Potret Buram Manusia Indonesia

CYMERA_20150709_121627Saya mau sedikit mengulas buku yang merupakan ceramah yang disampaikan pada tahun 1977, saat orde baru telah berumur 10 tahun.

Penceramahnya adalah Mochtar Lubis, yang pertama kali saya kenal lewat karyanya berjudul Harimau, Harimau.

Ceramahnya diberi judul “Manusia Indonesia”.

Secara umum, ceramah tersebut mengkritisi bangsa Indonesia dengan mengetengahkan enam jenis stereotipe yang saya pikir masih relevan sampai saat ini meskipun telah 38 tahun berlalu sejak stereotipe ini dilontarkan di depan hadirin di Taman Ismail Marzuki.

Ciri pertama adalah Munafik. Munafik ditandai dengan berbicara satu hal di muka, lain hal di belakang. Sikap munafik ini salah satu indikatornya ketika itu adalah sikap tentang seks. Ketika di depan umum mengecam penghidupan seks yang terbuka ataupun setengah terbuka namun di sisi lain tetap mengatur supaya prostitusi tetap mendapat tempat baik melalui pemerintah maupun swasta. Selain itu, dalam menyikapi korupsi pun masyarakat Indonesia bermuka dua. Lubis menyebutkan korupsi di Pertamina yang sudah gamblang fakta-faktanya namun tidak kunjung mendapatkan penanganan hukum yang tepat. Hukum sejak lama sudah berlaku tumpul ke atas dan lancip ke bawah. Dan kita jadi terbiasa mengungkapkan persetujuan maupun ketidaksetujuan dengan penuh keambiguan semata-mata demi melindungi diri sendiri.

Ciri kedua adalah enggan bertanggung jawab atas apa yang telah dia perbuat. Sering terjadi pelemparan tanggung jawab antara atasan dengan bawahan. Yang di bawah biasa mengatakan “Saya hanya menjalankan perintah atasan” untuk menghindari tanggung jawab. Sebaliknya ketika terjadi sebuah keberhasilan, orang-orang berlomba untuk mengakui keberhasilan tersebut sebagai sebuah hasil karyanya.

Ciri ketiga adalah jiwa feodal. Salah satu warisan kuno bangsa Indonesia yang masih mengakar adalah feodalisme. Feodalisme berarti seorang atasan mengharapkan manusia-manusia dengan kedudukan di bawah dia untuk selalu tunduk patuh kepadanya. Dalam hubungannya dengan kekuasaan, raja dianggap sebagai pemilik kuasa yang bersumber dari Tuhan atau dewa sehingga apa pun yang menjadi properti seorang raja dianggap keramat. Di era setelah kemerdekaan, kata “Raja” berganti wujud menjadi presiden, menteri, jenderal, gubernur, rektor, dan lain-lain. Akibatnya tidak terjadi komunikasi yang sehat antara kedua belah pihak. Penguasa enggan mendapat kritikan sementara rakyat takut untuk melontarkan kritik.

Ciri keempat adalah percaya akan takhayul. Bahkan sampai saat ini masih banyak di masyarakat kita yang mempercayai bahwa batu,gunung,pantai, sungai dan lain-lain mempunyai kekuatan gaib. Banyak pantangan kemudian diutarakan. Di beberapa daerah menganggap hewan sebagai sesuatu yang keramat. Di Jawa, keris bisa mempunyai bermacam fungsi mulai dari yang membawa rezeki hingga mampu mengirimkan bala. Sebagian daerah percaya adanya likantropi atau manusia yang bisa menjelma menjadi binatang. Ini membuat kita jadi mengagung-agungkan lambang. Bermacam-macam mantera dibuat mulai dari Nekolim, Vivere Pericoloso, Berdikari, Jarek, Usdek, Manipol hingga kemudian Tritura, Ampera, pemberantasan korupsi, insan pembangunan, dan sebagainya. Kita seperti meyakini bahwa hanya dengan mengucapkan itu semua maka dia serta merta terjadi. Di era ’70-an mantera yang lazim adalah modernisasi, teknologi, planning, industrialisasi, produksi, ilmu modern, multinational corporations. Kita hanya punya impian, yang saking terasa nyatanya seakan-akan kita malah jadi seperti merasa cukup dengan punya impian. Padahal mimpi itu harus dibangun. Akibat lainnya, kata-kata menjadi hampa makna. Sebab ide berhenti hanya di map-map berisi perencanaan tanpa pernah benar-benar dilaksanakan.

