Before Midnight (2013)

Itung-itung nambah postingan, mari ngomentarin film yang paling terbaru ditonton.

Sebenarnya filmnya nggak baru-baru amat, udah dua tahun berlalu sejak pertama kali nongol di bioskop-bioskop di seluruh dunia. Tapi karena saya hobi nonton filmnya baru berkembang setahun belakangan ini jadi ya telat deh.

Judulnya adalah Before Midnight. Film morantis kalo kata sebagian orang. Tapi buat saya film yang merupakan film penutup dari sebuah trilogi ini justru lebih merupakan film filsafat. Pasalnya dari ketiga film yang sudah saya tonton semua, adegannya didominasi percakapan antara si Jesse dengan Celine yang mendiskusikan kehidupan.

Tadinya saat akan menonton film yang pertama, Before Sunrise, akan membosankan karena temanya asmara. Maklumlah, sinis duluan. Setelah menikmati film pertama beberapa bulan yang lalu, ternyata saya malah kepincut dan akhirnya berhasil menyelesaikan trilogi ini dua hari yang lalu.

Khusus mengenai Before Midnight…erm… Itu anak kembarnya lucu-lucu banget :D.

Ngeliat Jesse yang masih tetap kekanak-kanakan meskipun udah punya dua anak perempuan rasanya kok menyenangkan ya? kaya mau bilang kalo cowo itu emang dasarnya tengil, lah dia makan apel sisa anaknya yang udah…udah teroksidasi(?). sayangnya anaknya ternyata nyariin itu apel, dan yah terpaksa ngarang cerita dah.

Kegiatan mereka ngobrol sama pasangan lain di villa entah kenapa bagi saya malah mengganggu. meskipun demikian, topik yang dibicarakan tentu saja menarik. sedikit banyak menyinggung ide yang dikemukan di film “Her”. Ide utamanya adalah bagaimana jika kelak mesin bisa membuat kita merasakan kepuasan setelah berhubungan seksual, apakah cinta masih menjadi sesuatu yang relevan untuk dirayakan?

Yang seru memang saat mereka bertengkar di hotel pada malam hari. Gagasan utamanya adalah “what if?” Bagaimana jika saya dulu mengambil pilihan yang berbeda apakah nanti akan mengalami nasib yang sama? Si Celine curhat bagaimana menderitanya dia ketika membesarkan si kembar sementara Jesse tur keliling dunia untuk mempromosikan bukunya. Sampai suatu hari dia hampir dicopet ketika membawa si kembar keluar rumah demi membuat mereka berdua terlelap. Jadi ingat omongan seorang kakak kelas yang mengomentari orang-orang yang menginginkan anak kembar karena terlihat lucu : “capeknya kuadrat.”Sementara Jesse sendiri masih dipusingkan dengan hak asuh terhadap anaknya dari istrinya yang tinggal di AS. Si Jesse dan Celine ini kalo ga salah tangkep sih ga nikah juga. Ini juga membuat hubungan mereka rumit di mata saya. Belum lagi ketika mereka akhirnya saling mengakui bahwa mereka saling menyelingkuhi.

Endingnya..eum..is that the ending? dengan kamera yang bergerak menjauhi mereka yang asyik membahas surat dari Jesse di masa depan sebagai permintaan maaf kepada Celine..kayanya sih masih belum..tapi kalo ada film keempat, judulnya apa? Before Sunrise udah yang pertama. Before Sunset adalah yang kedua. So?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s