Makan Malam atau Kehormatan: Mengharapkan Orang Miskin untuk Tetap Berpegang pada Moral

Beberapa hari yang lalu saya pergi berbelanja kebutuhan sehari-hari bersama anak saya. Sebagai prinsip dasar, saya tidak membawa serta bayi saat berbelanja karena seperti kebanyakan ibu dengan anak yang masih kecil lainnya – anak laki-laki saya akan berusia tujuh tahun pada bulan depan – akan berkata kepada anda, pergi berbelanja bersama anak kecil akan sarat dengan rengekan, amukan serta kejar-kejaran di sepanjang lorong. Namun saat ini, saya ingin bisa lebih dekat dengan anak saya tidak lain karena saya mencintainya, maka saya biarkan dia ikut berbelanja.

Saat berada di lorong 5 dan anak saya meraih sereal, pada saat bersamaan seorang wanita kulit hitam yang lebih tua dari saya terlihat sedang meneliti kotak sereal,  dan setelah memeriksa harganya dia pun meletakkan kembali kotak sereal tersebut. Dia kemudian berjalan mendekati saya seraya berkata, “ Jika anda membawa mobil, sebaiknya anda pergi ke Walmart. Harga di sana lebih murah.” Saya ingin membalasnya dengan,”Saya tahu, tapi saya tidak berbelanja di sana karena mereka mengeksploitasi pegawai mereka dan kejadian dengan Tracy Morgan membuat saya semakin enggan ke sana,”namun cepat-cepat dibatalkan. Saya tidak tahu apakah saya bungkam karena tidak  ingin memberi dia kesempatan untuk  menimpali saya yang membuat saya terpaksa terlibat dalam sebuah percakapan, atau karena dia  pergi menjauh dengan tergesa-gesa. Dalam banyak  kesempatan, tidak mengungkapkan isi pikiran saya (untuk pertama kali) memberikan saya kesempatan untuk merefleksikan potensi kontribusi saya dalam percakapan. Saya menyadari bahwa saya hampir melakukan hal yang selalu dilakukan oleh masyarakat terhadap orang-orang miskin: mengharapkan mereka untuk memilih moralitas ketimbang  kelangsungan hidup.

Kemiskinan pada intinya merupakan penyakit ciptaan manusia yang memiliki efek samping sosial, psikologis, dan mental. Dan meskipun moralitas dan keberlangsungan hidup  tidak secara eksklusif saling terkait erat, kehadiran kemiskinan dalam korelasi  membuat hubungan mereka jadi erat. Kemiskinan bersifat mudah menyebar, seperti patogen yang memakan setiap bagian dari hidup korbannya. Dia mengalir keluar secara perlahan dari  mulut pori-pori seakan menjadi pengingat yang konstan tentang keberadaannya.

Oleh karena itu, mengharapkan orang miskin untuk tetap berpegang pada moralitas setidaknya bukan hal yang realistis, dan terparah adalah menjadi siksaan. Kemiskinan menghasilkan dilema yang paling sulit dibayangkan. Saat saya memiliki pilihan untu k membayar leb ih demi mempertahankan keyakinan saya, bagi yang termiskin di antara kita, Walmart tidak  cukup mewakili kekejian dari kapitalisme, dia  mewakili sereal dengan harga $2.79 bukannya $ 4.19, $1.40 pendapatan yang dapat dibuang. Bahwa Walmart menggaji pegawainya sekecil mungkin, memaksa pegawai-pegawai tersebut untuk membuat pilihan yang sama seperti setiap orang miskin yang berbelanja di sana, adalah konsep yang abstrak. Tabungan  yang disisihkan dari makanan sebesar $60 setiap bulannya adalah konkret. Nilai tersebut dapat dipakai untuk membeli gas ataupun ongkos bis. Uang tersebut hanya cukup untuk membayar tagihan listrik sebatas mempertahankan supaya listrik tetap mengalir. Dapat juga berarti sepasang sepatu baru untuk seorang anak yang telah menghindar dari bermain saat  istirahat sebab dia tidak ingin anak-anak lain menyadari lubang di sepatunya saat dia berlari. Mengabaikan etika dari Walmart adalah sesuatu yang layak untuk saat ini. Dan sekarang itulah yang paling penting.

Keberlangsungan hidup sama artinya seorang ibu menerima diagnosis ADHD dari putrinya tanpa mempertanyakannya lagi sebab vonis datang  bersama cek Pendapatan Pengamanan Tambahan (SSI) yang berarti sebuah perbedaan antara tidur dari satu sofa ke sofa lainnya dan kemampuan untuk  membayar sebuah apartemen dengan satu tempat tidur yang mungkin tidak begitu nyaman namun akan lebih  tetap sifatnya. Ini berarti dia siap untuk mencoba resep apapun yang diberikan untuk menenangkan anaknya sehingga gurunya di sekolah tidak memanggilnya setiap hari. Dan panggilan-panggilan tersebut harus berhenti sebab bos dari sang ibu telah memperingatkan dia bahwa panggilan tersebut telah berlebihan dan menjadi gangguan bagi pekerjaannya. Seburuk-buruknya bayaran pekerjaan tersebut, dia membutuhkannya untuk mencapai tujuannya. Sehingga dia menyisihkan kekhawatiran tentang kesehatan mental jangka panjang putrinya dari benaknya karena dia harus mendapatkan makanan, pakaian ,serta tempat tinggal. Cek SSI dan Vyvanse cukup untuk saat ini. Dan itulah yang penting sekarang.

