Bandung, 15 Juni 2015

Dua hari yang melelahkan jasmani, tapi rohaniah saya justru malah merasa sangat segar.

Dua hari ini diawali oleh ketika saya pergi naik bis dari Jatinangor ke Dipati Ukur.Ketika saya naik angkot dari rumah ke tempat bis biasa mangkal, ternyata jalanan macet! Fenomena yang sangat langka bagi saya di Jatinangor menemukan kemacetan. Usut punya usut, ternyata Presiden dan Mendagri akan menghadiri wisuda pamong praja muda IPDN angkatan ke 22. Pada jam 10 saat bis yang saya tumpangi hendak masuk ke gerbang tol Cileunyi, belum ada tanda-tanda rombongan Presiden muncul di jalan, entah terlambat atau bagaimana. Padahal di beberapa bagian pagar yang membatasi IPDN dengan jalan raya, sudah terlihat gerombolan warga yang ingin melihat Presiden dari dekat. Dan ada juga segelintir mahasiswa yang nekat melakukan demonstrasi dengan jumlah yang sangat sedikit. Keawaman saya bilang bahwa demonstrasi dengan jumlah orang seperti itu mubazir. Saya malah merasa kasihan melihat mereka panas-panasan berteriak kepada orang yang bahkan sedang berada di mana pun, mereka tidak tahu, seperti bicara dengan angin saja.

CYMERA_20150615_090629
Petugas keamanan memperhatikan segelintir demonstran

Sampai di Bandung saya ngadem dulu di himpunan, dan memang ada barang titipan yang perlu diperiksa apakah sudah ada atau belum. Oh sebelum saya naik ke lantai 4, saya melihat adegan yang membuat sedih. Penghancuran gedung Ex MKOR. Angkatan berapa ya terakhir yang masih mengenal istilah Ex MKOR? Sebagian besar sekarang mengenalnya sebagai KBL dan Tokema. Padahal waktu saya baru masuk kandang gajah ada Kokesma,MGG, Radio Kampus, Tim Beasiswa, KM ITB ikut menghuni bangunan yang kamar mandinya kondisinya cukup mengenaskan. Sedih rasanya melihat tempat berkali-kali menunggu makanan atau sekedar bercengkrama sore membincangkan hal-hal yang penting maupun tidak. Dan di sekitar sana juga dulu sempat beberapa kali ikut baris berbaris bersama puluhan kawan lainnya. Sempat juga beberapa kali menginap di bangunan yang letaknya paling ujung. Nostalgia memang beracun (haha).

CYMERA_20150615_112230
Penghancuran Ex Mkor (1)
CYMERA_20150615_112240
Penghancura Ex MKOR (2)
CYMERA_20150615_112249
Penghancuran Ex MKOR (3)
CYMERA_20150615_212142
Ridlo dan Sulis beserta perabotnya
CYMERA_20150615_221728
Ini bukan iklan

Setelah istirahat beberapa saat dan mengobrol dengan beberapa orang, langkah kaki diayunkan ke Sabuga untuk ikut membantu mendekorasi stand SEMAI2045 di acara Festival Anak Bertanya. 
 Di sana sudah menunggu teh Inday, yang ternyata masih sendiri. Belum ada kegiatan yang bisa dilakukan karena baik material maupun alat untuk mengerjakan dekorasi masih dalam perjalanan semua. Tidak lama kemudian material dan alat pun datang. Namun ternyata masih ada yang kurang. Teh Inday pun meminta saya untuk mengambil kekurangan yaitu poster dua buah dan membeli impra board dua buah. Ini pertama kalinya saya mendengar impra board. Balik ke himpunan untuk mengambil tas dan terminal kabel, Eh malah ketemu teman yang lama ga diajak ngobrol, walhasil saya nyangkut agak lama. Makanya saya lama baru kembali ke Sabuga, bukan karena perjalanannya lama namun karena lama mengobrol. Poster yang dikira belum dicetak, ternyata tinggal diambil dan dibayar. Impra board dua buah tinggal diikat dan dibayar. Mungkin hanya makan waktu setengah jam semua itu dilakukan, padahal seingat saya, kemarin meninggalkan Sabuga sekitar dua jam.

