Buka bersama 1436 H

CYMERA_20150624_172017Salah satu kegiatan yang paling dinanti-nanti saban Ramadhan tiba adalah berbuka puasa bersama. Entah bersama keluarga, bersama teman, atau yang lain.

Sudah menjadi kebiasaan saya selama berada di Bandung untuk ikut berbuka puasa bersama dengan teman-teman. Sebelumnya, kami sering menumpang di rumah Dzikra untuk mengadakan buka bersama. Di sekretariat H* yang terakhir saya ingat adalah ketika angkatan 2009 baru masuk menjadi anggota biasa. Menunya es kelapa muda dan gorengan yang ketika itu harganya masih 500 satu potong. Sekarang mungkin sudah naik dua atau tiga kali lipat.

Ramadhan 1436, buka bersama saya di luar rumah sepertinya cukup satu kali saja yang Rabu kemarin dilaksanakan di rumah Ridlo dan Sulis.

Hari Rabu tersebut, buka bersama yang diadakan oleh Ridlo dan Sulis memang hanya mengundang sedikit orang. Cuma mengajak melalui media sosial sedangkan saya mengundang siapa pun yang saya temui di sekre sebelum hari h tiba. Karena sekre nyaris dapat dikatakan tidak ada orang, walhasil yang diajak juga semakin sedikit jumlahnya.

Ridlo dan Sulis dibantu oleh Puan dan Hamida untuk memasak menu hari itu yang berupa ayam goreng, tumis kangkung, sambal, tempe goreng dan kerupuk yang dilengkapi dengan sirup dan buah semangka sebagai pencuci mulut.

Sebelum saya ke rumah mereka, saya ke sekre terlebih dulu untuk menjaring orang selain bertemu dengan Arif yang memang ingin ikut. Tapi ternyata Arif tidak ada, dan dia sedang pergi ke Tubagus. Saya malah akhirnya pergi dengan Bisma naik angkot Caheum Ciroyom sampai sebelum pom bensin jalan Suci dan kemudian berjalan kaki ke rumah Ridlo. Di sekre saya sempat mengobrol sekitar satu jam dengan Dimas soal kecengannya dan lain-lain.

Sampai di sana sudah ada Zam-Zam, Maha, Lulus, Rika, selain pihak yang sudah meramu hidangan.

Ketika bertemu Rika, wah ternyata dia sudah memasuki usia kehamilan 6 bulan! Tapi masih sanggup untuk naik ke lantai dua. Saya juga jadi tahu bahwa yang membantu Ridlo mendapatkan rumah mereka sekarang adalah Rika yang sebelumnya berniat mengontrak di sana namun sedikit cemas mengingat kelak ketika ada bayi akan lebih rawan untuk naik turun tangga. Belakangan Rika dan suaminya yang ternyata senior saya di SMA, mengontrak tidak jauh juga dari sana. Malah mereka jadi bertetangga.

Arif, yang sebelumnya bimbang apakah akan ikut buka bersama atau tidak akhirnya memutuskan menyusul kami. Yang terakhir datang adalah Majid, azan sudah berkumandang tapi dia baru tiba di rumah. Akhirnya kami pun lengkap 13 orang menikmati tajil yang kalau saya tidak salah ingat adalah risol dan pisang aroma yang untungnya tidak mengandung keju sebab Majid tidak akan bisa ikut menikmati kalau ada kejunya.

Setelah selesai shalat magrib di mesjid, kami kemudian makan hidangan utama. Sambalnya pedas. (haha) Khas si Sulis, maklum dia pecandu makanan pedas. Saya cuma bisa geleng-geleng kepala kalau melihat dia menikmati makan sambal dengan lahap.

 

CYMERA_20150624_173637 CYMERA_20150624_175048

CYMERA_20150624_175106  CYMERA_20150624_175117

IMG-20150624-WA0011
Saya dan Arif sedang melihat semut yang berbaris di kabel listrik yang menjalar di sekitar rumah.

Ketika memasuki waktu Isya, hanya saya, Ridlo dan Majid yang pergi ke masjid untuk berjamaah. Sisanya memutuskan pulang sedangkan Puan dan Sulis tetap di rumah untuk membungkus makanan yang masih tersisa supaya dibawa pulang oleh teman-teman yang masih mahasiswa dan mahasiswi.

