Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia (jilid 3 ) – Drama di Boven Digul

 Gambar sampulnya merupakan lukisan Di Antara Pepohonan karya Suminto, 1996.
Penampakan bukunya dari depan. Gambar sampulnya merupakan lukisan Di Antara Pepohonan karya Suminto, 1996.

Ini buku paling tebal yang saya selesaikan sejauh ini di tahun 2015. Kalau melihat kalender sih sepertinya akan jadi yang paling tebal sampai ganti tahun. Tebalnya lumayan memang. Sekitar 700 halaman.

Tapi saya tidak merasa rugi sudah menikmati perjalanan bersama Noerani, Moestari, Soebaedah, Dolores, Radeko dan Tjoe Tat Mo.

Benar-benar perasaan diaduk-aduk saban kali pasangan Noerani dan Moestari gagal bertemu setelah malam naas percobaan pengambil alihan kekuasaan oleh PKI tahun 1926 yang gagal. PKI malam itu hendak membuat onar dengan menyerang beberapa penjara setelah sebelumnya memutus aliran listrik.

Apa lacur, sampai waktu yang ditentukan kota masih terang benderang. Dan kocar-kacir lah perkumpulan mereka akibatnya. Ayahnya Noerani, Mas Boekarim ditahan oleh polisi malam itu juga.

Radeko, yang merupakan tokoh paling ingin saya lempar jauh-jauh ke jurang, berhasil melarikan diri ke Kalimantan Selatan. Dia ini, bagi saya seorang politikus sejati yang lihai bermain curang dan berani menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya. Satu-satunya kebaikan dia yang akhirnya sampai mati ditunjukkannya adalah kengototan dia mendapatkan Noerani. Dia pergi ke Kalsel untuk kabur, kemudian setelah mendapati Mas Boekarim dibuang ke Digul bersama Noerani yang ikut guna merawat ayahnya, Radeko pun menyerahkan diri ke pemerintah demi menemui pujaan hatinya.

Noerani, gadis berperangai halus. Teramat halus. Saking halusnya sampai ditindas oleh Radeko. Bibirnya dicium seenaknya. Dipaksanya Noerani mengucapkan janji yang sebenarnya tidak dia inginkan yaitu untuk menjadi istrinya kelak setelah PKI berkuasa. Paksaan ini dilakukan saat Radeko masih mengira mereka akan berhasil. Noerani, yang terombang ambing setelah ayahnya ditahan oleh kepolisian, sempat akan menyusul Radeko ke Kalsel saking putus asanya. Kekasihnya, Moestari juga sudah akan menikah dengan orang lain menyusul kesalahpahaman yang berkali-kali membuat mereka semakin terpisah. Gagal ke Kalsel, Noerani malah pergi ke Legok Sunyi setelah bertemu Dolores yang pandai berpuisi dan berbahasa Inggris. Di Legok Sunyi, Noerani diasah oleh Tjoe Tat Mo dan Dolores supaya tidak selemah dulu pendiriannya. Diajari theosofi. Dan cukup banyak ajaran-ajaran kewelasasihan Konfusianisme. Dia juga jadi pandai menulis setelah berbulan-bulan di sana, dan semakin meyakini bahwa semua kesialan yang menimpa dirinya saat ini adalah karena dia kurang budi baik kepada orang lain. Ketika vonis untuk ayahnya datang, dia sempat ragu apakah akan ikut atau tidak. Tapi setelah diyakinkan oleh Tat Mo dan Dolores, yang sebelumnya juga bimbang, Noerani akhirnya setuju untuk pergi ke tanah buangan demi merawat ayahnya, mempelajari kehidupan manusia di Papua yang masih sangat misterius supaya bisa dibuat kisahnya sendiri, serta mengubah jalan pikiran orang-orang komunis yang dibuang ke Papua. Sayangnya, meskipun dia berhasil mempersatukan cintanya dengan Moestari setelah cobaan bertubi-tubi, nasibnya tetap tidak berakhir menyenangkan. Padahal dia sudah diangkat menjadi Koranowiwing, atau Ratu Jagat oleh para penduduk Papua yang terpesona oleh kepandaiannya mengobati pasien dan kehalusan budinya. Dia juga sudah mendapatkan seorang putri bernama Doresia, untuk mengingatkannya kepada Dolores yang sudah dia anggap sebagai saudara kandung.

