Minggu Produktif

image

Setelah dua kali memutar balik motor yang dikendarainya akibat banjir yang melanda kawasan Rawa Buaya, Furqon ,kawan saya sejak SMA memutuskan membawa saya ke stasiun KRL Bojong Indah. Hujan semalaman membuat beberapa ruas jalan di Rawa Buaya tergenang air.

Saya menyetujui naik KRL karena khawatir jika naik bus Transjakarta,akan terhambat baniir di ruas lainnya yang semakin membuat saya terlambat tiba di tujuan.

Saya baru naik kereta dari Bojong Indah dengan tujuan stasiun Duri sekitar jam 13. Dari stasiun Duri saya pindah jalur dan naik kereta tujuan Bogor namun saya hanya sampai di stasiun Tebet. Dari stasiun Tebet saya memutuskan memakai jasa ojek online . Saya buta arah dan semakin terlambat saya,saya semakin merasa bersalah.

Syukurlah saya mendapatkan pengemudi ojek yang menyenangkan. Pak Basuki namanya. Rumahnya di Pasar Minggu. Dia telah dikaruniai dua orang anak. Yang pertama sudah bersekolah di SMP,sedangkan yang bungsu masih berusia 5 tahun. Dia baru menjadi pengemudi ojek online sejak tanggal 11 Februari silam. Sebelumnya dia sempat melamar di salah satu perusahaan ojek online lainnya yang saya lupa namanya,namun setelah berbulan-bulan tidak kunjung dipanggil. Pak Basuki akhirnya memutuskan bergabung dengan perusahaan dari negara tetangga. Dia ikut mengantri di Cibubur untuk memasukkan lamarannya dan hanya butuh waktu dua minggu sebelum beliau diberikan kepercayaan berupa jaket,dua helm,serta hape android. Saya hanya bisa berharap pak Basuki selalu sehat walafiat untuk terus menghidupi anggota keluarganya di rumah sambil tidak kehilangan kewarasan karena direnggut kerasnya hidup di ibukota.

Dan tibalah saya di Teras Hanggar Alumni di daerah Pancoran setelah diantar pak Basuki.

Saya sempat bertanya sekali lagi kepada seorang bapak yang sedang membakar sate. Setelah berjalan sebentar ,saya jadi yakin karena melihat beberapa orang yang juga datang terlambat dan mengenakan atasan putih. Saya sendiri agak khawatir karena sejujurnya tidak datang dengan kostum yang telah ditentukan. Namun kalau hanya karena salab kostum jadi tidak ikut rasanya lebih bodoh lagi.

Di dalam sudah banyak orang-orang berbaju putih sedang menyimak pemaparan dari Hamzah yang mewakili internal. Diskusi dipimpin oleh Satrio (MS) selaku ketua panitia 1 Dekade ITB 2006. Yang sedang disampaikan adalah hasil survey selama sekitar 3 pekan sejak awal Februari kemarin.

Tercatat ada 1500 orang yang mengisi survey yang diajukan. Bagian awal pemaparan adalah memetakan jurusan mana saja yang sekilas animonya rendah. Animo ini diukur dari persentase jumlah mahasiswa yang pernah terdaftar di jurusan dibandingkan dengan kondisi riil jumlah orang yang akhirnya mengisi survey. Jurusan-jurusan beranimo rendah dicoba dicari tahu penyebabnya dan juga dicarikan solusi penanggulangan jangan sampai animo rendah ini terus mengekor hingga hari H nanti.

 

Setelah Hamzah (MA) yang menjelaskan dan dibantu oleh Kurnia (TI), saya lupa urutannya tapi ada Farid (TM) dari acara, Adhi (MS) dari pendanaan, Bintang (DP) dari publikasi, Wintang (FI) dari eksternal, Dana (FI)  dan Nadia (AR) selaku bendahara dan sekretaris yang menyampaikan laporan.

Saya duduk di samping Alma (AR) (dia bukan kusir) yang ternyata juga menggunakan warna bukan putih sebagai atasannya. Sepanjang diskusi, kami berdua tidak berhenti mengipas-ngipas. Minimnya ventilasi membuat aliran udara terperangkap di dalam ruangan dan langit-langit ruangan yang dipasangi aluminium foil (?)

Setelah internal selesai menyampaikan laporannya, dilanjutkan oleh eksternal yang diwakili oleh Wintang. Wintang menyampaikan tentang peminjaman gedung yang rencananya dipakai untuk kegiatan yaitu Aula Barat dan Timur. Ternyata salah satunya tidak bisa dipinjam karena telah diisi slot penggunaannya untuk acara kuliah umum.

