Saya Dipaksa Untuk Menerima Islam

LoDuca

Saya tidak pernah bercita-cita menjadi seorang Muslim.

Saya bahkan tidak pernah ingin menjadi seorang pemeluk agama Kristen.

Seluruh konsep yang bernama “agama yang terorganisir” adalah tidak menyenangkan. Saya ingin menggunakan akal saya, dan bukan bertumpu pada sebuah buku kuno dalam hal memandu saya untuk menjalani kehidupan.

Jika anda menawarkan saya jutaan dolar untuk bergabung ke salah satu keyakinan, saya akan menolaknya.

Salah satu penulis yang saya suka adalah Bertrand Russell, yang menunjukkan bahwa agama tidak lebih dari sekedar takhayul dan secara umum berbahaya bagi umat manusia, meskipun terdapat beberapa hal positif di dalamnya. Russell meyakini bahwa agama dan sikap relijius berperan menghambat ilmu pengetahuan dan mengembangkan ketakutan dan kebergantungan, sebagai tambahan bahwa agama juga bertanggung jawab terhadap banyak peperangan, penganiayaan, dan kesengsaraan yang terjadi.

Saya ingat saya tertawa kencang ketika membaca “Hey, Is That You God?” karangan Dr Pasqual Schievella, yang di dalam bukunya dia mencemooh konsep ketuhanan menggunakan dialog satir. Semua nampak logis. Pemikir seperti kami pastinya berada di atas para penganut agama yang setia, pikir saya dengan sombong.

Namun, bagi saya, berpikir bahwa saya lebih baik jika hidup tanpa agama belumlah cukup. Saya ingin secara sistematis membuktikan bahwa agama tidak lebih dari sebuah hoax. Saya secara sengaja memilih untuk melakukan hal tersebut. Tapi, lihat saya sekarang. Seorang Muslim.

Tentu saja saya mengucapkan kalimat syahadat, tetapi pilihan yang saya buat dulu bukanlah sebuah pilihan yang sejati. Secara esensial, saya terdorong– dipaksa untuk menerima Islam.

Menariknya, dalam pembicaraan saya dengan para pemeluk agama-agama, terutama yang bukan Islam, saya sering mendapati bahwa mereka memiliki hasrat untuk meyakini. Seolah-olah, tidak peduli betapapun banyaknya kontradiksi ataupun kesalahan yang ditunjukkan dalam kitab suci mereka, mereka akan meremehkannya dan mempertahankan keyakinan mereka tanpa bertanya lebih lanjut.

Jarang saya temukan bahwa kitab suci merekalah yang membuat mereka yakin, namun lebih kepada mereka sendiri yang memutuskan untuk memiliki sebuah keyakinan, dan setelah itu kajian baru dimulai, itu pun jika ada. Mereka mengetahui apa yang mereka yakini, bisa disebabkan mereka dibesarkan dengan pemahaman tersebut, atau seperti diutarakan seorang kawan saya, “Islam terlihat asing, sehingga saya tidak pernah menyentuhnya. Kristen lebih familiar dan sesuai, sebab kebanyakan orang di sekitar saya penganut Kristen. Sehingga, ketika saya mencari Tuhan, saya memilih Kristen.”

Secara pribadi, saya tidak pernah menganggap diri saya sebagai seorang pencari Tuhan, tapi jika saya pernah seperti itu, tempat terakhir yang akan saya jelajahi adalah buku tua, bangunan, atau seorang manusia.

Sebagian manusia, yang memutuskan untuk mempercayai sesuatu dari awal, kemungkinan akan mengembangkan tujuan tertentu ketika mereka mulai mempelajari keyakinan yang telah mereka pilih. Saya pun telah memilih untuk mempercayai sesuatu; saya memilih untuk percaya bahwa agama secara sederhana hanyalah delusi buatan yang megah.

