Ibunya Ei

Kemarin ketika saya pulang ke rumah untuk mengambil tas yang ketinggalan, saya berkesempatan mendengarkan cerita Ibunya Ei.
Alkisah, beliau ibu dari 5 orang anak yang salah satunya bernama Ei.

Saya lupa Ei ini smp atau sma yang jelas kemarin cerita ibunya mengisahkan bahwa mereka baru saja tertimpa musibah akibat Ei bersama keempat orang kawannya mengeroyok teman sekolahnya.

Saya berdiri mendengarkan Ibunya Ei bercerita sambil sesekali menimpali pendek yang intinya mengiyakan omongan si Ibu. Bahasa Sunda saya memang tidak terlalu bagus tapi secara keseluruhan saya paham cerita beliau.

Bapaknya Ei, bekerja sebagai tukang reparasi yang kerjanya tidak tetap. Hanya menunggu panggilan jika ada peralatan milik tetangga, kerabat atau kenalannya yang rusak. Ibunya Ei tidak banyak bercerita detil tentang alat apa yang diperbaiki, hanya berkata “Si Bapak teh buka bengkel di rumah, itu pun kadang ada pekerjaan kadang tidak”

Ibunya Ei sendiri selain membantu pekerjaan di rumah, juga menjadi asisten rumah tangga di salah satu rumah di komplek Brimob. Keluarga di rumah tersebut mempekerjakan ibunya Ei enam hari dalam seminggu. Baik tuan dan nyonya di rumah tersebut keduanya bekerja sehingga kesulitan mengurus ketiga orang anaknya. Apalagi anak yang terkecil belum genap setahun usianya.

Pernah suatu hari Ibunya Ei jatuh sakit akibat kelelahan hingga absen selama hampir seminggu. Ibunya Ei sebenarnya menyarankan nyonya rumah untuk mencari pengganti dia untuk sementara namun oleh nyonya rumah tersebut usulnya ditolak, katanya sayang kalau harus mencari orang baru lagi. Terlebih, Ibunya Ei sudah bekerja di sana selama 5 tahun.

Kembali ke Ei dan kebadungannya. Jadi suatu hari entah di mana di luar pagar sekolahnya, Ei dan empat orang kawannya mengeroyok seorang teman sekolah mereka. Korban mereka dirawat di rumah sakit dan mengalami luka yang harus dijahit. Total biayanya mencapai enam ratus ribu. Ibunya Ei sempat pingsan mendengar kabar ini. Tapi beliau dengan kebesaran hati tetap meminta anaknya yang ketakutan untuk tetap bertanggung jawab. Ibunya Ei meminta Ei untuk membocorkan nama-nama pengeroyok yang lain sehingga mereka semua bisa ikut membantu menanggung biaya perawatan si korban. Alasan beliau menginginkan anaknya bertanggung jawab mudah saja, bayangkan jika si korban adalah si Ei, mau berbuat apa sebagai orangtua?

Ibunya Ei sendiri berhasil mengumpulkan uang hingga dua ratus ribu untuk menanggung perawatan. Dia mengatakan kepada orang tua korban bahwa ini sudah kemampuan mereka yang terbaik, itu pun sudah dengan mengutang sana-sini.

Saya memang bukan siapa-siapa dan tidak bisa membantu apa-apa, tapi dalam lubuk hati saya percaya bahwa orang-orang yang hidupnya terjepit tidak melulu mengharapkan bantuan materi.
Ada saat di mana mereka membutuhkan 10 menit waktu kita untuk mendengarkan keluh kesah mereka dengan penuh perhatian. Singkat tapi berkesan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s