Selanjutnya adalah Bintang yang sesekali dibantu oleh Rino (MS). Bintang dan Rino menjelaskan tentang rencana publikasi untuk beberapa bulan ke depan. Senjata utama saya lihat adalah Instagram. Facebook dan Twitter masih dimasukkan dalam perencanaan namun tetap ujung tombak,setidaknya dari publikasi yang sudah berjalan adalah Instagram. Kenapa diskusi kemarin mengajak memakai pakaian bernada sama,kenapa ada tagar-tagar aneh di Instagram,rencana logo untuk kegiatan,semuanya dijelaskan.

Setelah publikasi adalah giliran divisi acara yang diwakili oleh Farid yang menggantikan Lucky yang berhalangan hadir. Yang saya ingat kegiatan akan terbagi menjadi dua yaitu pre event dan main event. Pre event akan menyelenggarakan beberapa kegiatan olahraga bersama di antaranya futsal,basket,pingpong ,dll. Main event adalah kegiatan di kampus yang direncanakan berlangsung hanya satu hari. Awalnya ada keinginan untuk melaksanakan selama dua hari namun karena khawatir euforia habis di hari kedua,diputuskan mengurangi jumlah harinya. Pengurangan jumlah hari ini juga sekaligus mengakomodasi kepentingan beberapa jurusan yang menempelkan hari kegiatan reuni jurusan masing-masing pada reuni terpusat.

Setelahnya ada Adhi dari pendanaan. Saya tidak terlalu banyak memperhatikan karena di sini saya berdiskusi dengan Alma terkait rencana membuat lomba esai yang jika memungkinkan dibuat menjadi buku. Yang saya ingat adalah betapa acara ini akan memakan biaya yang tidak sedikit. Di sini Wintang mengusulkan salah satu cara pendanaan dengan mengadakan lelang foto dan lelang kelas keterampilan tertentu.

Kemudian Wintang dari eksternal menyampaikan tentang peminjaman gedung yang rencananya dipakai untuk kegiatan yaitu Aula Barat dan Timur. Ternyata salah satunya tidak bisa dipinjam karena telah diisi slot penggunaannya untuk acara kuliah umum.

Paling terakhir ada Dana dan Nadia melaporkan tentang kemajuan berupa pemindahtanganan buku tabungan , ujicoba penggunaan aplikasi Mailchimp untuk mengirim email ke ribuan alamat.

Di akhir kegiatan dilangsungkan foto bersama. Yang untungnya buat saya pribadi,bukan cuma satu orang yang menggunakan warna berbeda.
image

Setelah foto bersama, seperti biasa ada ngobrol-ngobrol informal untuk memperhalus rencana-rencana yang telah disepakati sebelumnya.

Saya sempat bersantai sejenak sebelum memutuskan pergi meninggalkan Teras Alumni. Saya akhirnya diantarkan oleh Wintang dan calonnya, Laksmi ke stasiun Cawang. Saya ke Cawang karena harus mengambil flash disk yang tertinggal di salah satu warnet di daerah Rawa Buaya. Flash disk ini tertinggal karena saya terburu-buru pergi. Untunglah flash disknya tidak hilang dan berhasil diamankan Furqon. Saya kembali ke stasiun Bojong Indah. Tiba saat hari telah gelap,sekitar jam 18.30. Saya memutuskan minum jahe susu di warung kopi dekat stasiun sambil menunggu Furqon membawakan flashdisk. Saya juga menyimak obrolan salah satu pegawai stasiun yang ketika saya datang,sedang asyik makan piattos dengan ibu penjaga kios. Mereka membicarakan Kalijodo yang rencananya besok (hari ini ) dibersihkan lagi. Sayangnya database bahasa jawa saya masih minim sehingga tidak paham apa tepatnya yang didiskusikan.

Tidak lama Furqon datang,saya mengambil flashdisk yang dibawanya. Setelah berterimakasih saya langsung saja membeli tiket ke stasiun Sudirman untuk menutup agenda saya di Jakarta kali ini.

Advertisements

2 thoughts on “Minggu Produktif

  1. urutan pemaparan :

    Internal: Hamzah

    Eksternal: Wintang

    Publikasi: Bintang & Rino

    Acara: Farid

    Funding: Adhi

    Sekretaris & Bendahara: Nadia & Dana

  2. coba bantu mengingatkan aja buat urutan pemaparan Hamzah (Internal), Wintang (Eksternal), Bintang & Rino (Publikasi), Farid (Acara), Adhi (Funding), Nadia & Dana (Sekretaris & Bendahara)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s