Pada kenyataannya gagasan tersebut tidak dibangun dari fakta yang kokoh, dia merupakan sebuah asumsi. Saya tidak punya bukti. Ketika saya membaca buku relijius, saya tidak bias terhadapnya, namun tujuan saya adalah mencari kelemahan di dalamnya. Pendekatan ini membantu saya menjaga tingkat objektifitas dalam jumlah yang adil.

Terjemahan Al-Quran yang saya punya didapat dengan gratis. Saya bahkan tidak mengobrol dengan mahasiswa MSA yang berdiri di dekat meja yang penuh dengan buku-buku. Saya bertanya dengan ketus, “Apakah ini gratis?” Ketika mereka menjawab dengan tegas, saya mengambil satu dan melanjutkan perjalanan saya. Saya tidak punya ketertarikan terhadapnya, hanya sebuah buku gratis yang akan membantu saya dalam meraih tujuan saya untuk merendahkan martabat agama untuk sekali dan selamanya.

Namun, saat saya membaca Al-Quran tersebut; saat sampulnya mulai usang dan halamannya compang-camping, saya merasa menjadi semakin tunduk. Dia berbeda dengan buku relijius lainnya yang sudah saya koleksi. Saya dapat memahaminya dengan mudah. Dia begitu jelas.

Seorang teman saya pernah menggembar-gemborkan tentang bagaimana Tuhan di dalam Islam bersifat pemarah dan pembalas dendam. Saya membantah argumennya tanpa menyadarinya, membukanya dan dengan mudahnya membalik sebuah halaman yang berkata “Tentunya, Allah adalah Maha Pemaaf, lagi Maha Penyayang.”

Seakan-akan Al-Quran tersebut berbicara langsung kepada saya—merespons kehidupan saya. Dia adalah sebuah “buku tua” namun entah bagaimana, semuanya adalah relevan. Sesuatu dari iramanya dan perumpamaannya dan caranya berkomunikasi kepada saya begitu dekat; dia adalah sebuah keindahan yang belum pernah saya rasakan sebelumnya, mengingatkan saya dengan saat-saat ketika saya tinggal di bagian barat, memandang di kejauhan ke arah padang pasir yang seakan tanpa ujung. Saya merasa sangat gembira; sebanding dengan perasaan ketika berlari telanjang kaki di pasir di bawah bintang-bintang dengan debur ombak di samping saya.

Al-Quran menarik menurut kecerdasan saya. Menawarkan saya tanda-tanda dan meminta saya untuk berpikir, untuk merenung, dan mempertimbangkan. Dia menolak gagasan keyakinan buta, namun menganjurkan alasan dan akal budi. Dia mengarahkan umat manusia kepada kebajikan, pengakuan terhadap Sang Pencipta, dan sikap sederhana, kebaikan hati, dan kemurahan hati.

Setelah beberapa saat, dan pengalaman-pengalaman yang merubah hidup saya, ketertarikan saya menguat. Saya mulai membaca buku lain tentang Islam. Saya menemukan bahwa Al-Quran mengandung ramalan, sama seperti di banyak hadits. Saya mendapatkan bahwa nabi Muhammad beberapa kali dikoreksi di dalam Quran. Ini akan jadi janggal, jika memang benar beliau adalah penulisnya.

Saya mulai melewati jalan baru. Dipimpin oleh Quran yang mengagumkan, dilengkapi dengan paradigma indah tentang ketaatan; Nabi Muhammad. Manusia ini sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda seorang pendusta.

Beribadah sepanjang malam, memohonkan ampunan untuk para penindasnya, menganjurkan kebaikan hati. Menolak kekayaan dan kekuasaan dan kegigihan dengan pesan murni untuk taat hanya kepada Allah semata, dia menanggung kesulitan yang tidak terduga.

Semuanya sangat tidak rumit, mudah untuk dipahami. Kita diciptakan; semua kerumitan dan keragaman ini tidak mungkin hadir dari sebuah ketiadaan. Jadi ikutilah Dia yang telah menciptakan kita- Sederhana.

