Ceu Aam

Kemarin, ketika saya menunggu Damri di pool di Jatinangor, saya disapa seorang ibu yang menurut pandangan saya di awal belum terlalu tua. Mungkin sekitar pertengahan 50. Beliau ikut menunggu bis ke Dipati Ukur di bawah terik matahari jam 1 siang. Untuk menahan terik siang itu, ibu tersebut sempat membuka payung besarnya yang berwarna hitam.

image

Sekitar jam 2 siang kendaraan yang dinantikan tiba juga. Para penumpang ada yang mengeluh karena telah menunggu sejak jam 12 siang.

Ibu yang sempat mengobrol sebentar dengan saya, sebelum kami berebut naik ke bis berpesan supaya saya mengambilkan tempat untuk dia. Dia berpesan seperti itu karena sebelumnya diketahui tujuan kami adalah sama yaitu ke jalan Gagak.

Karena antrian di pintu belakang cukup padat,saya memutuskan naik dari pintu depan. Ternyata bukan keputusan yang tepat sebab malah saya yang belakangan naik dibandingkan si ibu tersebut. Bukannya saya mengambilkan beliau tempat duduk, malah beliau yang mengambilkan saya tempat.

Kami akhirnya duduk persis di belakang pintu depan bis. Sepanjang perjalanan saya mendengarkan beliau bercerita.

Beliau merupakan ibu sari tiga orang putri yang semuanya telah berkeluarga. Beliau kemarin sedang pulang setelah mengunjungi salah satu anaknya yang berdomisili di Rancaekek. Biasanya beliau naik travel Damri, tapi entah kenapa kemarin memutuskan untuk naik bis. Mungkin memang jodoh saya untuk mendengar cerita beliau.

Putri beliau semuanya sempat mengenyam bangku kuliah. Yang kedua kuliah di sastra Jepang Universitas Padjadjaran. Yang sulung kuliah akuntansi. Ketiga putrinya, meskipun berkuliah pada akhirnya memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Sambil bercanda, beliau agak menyayangkan keputusan anak-anaknya. Beliau mengatakan bukannya menjadi “Ir” yang berarti insinyur, semuanya berhasil menjadi “Ir” yang merupakan singkatan dari ibu rumah tangga.

Beliau sekarang di rumahnya di jalan Gagak tinggal bersama anak keduanya beserta menantu dan tiga orang cucunya. Cucu beliau ada enam orang. Empat orang laki-laki yang kadang membuat beliau kerepotan karena perangai anak laki-laki tidak seperti anak perempuan yang cenderung halus. Diperparah dengan kondisi generasi sekarang yang dimanjakan oleh banyak hal mengakibatkan mereka senang menyuruh.

Cucu beliau juga senang jajan terutama yang paling besar. Badannya gemuk dan menyukai berbagai jenis makanan.
Kadang beliau membelikan jajan cucunya hingga 20-30 ribu sekali belanja. Jumlah yang cukup besar mengingat usia cucunya yang masih belasan. Si nenek sendiri bukan tergolong orang yang banyak perhitungan dengan uang, selama ada uang, cucunya tidak segan-segan ditraktir.

Selain menraktir cucu-cucunya, beliau juga senang menraktir kawan-kawan beliau yang rutin dijumpai setiap kali mengikuti kegiatan senam untuk manula di gedung sate dan masjid Pusdai. Tidak jarang beliau membelikan es krim kepada kawannya tersebut. Bahkan sesekali di ajak ke rumah untuk bersantap bersama. Jika masih ada kelebihan makanan, kawannya tidak akan pulang dengan tangan kosong.
Di usianya yang memasuki tahun ke – 63, beliau masih bersemangat untuk ikut senam sebab beliau sempat mengalami gangguan kesehatan di mana angka kolesterol dalam darahnya melebihi dua kali lipat angka normal. Setelah berulang kali bolak-balik ke klinik, beliau suatu hari disarankan untuk melakukan aktivitas fisik supaya badannya bisa lebih cepat sembuh.
Setelah setahun berlalu, kolesterol beliau akhirnya turun mendekati angka normal dan sampai sekarang masih kuat bepergian meskipun sudah berkepala 6.

Selain aktivitas sehari – hari tersebut, saya juga diceritakan tentang almarhum suami beliau. Beliau yang menikah pada usia cukup muda untuk ukuran masyarakat kota (17 tahun) ditinggalkan oleh suaminya pada tahun 2005. Selisih usia mereka cukup jauh, 12 tahun. Almarhum suami beliau merupakan orang Rancaekek, yang sekarang rumahnya diwariskan ke anak pertama mereka. Ketika mereka menikah, suami beliau sering pergi ke luar kota untuk bekerja. Namun situasi tersebut tidak membuat beliau kesal karenanya, sebab suami beliau tergolong sangat sabar dan tidak pernah menyuruh istrinya melakukan sesuatu. Jika kancing bajunya lepas, dia akan mengerjakan sendiri menjahit kancing  tersebut, dan jika istrinya bertanya melakukan apa, dia akan memperlihatkan baju tersebut. Jika istrinya menawarkan diri untuk mengerjakan kancing tersebut, barulah bajunya disodorkan.

Suami beliau juga senang memanjakan istri. Sering kali dia membangunkan istrinya seraya mengatakan ‘air panas untuk mandi telah siap’. Perhatian sederhana tapi saya yakin sangat berbekas di hati istrinya.

Satu pesan beliau yang menurut saya cukup berat dilaksanakan adalah memberi kepada yang membenci kita. Di kalangan tetangga beliau ada saja tetangga yang tidak menyukai beliau. Namun bagi beliau, hal tersebut tidak menjadi halangan untuk membagikan sedikit rezeki kepada tetangganya tersebut. Pemahaman saya pribadi, orang yang tidak menyukai saya, tidak akan saya ambil pusing eksistensinya. Kalau sampai berbagi rezeki? Saya perlu belajar lebih banyak sepertinya.

image

Ketika saya kemudian menemani beliau berjalan dari depan Pusdai sampai ke rumah, dunia terasa menggelikan. Ternyata beliau bertetangga dengan rumah yang menjadi kontrakan teman saya. Seakan sebuah pertanda untuk saya sesekali bermain ke rumah beliau.
Semoga beliau diberi umur panjang. Sebatas itu doa yang bisa saya haturkan. Beliau sendiri berdoa banyak untuk saya.

Advertisements

One thought on “Ceu Aam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s