Bicara PKL Bandung dari Sudut Pandang Alumni dan Mahasiswa ITB

Malam pertama saya di Kantin Barak yang berlokasi di daerah tenggara kampus ITB dilewatkan dengan menyimak pemaparan tentang kondisi pedagang kaki lima di kota Bandung dari berbagai sudut pandang. Dari poster pemberitahuan yang beredar di media sosial, ada empat pembicara yang akan tampil menyampaikan sudut pandangnya masing-masing. Satu mahasiswa dan tiga alumni tampil di panggung yang sama.

IMG_6101

Sekitar 18.30, acara dimulai dengan pembukaan dari moderator sekaligus inisiator diskusi, Hamal AR ’03. Diskusi yang berawal dari sebuah status di media sosial kemudian ternyata mewujud menjadi diskusi nyata di di dunia nyata. Salah satu penekanan Hamal saat membuka diskusi malam itu adalah diskusi kali ini tidak berusaha mencari sebuah solusi dari permasalahan yang ada, namun lebih merupakan usaha memberikan pandangan-pandangan yang ada dan memperluas kesempatan pihak-pihak yang memang terkait dengan situasi yang ada untuk mencari jalan keluar terbaik.

Pembicara pertama adalah Luthfi, PL ’12 yang saat ini sedang menjabat sebagai Menko Sospol Kabinet KM ITB. Luthfi menceritakan proses advokasi yang sedang dilakukan oleh mahasiswa ITB untuk para PKL di jalan Purnawarman yang sedang dalam proses relokasi. Kota Bandung, berdasarkan Perda no 4 tahun 2011 menetapkan tiga jenis zona untuk kegiatan ekonomi khususnya PKL. Zona merah adalah tempat-tempat yang sama sekali dilarang untuk melakukan kegiatan, zona kuning adalah tempat-tempat yang boleh melakukan kegiatan pada waktu tertentu saja, dan zona hijau adalah yang memang diperuntukkan bagi kegiatan berjualan tersebut.

IMG_6102

Luthfi menceritakan ihwal terjadi ketegangan antara PKL Purnawarman yang berjumlah 63 pedagang dengan aparat pemkot yang terjadi pekan lalu. Mulai dari para PKL beramai-ramai mendatangi jalan Purnawarman, berdebat dengan satpol PP, mendatangi rumah jabatan balaikota dan menginap di sana sampai ada kejelasan dari pihak pemerintah kota. Yang dituntut oleh para PKL adalah desain dan penataan letak PKL. Para pedagang ini rencananya oleh Pemkot dipindahkan ke basement parkir BEC yang menurut pandangan saya pribadi sangat tidak manusiawi. Rasa-rasanya orang tidak akan tahan berlama-lama di area parkir yang pengap dan panas itu. Yang lebih menyakitkan adalah jumlah lapak yang tersedia di areal baru jumlahnya tidak mencukupi untuk mewadahi semua PKL yang terdata berjualan di Purnawarman.

IMG_6099

Setelah menjawab beberapa pertanyaan dari hadirin, Luthfi turun dan digantikan oleh seniornya dari jurusan yang sama.

Pembicara kedua adalah Tizar PL ’07 yang sempat diamanahi sebagai Presiden KM periode 2010. Tizar mencoba mengulas permasalahan PKL dari sudut pandang Game Theory yang dipopulerkan salah satunya oleh John Nash pada era ’50an yang memberikan Nash hadiah Nobel Ekonomi. Kisah Nash dapat diikuti di film A Beautiful Mind yang dibintangi Russell Crowe yang rilis pada tahun 2001.

Nash, di film diceritakan menyadari ada sesuatu yang aneh ketika mengetahui bahwa saat seorang perempuan didekati oleh beberapa pria, yang terjadi adalah si perempuan memutuskan untuk tidak memilih satu pun pria yang mendekatinya.

IMG_6107

Bagi yang memiliki sedikit pengetahuan tentang ekonomi dan pernah mendengar nama Adam Smith, tentunya familiar dengan teori “Tangan Tak Terlihat” yang meyakini bahwa jika semua pelaku ekonomi bertindak rasional, secara perlahan akan terbentuk sebuah ekuilibrium harga yang memuaskan semua pihak. Namun pernyataan ini sangat idealis dan melupakan bahwa di dunia nyata, manusia mempunyai sifat-sifat negatif yang cenderung hanya ingin memenangkan dirinya sendiri dalam persaingan. Smith seakan melupakan bahwa manusia dapat saja berbuat licik dan mengelabui manusia lainnya untuk mendapatkan untung sebesar-besarnya.

