Yang Tidak Pulang (-Pulang)

Ramadhan telah berlalu. Di Indonesia, ada satu kebiasaan yang unik dalam menyambut Idul Fitri. Dia adalah mudik.

Tahun lalu saya berlebaran di Depok. Shalat Id di masjid yang paling besar di dekat perempatan RTM. Hari itu adalah salah satu hari di mana saya benar-benar merasa terasing pada saat orang lain merayakan Idul Fitri. Semua kenalan saya di Depok saat itu pulang kampung. Saya sendirian di kios dengan kondisi agak ketakutan karena terdapat barang-barang elektronik yang berpotensi dimaling orang. Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa sampai kios buka kembali beberapa hari kemudian.

Saat itu, saya tidak merasakan ada sesuatu yang hebat sedang terjadi. Hanya lewat begitu saja. Bahkan hari itu saya sempat pergi ke Blok M untuk melihat-lihat. Dan ternyata jalanan Depok sangat ramai. Dalam hati saya bertanya-tanya ini orang-orang apakah mereka asli Depok atau tidak punya uang untuk pulang seperti saya?

Tahun lalu saya tidak ambil pusing bagaimana keputusan dari Kementerian Agama terkait jatuhnya 1 Syawal 1425 H. Masyarakatnya juga tidak peduli. Tapi mungkin saya saja yang bergaul dengan orang-orang yang apatis. Bahkan sempat terjadi perkelahian di pagi hari saat bulan Ramadhan karena bersenggolan di jalan raya yang padat oleh kendaraan mulai jam 5 subuh sampai 23 malam.

 

Tahun ini saya juga belum pulang, tapi kondisinya jauh lebih baik. Saya bahkan dibekali ayam yang telah diungkep dan tinggal digoreng saja.  Sepertinya di desa Cikeruh ini pendatangnya lumayan banyak. Hari terakhir Ramadhan, hanya tersisa warung padang dan bakso saja yang masih menjalankan usahanya. Sisanya, penjual nasi goreng, bubur kacang hijau, nasi pecel, dan lain-lain di sekitar jalan Sayang sudah tidak lagi beroperasi. Saya pikir berarti kondisi orang-orang di sekitar sini tidak terlalu melemah perekonomiannya karena mereka masih tetap bisa mudik meskipun ongkos kehidupan meningkat.

Lagipula, mudik yang sudah mengakar di masyarakat Indonesia seperti sudah merupakan hal yang wajib hukumnya meskipun memakan biaya yang tidak sedikit. Kemarin di televisi saya lihat ada satu keluarga yang nekat menumpang ke sebuah mobil truk untuk pergi ke Banyuwangi dari Jakarta. Ketika ditanya apa alasannya, sang bapak bilang karena tidak ada uang.

Mudik memang menjadi bagian yang sulit terpisahkan dari selebrasi Lebaran di Indonesia. Saya jarang merasakan mudik, salah satunya karena jarang pulang. Saya tidak suka bergelut dengan lautan manusia di terminal atau menikmati antrian kendaraan yang seakan tidak akan pernah putus.

Toh, mudik dari Ujungpandang ke Wajo biasanya memang tidak menjumpai antrian panjang seperti yang saat ini terjadi di jalan-jalan yang menghubungkan kota-kota di Jawa. Mudik saya hanya bepergian menggunakan travel ilegal pada malam hari dengan isi mobil yang penuh oleh manusia dan oleh-oleh yang bermacam-macam. Yang tidak menyenangkan biasanya ketika ada penumpang yang membawa benda yang baunya menyengat seperti misalnya mangga ( yang saya suka) atau durian ( yang saya tidak suka), dan biasanya kursi penumpang dipaksakan untuk menampung lebih banyak orang daripada yang semestinya.

Dua tahun lalu, saya menghabiskan Ramadhan di rumah kakek di Ongkoe. Untuk pertama kalinya seumur hidup saya, saya sahur bersama kakek dan nenek selama sebulan penuh. Kakek dan nenek saya ini dari sisi ibu, yang dari ayah sudah lama meninggal dunia.

Malam ini saat saya menatap layar televisi mengikut pengumuman dari Menag, tanpa disadari ada yang menyerang saya dari dalam. Ketika dikatakan besok adalah 1 Syawal, saya malah menangis. Saya bingung. Apa pasal? Yang terbayang dalam diri saya ada dua kemungkinan.

Yang pertama saya rindu melihat wajah kedua orang tua saya yang sudah dua tahun tidak saya lihat langsung. Yang kedua, yang lebih membuat saya muram adalah jangan-jangan diri saya menyadari kegagalan dalam menjalani Ramadhan tahun ini.

Umur tidak ada yang tahu, sehingga hati saya berontak ingin memarahi diri saya sendiri dan memaksa saya menangis menyesali kebodohan ini. Sedih memang. Saya sadar setiap detik di dunia ini hanya terjadi satu kali tapi entah berapa kali sudah saya menyia-nyiakan kesempatan untuk beramal baik.

 

Kalau orang-orang di luar sana memilih untuk “merayakan” maka saya memilih untuk “meratapi”. Saya tidak merasa menjadi pemenang, lebih menjadi pecundang.

Kalau ada yang bertanya kapan saya pulang, jawabnya masih akan selalu sama. Setelah saya menyelesaikan pertarungan yang sempat terhenti dan meminang seorang gadis.

Semoga cepat!

 

 

Advertisements

One thought on “Yang Tidak Pulang (-Pulang)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s