Setelah impra board dan poster dibawa ke Sabuga, pekerjaan berjalan lebih lancar. Yang lama memang adalah memasang photo booth yang bentuknya bagi saya cukup rumit. Saya membantu teh Inday, yang berarti sesama 103, sedangkan dua orang lagi teh Wilda dan…(lupa >.<) mengerjakan hal lain, sepertinya sih menggambar pohon untuk kemudian ditempeli oleh “buah” berisikan cita-cita anak 30 tahun ke depan, serta menempelkan kartu kuartet yang salah cetak. Seharusnya dicetak bolak-balik namun malah dicetak terpisah dan jumlahnya pun kurang sehingga hanya separuh yang bisa digunakan untuk hari-h. Menjelang magrib, Toru, suami teh Inday datang. Dia pun kemudian diminta untuk membuat tambahan dekorasi. Maklum anak fakultas seni rupa. Saya sendiri takjub melihat dia begitu mudahnya membuat papan penunjuk berbentuk jari dan beberapa aksesoris lain dengan lancar.

Saya tidak bisa ikut menyelesaikan pemasangan dekorasi karena ada hal lain yang akan dikerjakan. Dan ini membutuhkan lebih banyak tenaga. Malam itu saya hendak membantu dua orang teman untuk pindah kontrakan. Saya memang sudah pernah bilang kepada mereka apabila hendak melakukan pindahan, saya siap membantu. Mereka adalah Ridlo dan Sulis yang baru sekitar tiga bulan melangsungkan pernikahan di Kebumen.

Setelah malam itu, sepertinya saya kapok membantu pasangan suami istri pindahan. Tadinya saya pikir barang mereka hanya ada sedikit mengingat mereka belum lama melepas status mahasiswanya, sehingga tidak akan ada banyak perabotan yang mereka miliki. Tapi ternyata saya salah! Dalam hal menggunakan rasio daripada perasaan, Sulis saya akui tidak seperti perempuan kebanyakan. Meskipun demikian ternyata dia tetap perempuan yang punya banyak pakaian, dan entah benda macam apa lagi yang ikut diangkut pindah dari Cisitu gang VI dan I ke gang di daerah Gagak. Yang jelas ada bungkus minuman kemasan yang seharusnya sudah dienyahkan karena sudah melewati batas kadaluarsa, tapi entah kenapa masih saja disimpan dan bahkan dibawa pindah. Tapi ini orang yang sama yang dulu pernah “menabung” lanting sampai lanting-lanting tersebut menjadi asupan gizi bagi tikus-tikus yang ikut menghuni kontrakan secara gratis. Bukunya juga cukup banyak dan tebal-tebal. Untuk hal ini tentu saja patut diacungi empat jempol. Perkiraan saya ada sepuluh kali pergi pulang memindahkan barang dari rumah ke mobil dengan menggunakan tenaga dua orang. Ketika Ridlo mengatakan letak rumah yang menjadi tujuan lebih jauh dari yang sekarang, hati saya terus terang agak ciut karena selesai mengangkut barang ke mobil saja sudah membuat terengah-engah.

Setelah sedikit berputar-putar karena pintu masuk yang awal tidak ada area yang bisa menjadi tempat parkir, diparkirlah mobil di depan penjual bakso. Pengiriman pertama barang-barang ke kontrakan memang membuat saya rasanya lemas saja. Perjalanan memakan waktu sekitar 5 menit, yang berarti untuk sekali bolak-balik menghabiskan waktu sekitar 10 menit. Belum letak rumahnya yang mengambil posisi di lantai 2. Untunglah ada Sanny dan Habib yang ikut membantu dan malah mencarikan pinjaman gerobak. Penderitaan pun terasa semakin ringan. Ada sekitar lima kali gerobak mengangkut barang-barang. Pindahan yang dimulai sekitar jam 19.30 berhasil diselesaikan sekitar jam 22. Entah akan bertambah berapa menit lagi jika seandainya tidak ada Habib dan Sanny serta tidak ada gerobak. Mungkin jam 00 kami masih terseok-seok menyeret kasur di sepanjang gang tersebut. Setelah barang-barang selesai diangkut ke lantai dua, kami kemudian mencari makan. Kami akhirnya makan ikan bakar. Dua ikan untuk bertiga, dengan nasi masing-masing satu setengah. Makan rasanya lahap sekali karena kami semua kelelahan. Tiba kembali di rumah jam 23.30 dan setelah sedikit mengobrolkan hari itu dan mengecek sudut-sudut rumah serta mencoba alat penyaring air milik mereka, saya kemudian tidur. Sama seperti yang akan saya lakukan sekarang karena kepala sudah mulai berdenyut…

Kegiatan hari Selasa ditulis di tulisan selanjutnya. Selamat malam. Atau pagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s