Contoh klasik dari Game Theory adalah Prisoner’s Dilemma. Andaikan terdapat dua orang pelaku kriminal yang ditahan oleh aparat dan diinterogasi dalam ruangan yang terpisah. Kedua tahanan ini ditawarkan beberapa kemungkinan. Jika A mengakui perbuatannya, sementara B tidak maka A akan diberikan kebebasan sementara B akan diganjar 10 tahun penjara. Begitu pula sebaliknya. Jika keduanya mengaku, maka masing-masing akan mendapat 5 tahun, dan jika keduanya sama-sama tidak mengaku maka akan dihadiahi 2 tahun penjara. Saya pribadi cenderung memilih pilihan terakhir yang jika diberikan peringkat menempati urutan sebagai hasil kedua terbaik setelah kebebasan. Masalahnya, ada idiom “No Honour Among Thieves”, yang berarti kita sebenarnya tidak akan pernah mendapatkan jaminan bahwa rekan kita saat berbuat kejahatan akan konsisten untuk tetap melindungi kepentingan bersama. Kecenderungan untuk melindungi diri sendiri jauh lebih besar tarikannya ketimbang kepentingan bersama.

Dari tarikan Game Theory ini, Tizar menyarankan bagi semua pihak untuk tidak terlalu ngotot mengejar kepentingannya masing-masing saat mendiskusikan jalan keluar. Di sini juga ada problem menurut saya. Melihat sebuah konflik dari  sudut pandang pihak lain bukanlah hal yang mudah. Setiap orang terpenjara setidaknya oleh pengalaman masing-masing. Bagi pemerintah kota, untuk bisa berempati terhadap PKL yang ada bukan perkara gampang karena mereka hidup sehari-hari tidak seberat kebanyakan PKL yang terkadang sekadar memikirkan besok makan apa saja sudah membuat kepala pusing tujuh keliling. Sebaliknya, bagi PKL untuk dapat memahami keinginan Pemkot supaya kota lebih tertata juga bukan hal yang gampang. Diperlukan kebesaran hati kedua belah pihak setidaknya untuk mau duduk satu meja dan saling memaparkan keinginan masing-masing sambil tetap menahan ego pribadi dan memperhatikan kepentingan pihak di seberang meja perundingan. Dalam matriks pola hubungan pihak-pihak berkepentingan yang ditampilkan Tizar sebenarnya ada satu kelompok lagi yang ikut bermain yaitu masyarakat.

Masyarakat bukan merupakan pihak yang dirugikan oleh PKL sehingga tidak terlalu banyak ambil pusing dengan keberadaan PKL. Meskipun sebenarnya PKL bisa jadi merebut kenyamanan di ruang publik dalam hal ini trotoar yang semestinya diperuntukkan bagi para pejalan kaki. Dari pengalaman saya sendiri, berjalan di Purnawarman memang tidak akan bisa di atas trotoar pada beberapa ruas jalan. Di depan Gramedia, trotoar sudah penuh oleh penjual aksesoris dan makanan. Kebanyakan konsumen di sana adalah para pegawai toko-toko di BEC  dan juga para pengantarnya serta orang-orang yang kebetulan lewat.

Saat Tizar selesai memberikan pemaparan, ada beberapa tambahan dari rekan seangkatan dan sejurusannya yaitu Faris PL ’07. Salah satunya adalah kondisi persaingan PKL di Malioboro dengan pedagang yang menempati toko-toko yang terletak persis di belakang PKL Malioboro. Faris menyatakan bahwa ketika dirinya ikut merancang tata ruang di Maliobro dia mengetahui bahwa omzet para PKL Maliboro jumlahnya lebih besar dibandingkan para pemilik toko di belakang. Masalahnya, terkadang para pemilik toko ini bukan dari kelompok yang berada dan keberadaan PKL semakin menyulitkan perekonomian mereka. Selain itu ada pandangan yang menarik lainnya tentang keberadaan pasar di Indonesia. Jika ingin membangun pasar di Indonesia, usahakan lantainya hanya satu saja karena yang lantai selanjutnya besar kemungkinan tidak dilirik oleh pembeli.