Kembali dari masjid, Majid dibekali nasi, begitu pula Lulus yang mengantar Puan pulang ke Cisitu. Lulus sedang flu, kata dia karena dua hari pergi memancing di waduk Cirata.

Saya tidak pulang. Saya memilih menginap di rumah mereka. Setelah semua tamu pulang, dan tersisa saya sebagai orang ketiga, saya ditemani Ridlo yang sedang menyalin kembali isi blognya yang sempat dengan bodohnya terhapus oleh dia sendiri. Berkat kehebatan internet khususnya, Archive.org , Ridlo berhasil menyelamatkan hampir seluruh isi Astrokode yang sudah cukup banyak menghasilkan tulisan bermutu. Saya juga diajari tentang beberapa hal soal mengoprek WordPress yang mudah-mudah. Saya terus terang saja sudah melewati masa ingin mempercantik tampilan blog, lebih ingin supaya isi tulisannya lebih berisi ketimbang penampilannya menawan. Tapi sepertinya tidak ada salahnya dicoba.

Sahur, kami makan ayam goreng dan nasi yang masih tersisa dari hidangan buka kemarin malamnya. Sulis sendiri tidak makan nasi. Yang membuat saya merasa tidak heran kenapa badannya segitu-gitu aja ukurannya. Dia cuma makan pisang bakar yang dilumuri mesis dan susu. Enak tenan.

Setelah shalat Subuh, kami sempat bertahan untuk tidak tidur mungkin sampai sekitar jam 6 pagi. Setelahnya terkulai lemas sampai jam 8. Jam 8 setelah sibuk memainkan hape dan laptop selama sekitar 20 menitan, Ridlo pergi ke Pusdai untuk memperbaiki mesin penanak nasi mereka yang rusak. Saya ikut dengan Ridlo sekaligus saya pulang dari tempat mereka.

Di Pusdai ternyata ada jasa memperbaiki kompor dan bermacam-macam alat elektronik lainnya seperti setrika, dvd/vcd player, radio , dan lain-lain. Ridlo dan saya menunggu selama sekitar 15 menit sementara mesinnya diperbaiki. Sekilas pandangan saya, ada alat yang diganti. Tapi entah apa yang diganti.

Ketika menunggu tersebut, saya teringat ketika suatu sore pulang bersama Onta dari kampus dan ban sepeda motor kami bocor. Saya sudah was-was, bagaimana caranya pulang dengan kondisi seperti ini? Sementara di kejauhan tidak terlihat ada tukang tambal ban. Setelah berjalan beberapa lama, akhirnya kami menjumpai tukang tambal ban yang hidup sendiri di kiosnya tersebut. Beliau dengan cekatan melakukan banyak hal yang saya tidak mampu lakukan.

Yang saya sadari dari dua kejadian ini adalah sepertinya keahlian-keahlian yang bersifat praktis seperti ini kurang dihargai oleh masyarakat kita. Mungkin saya salah, mungkin saya berlebihan melihatnya dikarenakan saya terus terang tidak bisa menambal ban yang bocor atau membongkar magic com yang rusak untuk kemudian diperbaiki. Tapi melihat betapa kecil kios tukang tambal ban yang kami temui malam itu, dan betapa kumalnya gerobak bapak penjual jasa memperbaiki kompor di Pusdai, saya kok merasa mereka terlalu diremehkan. Penghasilan mereka kok sepertinya tidak sebanding dengan jasa yang mereka tawarkan? Atau saya salah? Keahlian tersebut sebenarnya bisa dipelajari dengan mudah sehingga tidak perlu kemampuan otak yang tinggi untuk bisa melakukan hal tersebut? Tapi toh, berapa banyak misalnya mahasiswa ITB yang bisa memperbaiki komputer mereka sendiri atau memperbaiki sepeda mereka sendiri? Dengan mulai bermunculannya jasa instalasi sistem operasi di forum jual beli kampus, yang di mata saya adalah proses yang sangat mudah, saya pikir anak ITB sekarang cenderung tidak akan mampu melakukan kedua jenis pekerjaan di atas.

CYMERA_20150625_090719 CYMERA_20150625_090734

Harapan saya, semoga tahun-tahun berikutnya yang bisa ikut buka bersama akan lebih banyak lagi. Bahagia euy kalo yang dateng banyak! 😀

.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s