Match Factory Girl – 1990

Hidup yang muram. Itu kesan yang saya dapat setelah menonton film Match Factory Girl besutan Aki Kaurismaki.

Film berdurasi kurang lebih 65 menit tersebut nyaris tanpa dialog. Adegan pembuka menunjukkan tentang proses pembuatan korek api dimulai dari proses pengupasan kulit gelonggongan kayu, pemotongan hingga ukurannya kecil-kecil, sampai pengemasan ke satuan-satuan terkecil. Nyaris tidak ada emosi yang bermain di sini karena yang disaksikan adalah proses mekanis yang memang tidak melibatkan perasaan apapun.

Sesekali terlihat tangan yang bekerja memisahkan beberapa bungkus korek. Dugaan saya dia mengambil beberapa untuk dicuri. Sampai akhir film saya tidak tahu apa maksud pemisahan tersebut.

Selanjutnya kita diperlihatkan siapa pemilik tangan tersebut yang ternyata seorang perempuan pirang yang berusia di antara 30-35 tahun. Penampilannya biasa saja,tidak ada sesuatu yang mencolok.

Hidupnya pun sepertinya biasa saja. Dia hidup dengan ibu kandung dan bapak tirinya yang tidak bekerja. Dengan kata lain dia menanggung hidup 3 orang sendirian. Bayangkan penghasilan kerja di pabrik korek api dan harus menanggung beban 3 orang dewasa. Seberapa berat bebannya?

Suatu hari si tokoh utama kita membeli pakaian di sebuah toko. Mungkin dia bosan dengan penampilannya yang biasa saja dan ingin terlihat lebih menarik di hadapan lawan jenisnya. Mungkin dia ingin segera menikah supaya bisa lepas dari cengkeraman bapak tirinya.

Namun apa daya yang terjadi justru ia dimarahi oleh ibunya karena setoran bulan tersebut kurang. Dia bahkan ditampar oleh bapak tirinya. Dengan hati hancur,dia mengembalikan pakaian yang dia beli ke toko.

Perasaan remuk redam ini dibawanya ke sebuah bar dan di sana dia bertemu dengan seorang pria yang menarik hatinya. Singkat cerita, mereka melakukan hubungan badan di sebuah penginapan. Yang membuatnya sakit adalah ternyata di mata pria tersebut dia hanya merupakan seorang pelacur. Pagi setelah mereka menginap,dia ditinggalkan setumpuk uang.

Kejutan hidup belum berhenti karena ternyata dia hamil setelah berhubungan badan tersebut. Berbekal tanya kiri kanan, tokoh utama kita berhasil mendapatkan alamat ayah sang jabang bayi dan menuntut pertanggungjawabannya. Dan ternyata pria tersebut menolak. Kembali perasaannya dihancurkan.

Akhirnya, saat segalanya sudah tak jelas lagi juntrungannya,dia membeli racun tikus. Korban pertama adalah ayah sang jabang bayi. Kemudian kedua orangtuanya. Dan seorang pria nakal yang menggodanya saat dia mampir di bar ketika telah memberi racun kepada ayah jabang bayinya.

Di akhir film,tokoh utama kita diringkus oleh polisi.

Film ini merupakan bagian dari Trilogi Proletar yang dibuat oleh Aki Kaurismaki. Penggambaran hidup kelas menengah bawah yang membosankan dan berada dalam tekanan rasanya akan mudah ditemui di Indonesia khususnya kota-kota besar.

Tinggal di rumah petak yang ukurannya tidak seberapa. Di film, tekanan datang dari banalitas hidup yang begitu-begitu saja dan lingkungan terdekat yang seakan tidak memperdulikan hidup si tokoh utama. Dengan paham utilitarian,si tokoh utama hanya berfungsi memberi makan ibu kandung dan bapak tirinya. Selain itu mereka praktis tidak ada ikatan apa pun. Wajar ketika dia mengandung dan disuruh menggugurkan kandungannya dia begitu emosional meskipun raut wajahnya datar saja. Kehadiran calon manusia yang mungkin akan memberinya hidup yang lebih berarti malah ditolak mentah-mentah.

Emosi yang selama ini terpendam muncul ke permukaan dan menelan empat korban jiwa.

Saya jadi membayangkan stresnya penduduk kelas menengah ke bawah di Indonesia. Berapa banyak yang akibat tekanan hidupnya memutuskan mengakhiri hidup orang lain yang memberikan beban berlebihan?

Atau jangan-jangan saya cuma mengigau?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s