Selesai Faris dan Tizar, ada Difa IF ’06 yang menghadirkan perspektif Hukum dan Keadilan. Difa, tampil tanpa menggunakan powerpoint sama sekali. Suatu yang sangat hebat menurut saya. Difa saat ini menempuh pendidikan Studi Pembangunan sebagai jalur selanjutnya. Awalnya Difa menyampaikan beberapa data yang diketahuinya dari Bappeda. Salah satunya adalah penurunan jumlah pedagang di pasar-pasar kota Bandung. Selain penurunan jumlah pedagang pasar, terjadi juga peningkatan jumlah PKL di Bandung. Yang bisa saya ingat hanya angka penurunan yang mencapai 7.000 namun tidak ingat dalam rentang waktu berapa lama. Sedangkan peningkatan jumlah PKL mencapai sekitar 200 dalam rentang waktu tiga tahun. Jumlah PKL sendiri tercatat sekitar 20.000 (angka tepatnya saya lupa). Diperkirakan terjadi perpindahan jenis usaha dari pedagang pasar beralih menjadi PKL.

Hal menarik yang saya petik dari penyampaian Difa adalah PKL, khususnya di Purnawarman merebut hak masyarakat sekitar untuk bisa menggunakan trotoar dengan nyaman. Trotoar semestinya diperuntukkan bagi pejalan kaki. Penggunaannya sendiri memungkinkan sampai ke taraf di mana seorang anak kecil bebas berlarian di trotoar tanpa perlu diawasi terlalu sering oleh orang tuanya. Kenyataannya sekarang, di Purnawarman adalah tidak mungkin membiarkan seorang anak kecil berlarian di sana tanpa tatapan tajam dari orangtuanya. Membiarkan berjalan sendiri saja rasanya sudah sangat berat dilakukan.

IMG_6108

Kemudian, penting untuk menghadirkan advokat di sisi kedua belah pihak yang berkonflik untuk membantu merumuskan solusi bersama. Dan bagi mahasiswa yang sekarang sedang berusaha memperjuangkan hak-hak PKL yang direlokasi hendaknya menempatkan diri sebagai mediator antara PKL dengan Pemkot.

Di samping bicara aspek hukum, Difa juga menyampaikan peran PKL yang dapat menjadi penyelamat saat krisis ekonomi melanda. Ketika krisis ekonomi 98  terjadi, usaha kecil bermunculan sebagai dampak tidak langsung krisis. PHK yang dilaksanakan perusahaan-perusahaan memaksa para korbannya untuk menyambung hidup dengan menjadi wirausaha. Di beberapa negara di Amerika Latin yang tidak mempunyai sumber pendapatan lain, usaha kecil menjadi primadona. Kondisi yang dapat dikatakan berbeda dengan Indonesia yang masih dilimpahi berbagai jenis kekayaan alam.

Penting juga untuk melihat seperti apa SOP yang dikeluarkan oleh pemerintah kota terkait relokasi bagi para PKL sebagai tindak lanjut dari Perda yang telah dikeluarkan. Apakah sudah benar-benar mewadahi kepentingan semua pihak atau belum. Jika sudah, selanjutnya bagaimana implementasinya di lapangan.

Saya sendiri jika berbicara keadilan, cenderung memustahilkan keberadaannya. Rasanya keadilan itu semu belaka. Selalu akan ada pihak yang tersakiti dari sebuah konflik dan manusia pada umumnya cenderung tidak puas dengan solusi yang ada. Hanya yang berjiwa besar saja yang sanggup mengalah ketika ada konflik.

Pembicara terakhir adalah Saska EL ’03 yang memaparkan tentang Design Thinking untuk mencari solusi bagi permasalahan PKL. Sayangnya saya tidak bisa berlama-lama di sana karena kebetulan baru kali pertama membawa motor kawan dan mulut saya mulai membentuk huruf O pertanda diserang kantuk. Untungnya saya sudah pernah menyimak sedikit tentang apa itu Design Thinking yang merupakan proses iteratif pencarian solusi yang memiliki enam tahapan mulai dari Memahami Persoalan, Mengamati,  Membagi Sudut Pandang,  Ideasi, Membuat Prototipe, dan terakhir Mengujinya. Saya termasuk yang beruntung ikut sesi Design Thinking di awal berjalannya proyek Bandung Food Lab yang digawangi oleh Riset Indie yang didirikan oleh Saska bersama beberapa orang kawannya. Bandung Food Lab sendiri adalah proyek yang bekerjasama dengan beberapa pihak salah satunya Hivos dan IIED dari Belanda yang bertujuan mencari solusi terkait kelangkaan pangan yang senantiasa mengintai masyarakat dunia. Bandung Food Lab sendiri berjalan selama 4 bulan dan sempat melakukan pameran untuk memperlihatkan buah pemikiran yang didapat kepada masyarakat luas.

