Vivat H*!!!

Tepat satu minggu yang lalu, di sebuah bangunan di lantai 4 gedung yang berusia sekitar 30 tahun, diadakan sebuah perayaan. Disebut perayaan karena hari itu, sebagian yang hadir merayakan pertemuan kembali dengan kawan-kawan yang lama tidak berjumpa. Bagi saya pribadi, hari itu adalah sebuah perkenalan dan juga sebuah ucapan selamat tinggal. Perkenalan sebab banyak hadirin yang saya belum pernah temui sebelumnya. Sebuah perpisahan sebab kelak bangunan yang sempat saya huni selama sekitar dua tahun tersebut akan beralih kepemilikan dalam waktu tidak lebih dari setahun.

Saya berkenalan dengan bangunan tersebut menjelang akhir tahun 2008. Semestinya saya berkenalan pada tahun 2007, tapi saya ketika itu memutuskan untuk tidak berkenalan. Awalnya saya pikir, untuk apa masuk himpunan? Seperti nyaris tidak akan ada manfaatnya, namun belakangan orang-orang yang sama-sama berbaju hitam dengan saya pada tahun 2007, mendorong saya untuk tetap mengikuti kegiatan kaderisasi bersama dengan teman-teman Astronomi 2007. Yah, terus terang saja, alasan saya ketika masuk Himastron sekedar untuk mencari tempat berteduh dan memanfaatkan akses internetnya. Ada alasan lain memang yang lebih idealistis, tapi saya malu mengungkapkannya sebab nanti terlihat sekali kenaifan saya.

Setelah saya mengikuti kaderisasi atau lazim disebut PAM ( Pembinaan Anggota Muda), saya kemudian mulai menjelajahi isi himpunan. Di himpunan ternyata saya malah “ketagihan”. Saya lebih senang nangkring di himpunan ketimbang mengikuti perkuliahan dengan serius. Kegagalan saya menyelesaikan sarjana di Astronomi tidak pelak juga merupakan akibat dari ketidakmampuan saya menempatkan mana yang perlu dan kurang perlu serta lebih mengedepankan kegiatan yang lebih saya sukai. Bukan contoh yang baik memang.

Tapi, apabila saya ditanya apakah saya menyesalinya, jawabnya adalah tidak. Kegagalan memang pahit. Selalu pahit. Namun dalam perjalanan saya menuju kegagalan tersebut, ada hal lain yang selamanya tidak akan pernah bisa digantikan keberadaannya di dunia ini. Selamanya saya merasa berutang kepada himpunan, baik secara materiil maupun non-materiil. Contoh utang yang saya dapatkan adalah dukungan moril dari teman-teman ketika saya harus mengundurkan diri. Dalam benak saya ketika itu, adalah mudah bagi orang-orang untuk mencampakkan orang yang sudah gagal dalam hidupnya. Namun ternyata itu cuma angan-angan busuk belaka. Mereka tetap mau menerima saya dengan tangan terbuka, membantu saya ketika mendapat kesulitan, dan sekedar mau mengajak bersenda gurau. Bahkan sampai hari ini, mereka masih tetap orang-orang yang sama seperti ketika pertama kali kami berkenalan.

Berbicara tentang sekre Himastron, tentu akan sangat melankolis romantis. Sebab, letaknya memang (dulu) sangat strategis untuk menikmati kesunyian hidup. Sebelum ada bangunan baru yang menjulang di sebelah selatan, saya dengan yang lain senang duduk-duduk di halaman belakang menikmati memerahnya langit di sore hari. Sambil ditemani lantunan gitar, segelas kopi dan sepiring gorengan, hidup rasanya ingin saya hentikan di saat itu juga.

Saya masih termasuk generasi yang menikmati luasnya halaman depan sebelum hadir bangunan yang tidak jelas fungsinya buatan jurusan sebelah. Ketika Rhorom (’07) naik menjadi ketua Himastron, bangunan tersebut didirikan. Awalnya seingat saya ada beberapa kali terjadi aktivitas di bangunan tersebut, namun belakangan aktivitas tersebut tidak pernah lagi terjadi dan sekarang malah merusak pemandangan. Kami sendiri pernah memanfaatkan bangunan tersebut untuk nonton menggunakan proyektor, sebelum bangunan tersebut diberi kunci.

Saya sendiri, salah satu yang paling saya sukai adalah tidur di halaman belakang, memandang ke langit luas yang seakan tanpa batas (eh atau ada batasnya ? :p ) di malam hari sampai saya merasa seperti tersedot ke dalamnya dan merasakan diri ini sangat-sangat kecil di hadapan luasnya alam semesta.

