Pulang(2016) – Bagian 1

Sekitar tiga minggu silam, saya kembali menjejakkan kaki di tanah Sulawesi. Saya kembali dalam rangka menghadiri pernikahan kakak saya yang sedianya berlangsung di kota Pinrang.

 

Saya tiba sekitar pukul dua pagi. Setelah beristirahat sekitar dua jam di musola bandara, saya pun dijemput oleh salah satu mobil anggota rombongan yang akan berangkat mengantar pengantin ke Pinrang.

 

Di mobil tersebut terdapat ibu dan salah seorang adiknya yang wajahnya mirip dengan beliau yaitu pu Pira. Sisanya adalah tetangga ibu di jalan Landak.

 

Saya duduk bersama pu Pira di belakang. Sekilas semua orang terlihat ceria karena menyongsong hari bahagia, namun kelelahan tidak bisa disembunyikan. Semua orang selain pengemudi saya perhatikan sempat terlelap beberapa saat baik sebelum mampir solat subuh maupun setelahnya. Di mobil telah disediakan nasi kotak berisi ayam, tempe dan sambal goreng ati yang entah disengaja atau tidak warnanya semuanya coklat. Kecuali nasinya tentunya.

 

Saya pribadi sangat menikmati perjalanan tersebut karena inilah pertama kalinya saya mendatangi Bumi Lasinrang. Jadi meskipun mengantuk, saya paksakan mata terjaga untuk memperhatikan sekeliling.

 

Sekitar jam 8 pagi, rombongan memasuki Suppa, salah satu kecamatan di Pinrang dan mampir di rumah salah seorang keluarga. Rombongan rencananya akan bersalin pakaian dari yang seadanya ke pakaian yang lebih pantas.

 

Di sini saya mendapatkan kesempatan untuk bertegur sapa dan menyimak pembicaraan semua sepupu saya yang ikut mengantar pengantin pria.

 

Di Suppa ini ada sedikit masalah yang sampai sekarang terus terang saya masih merasa simpang siur tentang duduk permasalahannya. Yang saya dengar adalah kendaraan yang sedianya membawa pakaian pengantin pria salah jalan. Titik. Silakan yang mengetahuinya memberikan penjelasan hehe.

 

Jika saat berangkat ke Suppa saya ikut mobil rombongan jalan Landak, karena kesalahpahaman saya jadi ikut menumpang bersama pu Jaya, Aspar, Ardi, dan Fiat. Pu Jaya adalah istri dari salah satu paman saya, pu Bidin. Fiat adalah anak pertama mereka yang sekarang berkuliah di Akuntansi Unhas.

 

Menjelang jam 10 pagi rombongan tiba di rumah mempelai wanita. Di jalan Juanda (bukan Dago wahai warga Banung) lorong Pajero.

 

Entah bagaimana ceritanya yang jelas saya ikut disuruh membawa erang-erang. Sampai di lokasi, saya memilih duduk di luar, tidak ikut berdesakan menyaksikan adegan ijab kabul + sungkeman yang bisa dipastikan akan memunculkan tangis haru. Saya tidak mau ikut menangis. Lagipula saya belum mandi seharian. Nanti banyak hadirin terganggu.

 

Yang saya amati ketika ceramah perkawinan disampaikan adalah puluhan mungkin ratusan tamu yang sibuk mengobrol dan bukannya menyimak wasiat yang diberikan. Aneh juga pikir saya. Saya yang mencoba menyimak terus terang merasa terganggu, sebab kemampuan bahasa Bugis saya rendah sehingga jika suara yang ada ditimpali oleh riuh rendah gosip, saya makin tidak mampu memahami apa yang disampaikan. Ingin sekali rasanya saya siramkan kuah coto ke kepala tamu yang tidak berhenti menyerocos ketika itu.

 

Saya yang jelas akhirnya tidak menyentuh coto yang disediakan. Ada perasaan bahwa coto sudah terlalu biasa jadi baik mencoba hidangan yang lain.

 

Setelah puas memakan kue-kue barulah saya duduk tenang sambil memperhatikan kerumunan yang ada. Setidaknya hari pertama saya sudah berhasil memakan ketiri sala yang telah lama saya rindukan.

 

Perlahan tapi pasti tamu mulai beranjak dari tempat duduknya dan menyalami raja dan ratu sehari di pelaminan. Rombongan yang mengantar dari Ujungpandang pun akan kembali ke rumah masing-masing. Saya tadinya hendak ikut kembali ke Ujungpandang, tapi setelah saya menikmati mengobrol dengan Aspar, salah satu sepupu saya dan melihat ibu sedikit bimbang apakah harus tinggal atau pulang, saya menawarkan diri untuk tinggal menemani Iqbal, sang mempelai pria.

 

 

Akhirnya tinggallah saya berdua dengan Aspar yang kebetulan membawa kamera.  Saya kemudian melanjutkan pembicaraan yang terputus. Banyak hal yang saya tanyakan. Karena memang saya tidak tahhu banyak tentang keluarga di kampung halaman. Selama ini sumber saya cuma satu: ibu. Jadi informasinya hampir selalu bukan A1.

 

Saya bertanya tentang kuliah dia, bagaimana kehidupan dia di kampus Unhas, skripsinya, kondisi keluarganya seperti apa. Saya menempatkan diri saya sebagai yang benar-benar tidak tahu apa pun. Yang tidak saya tanyakan waktu itu hanya apakah Aspar sudah punya pacar atau belum hehe.

 

Mendekati waktu salat asar, pengantin turun dari pelaminan. Entah sudah seberapa lelah mereka duduk di sana. Yang jelas kantuk saya lihat sudah sempat menyergap.

 

Selanjutnya saya mandi setelah meminjam handuk. Dan kembali disediakan makanan. Hari baik memang. Meskipun akhirnya saya jadi tidak sanggup menghajar kue-kue yang disediakan malam hari saat tamu belum juga berhenti berdatangan.

 

Mungkin sekitar jam 22.30 semua orang beristirahat. Besok masih ada perjalanan dari Pinrang – Ujungpandang yang harus ditempuh untuk kemudian di hari Sabtu diadakan mapparola dan resepsi di gedung pada malam harinya.

sh-pinrang.PNGDSC_0131

DSC_6568
Keluarga mempelai
DSC_0183
Ibu dan Akbar, salah satu keponakannya
DSC_0186
pu Pira, saya, k Akbar, ibu, pu Jaya, nggak tahu
DSC_0228
Ramah tamah menyambut tamu yang datang malam hari
IMG_0634
Ijab kabul dengan wali pu Kama, ayahanda Hananang
IMG_0618
Guy in blue shirt watching some kind of insect

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s