Moestari. Demi cinta,mengorbankan segalanya. Mirip dengan Radeko memang dalam hal ini. Tapi bedanya adalah cara mereka memperjuangkannya. Moestari juga bisa dibilang gampang naik pitam. Ketika menyaksikan adegan Noerani dicium paksa oleh Radeko di rumahnya, dia yang hanya melihat sebagian adegan saja, langsung menduga Noerani telah mengkhianati cintanya tanpa pernah sekalipun mau menerima penjelasan dari Noerani. Ketika Noerani hendak memberi penjelasan, banyak hal datang silih berganti merusak kesempatan mereka berdiskusi. Terutama, dari orang tua gadis yang hampir dinikahi oleh Moestari ketika Moestari pasrah mendengar Noerani pergi ke Medan menyusul Radeko sebab Noerani sendiri merasa dirinya sudah tidak pantas menjadi pasangan Moestari. Moestari, bersama Soebaedah, keponakan(?) yang dari awal selalu mendukung hubungan Moestari-Noerani, berkeliling Nusantara mencari rimbanya Noerani. Mereka sempat ke Medan, Singapura, dan Ujungpandang. Moestari yang sempat terkecoh dan kemudian terbuka matanya berkat keponakannya, akhirnya berhasil menyusul Noerani ke Papua, lagi-lagi berkat Soebaedah yang di Ujungpandang membuat resah polisi dengan menyebarkan paham komunis, justru setelah komunis dilarang terutama akibat percobaan pemberontakan yang gagal. Tapi tujuan Soebaedah, bersama suaminya, Moestari alias Sarkum yang pura-pura dinikahinya adalah memang untuk ditangkap kemudian dibuang ke Papua juga. Di Papua, Sarkum alias Moestari setelah pada awalnya berpura-pura tidak mengenali Radeko namun akhirnya mengakuinya juga setelah penyamarannya bocor, kemudian melarikan diri bertiga Noerani dan Soebaedah ke rimba Papua demi menyelamatkan Noerani dari cengkeraman Radeko yang lagi-lagi berhasil mendapatkan janji palsu dari Noerani. Di lubuk Papua, Moestari menjadi pemimpin sebuah kaum yang menetap di daerah yang mereka beri nama Tanah Kebebasan. Seperti Noerani yang digelari Koranowiwing oleh penduduk Papua, Moestari yang menjadi raja di Tanah Kebebasan digelari Koranomang. Setelah Noerani meninggal, Moestari menikah dengan orang lain.

Soebaedah. Ini tokoh idaman saya. Dari beberapa bab yang jumlahnya ada lebih dari lima puluh, ada empat yang judulnya secara gamblang mengatakan “Pengorbanan Soebaedah yang ke…” Terakhir, dia menikah dengan pamannya. Ini salah satu bagian yang membuat saya bingung. Ini paman kok menikah sama kemenakan ya. Salah satu alasan Moestari menikahi Soebaedah adalah karena sebelum Noerani menghembuskan napas terakhirnya, Noerani berpesan supaya kedua orang kesayangannya itu menikah untuk mempererat jalinan antara mereka yang memang sudah sangat erat. Soebaedah adalah orang yang demi mempertemukan Noerani dengan Moestari, melarikan diri dari penjara di Jakarta setelah para polisi salah ringkus mengira dia adalah Noerani anaknya Mas Boekarim. Soebaedah juga yang dengan berani membuat polisi-polisi di Ujungpandang mendapatkan alasan untuk menangkapnya supaya dibuang ke Papua. Kecerdikannya dan keberaniannya membuat saya kagum. Tapi yang lebih besar maknanya tentu saja adalah kemauannya berkorban demi orang lain. Sesuatu yang bagi saya pribadi sangat sulit di zaman serba aku seperti sekarang. Soebaedah juga yang mendapati adanya campur tangan orang lain dalam membuat Noerani dan Moestari terperangkap kesalahpahaman. Dialah yang mengantar Doresia bertemu ibu angkatnya yaitu Dolores di Legok Sunyi, beberapa minggu setelah Noerani meninggal.

Dolores, adalah anak angkat Tjoe Tat Mo yang dijadikannya asisten. Dia baru muncul menjelang pertengahan cerita ketika Noerani saking putus asanya mencari Moestari, berniat bunuh diri. Yang membuatnya merasa terangkat moralnya adalah bait-bait puisi yang diterjemahkan oleh Dolores yang dia simpan di salah satu ruangan milik seorang kyai yang sempat menjadi gurunya Moestari. Dolores, yang akhirnya menjadi saudara angkat Noerani pandai menulis selain berbahasa asing. Tidak terlalu banyak yang bisa saya tangkap dari Dolores selain keriangannya. Dari semua tokoh sentral wanita di buku ini, dia yang paling riang. Noerani sering dirundung duka akibat kemalangan bertubi-tubi. Soebaedah melihat dunia sebagai sebuah papan catur.