Ciri kelima adalah artistik. Dampak positif dari kesukaannya menempelkan ruh pada semua benda alam di sekelilingnya adalah kecenderungan untuk dekat dengan alam. Lebih mengandalkan naluri, perasaan yang ini berperan besar untuk menghasilkan karya seni yang artistik. Kekayaan ragam budaya di Indonesia adalah hasil yang paling nyatanya. Dan tidak sedikit hasil kebudayaan ini yang diapresiasi tinggi di mata warga negara di luar Indonesia.

Ciri keenam adalah berwatak lemah. Cenderung kurang kuat untuk mempertahankan keyakinannya sendiri. Mudah untuk mengubah keyakinan apalagi untuk mempertahankan dirinya. Ini juga terjadi di kalangan intelektual.

Di atas adalah resume keenam ciri yang ditonjolkan oleh Mochtar Lubis. Sebenarnya masih banyak ciri lainnya yang kemudian dia sampaikan di bagian lain tulisan. Yang menyedihkan bagi saya adalah dari 6 hanya ada 1 yang positif. Seakan-akan bangsa ini sangat brengsek bahkan sejak zaman nenek moyang mulai menetap.

Dalam ulasannya, beberapa kali Mochtar Lubis menyinggung kasus Pertamina dengan Ibnu Sutowo sebagai pelaku utamanya. Saya sendiri kurang paham duduk permasalahan kasus tersebut.

Yang menggelitik saya adalah kenyataan bahwa hal-hal yang disampaikan 38 tahun silam masih relevan dibicarakan sekarang. Bahwa sejak lama ada upaya pemberantasan korupsi yang seperti jalan di tempat. Bahwa dari dulu sampai sekarang hukum adalah pilih kasih. Bahwa bangsa kita sampai sekarang di beberapa daerah masih memiliki pandangan yang berbau dinamisme. Jadi sudah sampai di mana sekarang perjuangan bangsa Indonesia dalam mewujudkan keadilan sosial jika hukum masih saja seperti mudah untuk dibeli? Terakhir yang saya tahu adalah ketika Budi Gunawan menang di praperadilan. Menyedihkan memang. Tapi salah satu penyebab kenapa semua kebrengsekan itu terjadi bagi saya adalah karena banyak ide-ide baik hanya manis di bibir. Tidak mewujud dalam sebuah karya nyata. Masyarakat dibentuk untuk menjadi apatis karena muak dengan segala janji-janji manis yang dilontarkan pada saat kampanye. Kita juga tidak boleh lupa bahwa keenam uraian singkat di atas adalah stereotipe yang berarti merupakan sebuah kecenderungan dan tidak sepenuhnya mutlak benar adanya.

Buku yang saya beli juga memuat beberapa kritikan terhadap ceramah tersebut. Di antaranya dari Sarlito Wirawan Sarwono, Margono Djojohadikusumo, dan Abu Hanifah. Semua kritik dimuat pula tanggapannya lagi oleh Mochtar Lubis sendiri. Suatu kebiasaan yang sangat baik saya pikir karena menunjukkan keterbukaan pikiran dan kemauan untuk setidaknya mendengar kritik yang dilontarkan di hadapan publik.
Zaman sekarang saya kesulitan mendapatkan tulisan yang isinya merupakan “dialog” antara para intelektual bangsa di media massa. Yang sering muncul hanya saling menjelekkan. Tapi mungkin saja sayanya yang kurang membaca.

Sebagai sedikit info tambahan, buku yang saya punya adala cetakan kelima  edisi kedua yang diterbitkan bulan Maret 2008. Saya mendapatkan bukunya di pameran di Braga. Bukunya juga tebalnya hanya 140 halaman. Satu hari pun lebih dari cukup untuk sekadar membacanya. Memahaminya itu urusan lain lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s