Saya ingat pencahayaan buatan yang hangat di kamar apartemen saya dan bobot udara pada malam ketika saya membaca ayat di bawah ini:

{Sudahkah mereka yang ingkar mempertimbangkan bahwa langit dan bumi merupakan satu kesatuan entitas, dan Kami menghancurkannya berkeping-keping dan menciptakan semua makhluk hidup dari air? Kemudian apakah mereka akan ingkar?}(Quran 21:30)

Benak saya pecah berkeping-keping ketika membaca ini. Ini adalah tentang Big Bang– tiba-tiba bukan hanya teori.. Dan semua makhluk hidup dari air… bukankah itu yang selama ini ditemukan oleh para ilmuwan? Saya terperangah. Itu adalah saat paling menggairahkan sekaligus menakutkan dalam hidup saya.

Saya membaca dan memeriksa berulang kali buku demi buku hingga pada suatu malam saya duduk di perpustakaan di Pratt Institute, menatap dengan nanar kepada tumpukan buku-buku yang terbuka. Mulut saya sepertinya membuka sedikit. Saya tidak dapat percaya apa yang sedang terjadi. Saya menyadari bahwa di hadapan saya, ada kebenaran. Kebenaran yang sebelumnya saya sangat yakin tidak ada.

Sekarang bagaimana?

Hanya ada dua pilihan, dengan salah satunya sebenarnya bukan pilihan sama sekali. Saya tidak dapat membantah apa yang telah saya temukan, mengabaikannya dan hidup seperti sebagaimana hidup saya sebelumnya, meskipun saya sempat mempertimbangkannya sejenak. Ini berarti hanya ada satu pilihan tersisa.

Saya harus menerimanya sebab alternatif lainnya adalah mengingkari kebenaran.


Catatan: Danielle LoDuca adalah penduduk Amerika Serikat generasi ketiga, dibesarkan di lingkungan komunitas yang homogen, kulit putih, dan suburban. Meskipun dibesarkan sebagai Katolik, dia menyebut dirinya seorang agnostik dan memandang rendah agama secara umm sampai dia memutuskan memeluk Islam pada tahun 2002. Dia adalah seorang seniman dengan gelar BFA dari Pratt Institute, dan juga seorang istri dan ibu dari lima orang anak. Pandangan-pandangannya sepenuhnya tanggung jawab dia.

Catatan dari saya:
Saya membuat terjemahan ini supaya saya lebih mudah memahami tulisan Danielle. Sebab ketika saya membacanya pertama kali, terus terang ada perasaan menggelitik dalam diri saya. Jujur saja saya bukan penganut Islam yang baik, bahkan mungkin cenderung jelek. Dan dalam perjalanan hidup saya, sempat juga saya merasa “agama itu apa sih?” Persis seperti yang diutarakan Russell dan diamini oleh Danielle. 

Kadang perasaan itu masih muncul. Tapi saya percaya tidak ada kata terlambat untuk menjadi baik. Mungkin pandangan saya masih egois untuk saat ini, “memperbaiki iman sendiri” tapi dalam pandangan saya, kemampuan saya baru sampai di situ. Memperbaiki iman orang lain, saya belum mampu.

Saya juga sempat merasa sedih karena terus terang dalam membaca Quran, perasaan seperti yang disampaikan Danielle, belum pernah saya rasakan sampai saat ini. Rasa takjub. Rasa bahwa ini adalah kebenaran sejati, belum pernah saya rasakan. Meskipun saya pernah khatam berkali-kali ketika kecil. Seakan semua lewat begitu saja. Sedih jujur saja. Kok kayanya kesempatan saya masuk neraka sangat besar adanya……………

sumber artikel berasal dari : http://muslimobserver.com/i-was-forced-to-accept-islam/

 

Advertisements

One thought on “Saya Dipaksa Untuk Menerima Islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s