Tjoe Tat Mo, pemikir,penulis, sutradara, sepertinya juga ahli kebatinan. Menurut pengakuannya, menjelang ajalnya Noerani, dia sering bertemu dengan ruhnya Noerani. Tat Mo ini tipe orang gila kerja. Kalau sedang menulis naskah drama atau mengarang buku atau berlatih memainkan adegan sebuah drama, orang lain baginya adalah seperti yang pernah dibilang Sartre: neraka. Penampilannya pun sembrono ketika bekerja. Buku berserakan, seprei tidak diganti meskipun penuh bercak. Mandi pun dia malas. Dia membiarkan saja kumis dan jenggotnya tumbuh tidak karuan. Tapi setelah pekerjaannya selesai, dia berubah 180 derajat. Jadi rapi dan klimis. Pernah suatu hari dia menyangka ada seorang tamu yang berkuda datang ke rumah. Ketika dia memanggil Dolores untuk menemui sang tamu, ternyata dia tidak mengenali Tat Mo yang telah bercukur dan mengenakan baju yang membuatnya terlihat gagah di mata Noerani. Saya pikir, Tjoe Tat Mo ini yang menjadi perwakilan Kwee Tek Hoay. Tat Mo meminta Noerani sebelum ke Papua untuk mengumpulkan karangan yang akan menjadi semacam reportase tentang tanah Papua. Dalam bayangan saya, kelak Tat Mo setelah menerima naskah laporan dari tangan Soebaedah, menuliskan laporan itu menjadi Drama di Boven Digul.

Buku ketiga dari seri Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia ini bagi saya sangat menarik.

  • Pertama, saya, seperti kebanyakan orang Indonesia, suka dengan drama. Sehingga ketika berkali-kali “nasib” memaksa Noerani dan Soebaedah untuk gagal bertemu dan malah semakin berpisah, saya cuma bisa gigit bibir sambil mengumpat dalam hati, ini mereka apa salahnya sampai begini amat kisahnya?
  • Kedua, buku ini meskipun hanya sedikit, mengambil kejadian usaha pengambilalihan kekuasaan pada tahun 1926 di Jakarta yang setahu saya masih jarang dibahas.
  • Ketiga, dan ini adalah sisi unik buku ini yang baru sekarang saya dapatkan: penggunaan kata-kata dalam bahasa yang masih sangat asing. Beberapa kata baru saya paham maknanya setelah beberapa kali membaca kalimatnya. Dan juga penggunaan ejaan lama yang membuat saya berpikir ulang soal bahasa Indonesia. Pada beberapa lembar halaman buku, diberikan catatan kaki untuk memperjelas cerita yang kabur akibat kata yang tidak lazim untuk masyarakat sekarang.
  • Keempat, pembaca mendapatkan sedikit gambaran tentang masyarakat Indonesia ketika Papua masih sangat misterius. Konon, sebelum Noerani- Moestari- Soebaedah ke Papua, penduduk asli Papua dinilai sebagai bangsa yang menyeramkan. Senang makan orang. Kenyataannya, tidak semuanya seperti itu. Bahwa ada sebagian yang memang masih mempraktekkan hal tersebut, tidak bisa dipungkiri, tapi toh ada orang-orang yang bisa diajak kerja sama dengan pemerintah yang ketika itu dikendalikan oleh Belanda. Bagaimana dengan Papua sekarang? Saya pikir sudah jauh dari yang diceritakan di buku ini. Meskipun sepertinya kesulitan transportasi, masih menjadi salah satu kendala yang utama padahal sudah lebih dari 50 tahun lamanya merdeka.

Salah satu pesan moral yang sangat kuat terpancar dari buku ini adalah hiduplah dengan harmonis bersama alam. Khas filsafat timur yang memandang keseimbangan adalah segalanya.

Bukunya sendiri merupakan cerita bersambung di koran yang terbit pada tahun 1930-an. Saya berterima kasih kepada pihak yang sudah susah payah mengumpulkan kembali cerita ini dan menyatukannya menjadi buku. Saya juga berterima kasih kepada Tobucil yang sudah menjual buku ini. Kalau bukan dari mereka, saya tidak tahu kapan saya akan memulai perjalanan mengumpulkan serial berwarna merah ini.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s