Islam and Governmental System

Ini buku pertama dari seri INIS (Indonesian – Netherlands Cooperation in Islamic Studies) yang saya baca . Buku dengan nomor urut 11 ini sebenarnya sudah lebih dari setahun mengisi tumpukan buku-buku saya. Baru sebulan ini saya menyentuhnya, alasannya adalah karena di salah satu tulisan Goenawan Mohamad di Catatan Pinggir nomor 6, disinggung kesimpulan dari buku milik Munawir Sjadzali ini. Dulu alasan saya membelinya semata karena saya ingin punya buku karya orang yang menjadi inspirasi nama saya (konyol ya?). Selain itu, sampulnya juga terus terang menarik perhatian saya.
Buku yang berjudul “Islam and Governmental System ” ini diberi kata pengantar oleh Harun Nasution dan Nurcholis Madjid. Harun Nasution ketika buku ini ditulis menjabat sebagai dekan Fakultas Pasca Sarjana IAIN Jakarta. Sedangkan Nurcholis Madjid menjadi salah satu pengajar di fakultas tersebut bersama dengan Munawir Sjadzali. Buku yang diterbitkan pada tahun 1991 ini sebelumnya telah diluncurkan dalam bahasa Indonesia dengan judul “Islam dan Tata Negara, Ajaran, Sejarah dan Pemikiran”.

Munawir Sjadzali mengawali bukunya dengan membagi tiga aliran pemikiran di kalangan umat Islam tentang bagaimana seharusnya pemerintah dijalankan.

Aliran pertama meyakini bahwa Islam bukan agama dalam pengertian yang dianut di Barat yang hanya mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan semata, namun Islam merupakan sebuah agama yang mengatur secara menyeluruh semua aspek kehidupan manusia, termasuk di dalamnya kehidupan bernegara.

Aliran ini secara umum mempunyai dua prinsip :
1. Islam adalah agama yang yang komprehensif dan ini berarti di dalamnya terkandung banyak hal di antaranya sistem pemerintahan atau politik, dengan demikian , dalam menjalankan sebuah negara, maka Muslim sebaiknya menganut sistem pemerintahan Islam dan bukan justru mengadopsi sistem pemerintahan negara-negara di Barat.
2. Sistem pemerintah Islam haruslah mengacu kepada yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, dan keempat Khulafaur Rasyidin.

Tokoh-tokoh berpengaruh aliran ini antara lain Hasan Al Banna, Sayyid Qutb, Muhammad Rasyid Rida, dan yang paling vokal adalah Abu al-Ala Mawdudi.

Aliran kedua meyakini bahwa Islam hanya mengatur bagaimana hubungan manusia dengan Tuhan dan tidak ada kepentingan sama sekali tentang bagaimana sebuah negara diatur. Aliran ini mempercayai Rasulullah hanya seorang utusan biasa seperti semua Nabi sebelum beliau yang bertugas untuk mengajak umat manusia kembali ke jalan yang lurus, dan tidak pernah Rasulullah memiliki tujuan untuk mendirikan negara dan menjadi pimpinannya. Tokoh berpengaruhnya antara lain Ali Abd al-Raziq dan Taha Husain.

Aliran ketiga menolak pendapat bahwa Islam adalah agama yang komprehensif dan dengan demikian menolak pendapat bahwa Islam mengatur juga kehidupan bernegara. Aliran ini pun menolak pendapat bahwa Islam hanya mengatur hubungan antara makhluk dengan Sang Pencipta. Aliran ini berpendapat bahwa di dalam Islam tidak terdapat aturan mengenai sistem pemerintahan akan tetapi di dalam Islam terdapat seperangkat nilai etika yang mengatur hidup di dalam sebuah negara. Salah satu tokohnya adalah Muhammad Husain Haikal yang dikenal lewat karyanya berjudul Hayatu Muhammad dan Fi Manzil al-Wahyi.

Bagian kedua merupakan daftar ayat-ayat yang berhubungan dengan posisi manusia di muka bumi(3:26 ; 57:5 ; 6:165 ; 10:14), permintaan petunjuk kepada Allah (3:159 ; 42:38), ketaatan kepada pemimpin(4:59), keadilan (16:90 ; 4:58), kesetaraan(49:13), hubungan antara Muslim dan non Muslim (2:256 ; 10:99 ; 3:64 ; 60:8-9)

Selanjutnya diisi sejarah singkat kehidupan bernegara pada masa Rasulullah, Khulafaur Rasyidin, dan sedikit tentang pergeseran yang terjadi dari Khulafaur Rasyidin ke berkembangnya kerajaan yang ditandai dengan berdirinya Dinasti Umayyah.

Momen penting yang disorot oleh buku ini adalah Baiat Aqabah pertama dan kedua dimana 12 orang dari Yasrib pada tahun keduabelas kenabian dan 27 orang pada tahun berikutnya bersumpah bahwa mereka tidak akan menyekutukan Allah dan akan membela Rasulullah seperti membela anggota keluarga mereka sendiri. Dalam sumpahnya juga mereka menyatakan kesetiaan mereka kepada Rasululah sebagai pemimpin mereka. Sebagian besar pemikir politik Islam meyakini kedua baiat ini sebagai batu pertama yang menyusun struktur negara Islam.
Setelah baiat kedua, Rasulullah menyarankan kepada para pengikutnya untuk pindak ke kota Yasrib yang kelak berganti nama menjadi Madinah.

Di kota Madinah inilah komunitas Islam yang bebas dan independen pertama kali berdiri, di bawah bimbingan Rasulullah, dan tersusun dari pengikut yang berasal dari Mekah (Muhajirin) dan penduduk yang memang telah sejak semula menetap di Madinah (Ansar). Akan tetapi pada saat itu di Madinah tidak cuma diisi oleh komunitas Muslim, terdapat juga kelompok-kelompok Yahudi dan sebagian kecil suku-suku Arab yang belum mau menerima Islam dan masih menyembah berhala.
Tidak lama setelah Rasulullah menetap di Madinah, atau berdasarkan kesepakatan sebagian besar sejarawan sekitar dua tahun setelah kepindahan dari Mekah, Rasulullah menetapkan seperangkat aturan yang dikenal sebagai Piagam Madinah. Piagam ini dibuat untuk membimbing kehidupan di kota Madinah dengan komunitasnya yang majemuk. Piagam Madinah sering disebut sebagai konstitusi pertama untuk negara Islam yang didirikan oleh Rasulullah di Madinah. Dengan demikian, menjadi penting untuk mempelajari piagam ini guna melihat bagaimana hubungan Islam dan sistem pemerintahan.

Kesimpulan Munawir tentang Piagam Madinah adalah sebagai berikut :
1. Meskipun terdiri dari banyak suku, namun seluruh Muslim adalah satu komunitas
2. Hubungan antara sesama anggota komunitas Muslim dan komunitas Muslim dengan komunitas lainnya memiliki prinsip antara lain: (a) Bersikap sebagai tetangga yang baik; (b) Saling membantu dalam menghadapi musuh bersama; (c) Melindungi kaum yang tertindas; (d) Saling memberi saran; dan (e) Menghormati kebebasan dalam agama
Catatan penting yang ditekankan olehnya adalah Piagam Madinah tidak menyebutkan bentuk sebuah negara Islam

bersambung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s