IMG_6100

Selain keempat pembicara di atas, saya juga sesekali mengobrol dengan Alma dan Wintang. Dua dari sekian banyak artis kampus dari angkatan saya. Alma adalah ketua angkatan Arsitektur 2006 dan pernah menjabat Ketua Kongres ketika presiden KM dijabat oleh Herry, sedangkan Wintang pernah menjabat ketua HIMAFI pada tahun 2009. Alma setelah lulus dari Arsitektur mengambil S2 di Pariwisata dan saat ini menjadi konsultan di perusahaan yang didirikannya bersama beberapa orang rekannya. Wintang saat ini mengambil S2 di bidang Perminyakan. Rasanya saya yang paling cupu di antara keempat orang ITB 2006 yang malam itu hadir hehe.

Alma yang lebih banyak menyampaikan isi kepalanya yang terus terang membuat saya semakin kagum saja. Banyak hal tentang PKL yang dia ketahui.

  • Ada PKL yang sudah tiga generasi menjadi PKL di Bandung. Dagangannya adalah sepeda bekas. Usahanya tentu sangat menguntungkan sehingga tetap bertahan menjadi PKL dan bukannya membuka toko sendiri. Asumsi yang biasa hadir adalah jika omzet sudah cukup besar, orang akan berkeinginan membuka toko sendiri dengan harapan meraup untung yang lebih besar lagi. Nyatanya ada yang memilih bertahan dengan kondisi menjadi PKL.
  • PKL mempunyai perputaran uang yang cukup besar. Salah satu contoh kasus adalah lontong padang di Simpang Dago yang perharinya sanggup menjual hingga 400 porsi. Dengan asumsi per porsi diberi harga 8000 rupiah saja, maka perharinya pemasukannya mencapai 3.200.000. Anggap dia mendapat untung bersih separuhnya, maka dalam sebulan pemasukannya bisa mencapai 48 juta. Tentu saja ini contoh yang tingkat keberhasilannya tergolong tinggi.
  • Ada PKL di kota Bandung yang awalnya hanya memiliki gerobak, kemudian berkat pendapatannya yang semakin baik pada akhirnya sanggup membuat rumah di lahan yang dia tempati tersebut. Ini berpotensi konflik di masa depan karena bisa jadi anaknya akan mengira sejak awal orang tuanya memiliki lahan tersebut.
  • Jarang atau bahkan tidak pernah terjadi masyarakat mengusir PKL. Selalu yang berkonflik adalah PKL melawan Pemkot. Apa yang akan terjadi seandainya hal ini terjadi? Akankah PKL tetap gigih melawan atau memilih menyingkir ke tempat lain? Mungkin ada yang penasaran ingin melakukan eksperimen sosial ini? Resiko tanggung sendiri.
  • Preman. Peran mereka jarang disebut di media ketika ada konflik namun sejatinya mereka sangat penting bagi para PKL. Preman menjadi ‘beking’ bagi PKL dengan menjanjikan keamanan lapak dagangannya tidak diganggu gugat oleh Pemkot.Tentunya para PKL ditarik retribusi liar yang tidak masuk menjadi pendapatan daerah. Apa yang terjadi jika preman ini disingkirkan dari kehidupan PKL? Akankah PKL masih mampu bertahan di lapaknya seperti sedia kala?
  • PKL memang baru bisa ‘hidup’ ketika mereka berada pada posisi menginterupsi arus manusia. Jika mereka ditempatkan pada tempat yang tidak dalam kondisi ‘menghadang’ lalu lintas manusia, maka kemungkinan usaha mereka akan mati.

Rasanya masih banyak yang saya lewatkan seperti ketika sesi tanya jawab. Namun karena banyak yang tidak terdengar jadi saya tidak bisa menuliskannya di sini.

IMG_6106

IMG_6105

 

Dan terimakasih kepada teman saya Lulus Kurniawan yang sudah berkenan meminjamkan motornya untuk dipakai malam kemarin. Tanpa pinjaman tersebut mustahil saya bisa mendapatkan banyak ilmu baru seperti di atas.

Sampai bertemu di lain kesempatan!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s