Anak-Anak dan Masjid

Kemarin malam di masjid tempat saya biasa ikut sebagai jamaah tarawih, penceramahnya menyampaikan sebuah kritik. Kritiknya adalah kepada orang tua agar lebih mendidik anak-anaknya untuk bisa mengikuti kegiatan di masjid dengan lebih tenang supaya semuanya bisa lebih khusyuk dalam beribadah.

Sebelumnya saya cerita sedikit tentang bagaimana saya menghabiskan masa kanak-kanak saya di bulan Ramadhan khususnya menjadi jamaah tarawih. Saya enam tahun menjadi jamaah di aula gedung komplek Mahkamah Agung di daerah Kemanggisan. Hanya ada beberapa kesempatan saya tidak shalat di sana. Tapi itu sangat jarang sekali.

Di aula, susunan jamaah dibagi menjadi pria dewasa, anak-anak, kemudian ada selang yang bisa diisi 2-3 shaf baru kemudian barisan perempuan. Barisan anak-anak yang isinya dari berbagai jenis usia bergabung menjadi satu. Mulai dari usia sd sampai sma pun masih ada di sana.

Anak-anak sebagaimana lazimnya mereka, senang bercanda dan sulit untuk serius. Saya ingat, ada saja yang diperbuat untuk memancing ketawa teman di sebelahnya. Mulai dari menirukan bunyi kentut, menyenggol hingga doyong ke kiri/ kanan, mengambil peci temannya, dan lain-lain. Dan seperti juga kantuk yang bisa menular, satu orang tertawa, yang lain juga akan ikut tertawa. Ada yang malu-malu, ada yang membuka mulutnya dengan lebar. Itu ketika mereka shalat.

Saat sedang ceramah, hampir dapat dipastikan mereka membuat kegaduhan sendiri di barisan mereka. Ini yang sering kali mengganggu. Kadang, suara mereka mampu bersaing dengan kerasnya suara yang keluar dari pengeras suara yang memancarkan suara penceramah.

Situasi ini kadang diatasi dengan cara mengusir anak-anak yang membuat kegaduhan keluar dari area peribadahan. Kadang didiamkan saja karena mungkin sudah bosan menegur mereka.

Di sini saya melihat ada permasalahan lain yang timbul akibat metode “pengusiran”. Beberapa hari yang lalu saya membaca tulisan di Facebook yang mengatakan bahwa anak-anak jangan diusir jika mereka membuat gaduh. Pakai cara lain. Sebab pengusiran, jika membekas dikhawatirkan akan membuat anak-anak ini menjadi tidak akrab dengan masjid. Dan ketika mereka dewasa, mereka akan canggung dengan tempat tersebut. Saya pikir ini ada benarnya juga, sebab apa yang terjadi ketika anak-anak punya bekas yang cukup kuat terpatri dalam dirinya. Saya juga melihat bahwa seringkali pengurus masjid didominasi kalangan yang sudah menjelang uzurnya. Mungkin anak mudanya enggan beraktivitas di masjid karena perasaan terusir masih ada di relung hatinya.

Saya jadi bingung, bagaimana caranya mendamaikan kedua hal yang bertentangan ini. Apa yang bisa dilakukan supaya anak-anak tidak perlu diusir dari areal masjid dan seluruh jamaah tetap bisa beribadah dengan khusyuk? Orang tuanya jelas harus bisa menanamkan sejak dini bahwa di masjid perlu ketenangan dan juga jangan malah melarangnya pergi ke masjid karena merasa tidak sanggup mendidik anaknya sendiri. Seperti kata seorang bapak di sebelah saya tadi ketika disampaikan himbauan supaya anak-anak diberi tempat di antara jamaah dewasa lainnya supaya meminimalisir kesempatan mereka bercanda saat shalat, “Anak-anak mah susah”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s