengan menumpang mobil berplat Israel. Tiba di bekas kampung mereka, yang terlihat hanya tanah yang tandus berbatu-batu. Nenek Faraj masih ingat di mana letak rumah mereka dulunya, di mana rumah paman Faraj dan tetangga-tetangganya dulu berdiri.

Ada yang menggelitik ketika Faraj menelepon Daniel dan Yarko untuk mengundang mereka datang ke Deheishe dan bermain bersama. Untuk duduk bersama. Untuk makan bersama. Mereka berbicara dengan bahasa Inggris yang terbata-bata. Faraj bertanya sudah kelas berapa mereka. Karena pengucapan Faraj juga kurang bagus, dia kemudian menyebutkan 1 sampai 6 dalam bahasa Yahudi. Singkat cerita setelah diskusi di meja makan pada suatu hari dengan kedua orang tuanya, Daniel dan Yarko pergi ke pemukiman tempat Faraj dan Sanabel dan beberapa anak lainnya tinggal. Menyaksikan mereka bermain sepak bola, ketapel, damdamsik (?), bergulat, diselingin makan bersama, aku malah merasa terenyuh. Mereka toh tetap bisa tertawa bersama. Tapi kalimat penutup yang diucapkan Faraj pada saat mereka diskusi tentang isi hati mereka sungguh terasa pahit. Dia terdiam beberapa saat kemudian BZ bertanya kenapa kamu menangis, dia bilang dia sedih karena semua ini akan jadi kesia-siaan. Dia membayangkan bahwa besok BZ akan pergi. Bahwa setelah ini Daniel dan Yarko akan kembali ke rumahnya dan semua hilang begitu saja tanpa membekas di jejak dunia. Ini adegan paling mengharukan. Untung hanya berlangsung beberapa detik, tapi sampai saat ini kalau mengingat itu aku masih sulit menahan air mata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s