Kemudian model sepatu Jordan terbaru muncul, dan tentu saja putrinya yang mengidap ADHD dan putranya sama-sama menginginkan sepatu tersebut. Mereka belum pernah mempunyai sepatu karena ibunya tidak mampu membelinya. Alhasil, mereka terus menerus diejek karena menggunakan sneaker merk Payless. Sekarang dengan $60 yang dikumpulkan setelah berbelanja di Walmart dan pendapatan tambahan dari cek SSI, ibu mereka hanya mampu membeli sepasang bagi masing-masing anaknya jika dia membayar $45 untuk gas bukannya $90 dan jika dia mengambil waktu kerja tambahan di akhir pekan. Tentu saja $300 yang dibelanjakan untuk sepatu akan lebih bermanfaat jika digunakan untuk membayar sewa. Akan lebih bertanggung jawab secara finansial untuk menyimpan uang tersebut di tabungan, menginvestasikannya atau membuka rekening pendidikan untuk anak-anaknya,tapi untuk kali ini, mereka akan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sedangkal apapun kelihatannya membelanjakan uang tersebut untuk membeli sepatu saat dia bahkan tidak mampu membayar tagihan yang dia miliki, ini masih tentang keberlangsungan hidup. Ini berarti anak-anaknya tidak lagi perlu merasa malu. Ini berarti mereka dapat berbaur dengan anak-anak lainnya. Ini berarti mereka tidak  perlu merasa depresi karena mereka tidak pantas untuk sepasang sepatu yang layak. Ini berarti saat mereka ada di rumah sendirian karena ibunya harus bekerja lebih untuk  mengganti uang yang dia keluarkan, putranya tidak akan tergoda untuk menjadi kurir demi mendapatkan uang untuk membeli sepatu dan putrinya tidak akan tergoda oleh para predator yang menjanjikan dia sepatu Jordan jika dia mau ikut bersama mereka. Saat ini, terlambat membayar tagihan gas dan kemungkinan juga sewa apartemen adalah masih layak. Dan itu yang penting sekarang.

Stres namun bahagia dengan dirinya sendiri, dia memberikan kepada masing-masing anaknya sepatu yang sangat mereka idamkan. Antusiasme mereka membuat pengorbanannya terasa berharga. Mereka menggunakan sepatu baru mereka keesokan harinya di sekolah dan menikmati pujian dari yang lain”Wow, mereka terlihat baru!” Puji-pujian tersebut merupakan heroin.Tubuh mereka sekarang membutuhkannya setiap hari jika tidak mereka akan diserang depresi dan kehinaan. Sehingga sang bocah laki-laki pergi ke remaja pengedar di lingkungannya dan mengatakan ingin bergabung. Dia merasa mual dan sangat ketakutan saat memikirkan kemungkinan ditangkap, namun dia harus tetap segar demi mempertahankan penerimaan dari sebayanya.  Dan uang yang dia hasilkan dari menjadi kurir setelah pulang sekolah akan cukup untuk menjaga dia dan adiknya tetap baru. Meskipun demikian, dia tidak tahu adiknya mencintai dia seperti dia mencintai adiknya, sehingga adiknya pergi bersama seseorang dan memberikan orang asing dan beberapa kawannya tersebut kenikmatan seks sebab dengan itu dia dan kakaknya dapat berbelanja pakaian. Menjadi kurir obat terlarang dan menjadi pelayan seks adalah layak untuk saat ini. Dan hanya itu yang penting.

Ironisnya, kita lebih  meminta orang miskin untuk  bertanggung jawab sebab mereka merendahkan Walmart dibandingkan menuntut Waltons karena mereka memberikan gaji yang rendah dan tanpa fasilitas. Orang-orang kaya melihat ke bawah dari atas sembari mengatakan orang miskin tidak bermoral sambil mereka mengonstruksi dan menyempurnakan sistem yang membuat sifat kebangsawanan menjadi tidak mungkin. Mereka menumpuk sumber daya dan melabeli siapapun yang menginginkan pembagian yang adil dengan”tamak”. Mereka mendonasikan beberapa dolar untuk menyelamatkan paus dan menggelar kegiatan amal dan menyebut diri mereka sendiri filantropis dan berpura-pura bahwa bukan merekalah alasan kita membutuhkan kegiatan amal.

Melihat kebajikan adalah mudah ketika dia tidak menyingkirkan eksistensi. Kebanyakan dari kita tidak pernah membayangkan membunuh seseorang kecuali orang tersebut mengarahkan senjatanya ke kepala kita atau sedang menodongkan pisau ke perut. Tentu saja tidak  ada pilihan antara apa yang baik dengan apa yang penting ketika kita memiliki sumber daya yang berlebihan. Situasinya menjadi pelik, saat sumber daya langka dan iblis memberika n tawaran yang lebih baik. Tiba-tiba anda dihadapkan pada pilihan menjadi orang yang baik atau bertahan hidup dengan menjadi orang apa pun. Anda harus memutuskan untuk bisa tidur di malam hari atau berada di suatu tempat untuk bisa tidur di malam hari. Dan pilihannya menjadi  begitu jelas sebab sekarang itulah yang layak, dan itulah yang paling penting sekarang.

Diambil dari :

https://thekinfolkkollective.wordpress.com/2015/07/20/dinner-or-dignity-expecting-the-poor-to-remain-moral/

Advertisements

One thought on “Makan Malam atau Kehormatan: Mengharapkan Orang Miskin untuk Tetap Berpegang pada Moral

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s