Bangunan sekre juga sempat mengalami renovasi di era kepemimpinan Anton (’08). Renovasi dilakukan di akhir kepengurusan dia. Dinding-dinding sekre yang mulai lapuk dimakan usia digantikan dengan papan GRC yang lebih keras dan ternyata beratnya juga bukan main. Saya mencoba mengangkat satu papan bersama dengan dua orang ketika itu ke lantai 4 langsung merasa kepayahan saking beratnya papan tersebut. Selain mengganti dinding, bagian dalam dan luar sekre juga dicat ulang. Yang menyenangkan meskipun melelahkan adalah kami sendiri yang mengecat dinding-dinding tersebut. Makanya, ketika beberapa era setelahnya dipanggil tukang untuk mengecat dinding yang catnya mulai luntur terkena air hujan, saya agak sedikit tersinggung ketika itu. Jika yang mengerjakan adalah pengurusnya sendiri, ya tidak apa-apa catnya mau diganti dengan warna apapun, tapi ketika yang mengerjakan orang lain, kok jadi tidak elok ya?

Masa lalu adalah serangkaian kisah yang menjadi sejarah. Kehidupan di H* juga tidak luput dari yang namanya sejarah, wong berdirinya juga sudah hampir 50 tahun. Bagi saya sejarah adalah sebuah hal penting, sebab sejarah menjadi sebuah titik acuan dalam mendefinisikan diri. Entah itu diri seseorang, atau sebuah organisasi sekali pun. Catatan sejarah yang paling saya sukai adalah buku komunikasi alias bukom Himastron. Buku-buku buluk berusia sekitar 20 tahunan tersebut sempat lama mendekam di loteng sekre sebelum akhirnya turun gunung dan saya sempat bawa ke kosan di Taman Hewan untuk saya selami. Itu adalah cara saya berkenalan dengan orang-orang yang pergi dari H* sebelum saya kemudian lahir. Ada yang isinya lucu, menegangkan, tapi jarang yang bernada sendu. Yang sendu biasanya diberikan dalam bentuk larik-larik puisi. Yang membuat saya kadang sebal adalah ketika tulisan di bukom tidak terbaca saking jeleknya tulisan si penulis. Era bukom berjalan sekitar 20 tahun di antara tahun 1993-2011. Bukom paling sering berganti ketika angkatan 2000-2002 banyak beraktivitas di himpunan, indikatornya adalah dalam setahun bisa sampai terdapat tiga bukom saking produktifnya orang-orang mengisi bukom tersebut. Ketika era laptop hadir dan kemudian smartphone menjadi hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia, bukom pun perlahan tersingkirkan. Untungnya, pengurus Wendi (’12) menghidupkan kembali bukom, semoga umur bukomnya juga pendek.

Jika bukom, merekam kehidupan setelah 1993 maka, kehidupan sebelumnya lebih banyak direkam oleh foto-foto. Geli juga rasanya melihat bapak ibu dosen memakai jaket himpunan dan bahkan diospek oleh kakak kelasnya. Jika melihat foto mereka rasanya sulit dipercaya mereka dulu sempat mengisi himpunan. Ada pertanyaan dalam benak saya sebenarnya, kenapa sebelum 1993 belum ada bukom dan setelahnya baru ada? Apa yang terjadi ketika itu?

Foto-foto lama tersebut doakan saja bisa saya scan semuanya, sebab sebagian sudah mulai rusak juga kertasnya. Dan bahkan ada yang sudah hilang entah ke mana.

Sabtu lalu (2/5), ada banyak foto baru yang dibuat bersama orang-orang lama dan baru. Paling senior adalah angkatan 1991 dan paling junior adalah 2013. Lega rasanya ketika hari itu akhirnya berjalan. Saya sempat khawatir kekurangan dana, namun ternyata malah kelebihan dan sisanya bahkan bisa dipakai untuk mengadakan satu kali lagi acara yang serupa. Sempat was-was juga yang hadir akan sedikit, padahal makanan yang disiapkan cukup banyak, namun Alhamdulillah makanan pun tandas hari itu juga padahal yang kami siapkan masih ditambah partisipasi dari yang lain yang membawa makanan seperti kue dan buah. Kekurangan tentu saja ada, seperti tidak ada sambal (haha). Saya benar-benar bahagia hari itu melihat semua orang yang hadir bisa tertawa bersama dan duduk bersama di halaman belakang. Sayang satu hari hanya ada 24 jam dan kesibukan lain perlahan pasti menyergap, saya ingin hari itu berjalan lebih panjang untuk bisa mendengar kisah-kisah dari orang lain terutama yang lebih senior, apa daya itu tidak terwujud. Kelak mungkin ketika ada acara serupa, kesempatan bertanya dan menyimak itu bisa hadir. Saya harap dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi dengan jumlah orang yang lebih banyak, rentang usia yang lebih jauh dan makanan yang lebih banyak lagi sehingga ada lebih banyak lagi kegembiraan yang bisa dirasakan pada hari tersebut.

Terima kasih.

Advertisements

3 thoughts on “Vivat H*!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s