Alasan

Dalam hidup, salah satu komoditas yang mungkin laku dijual adalah alasan. Hampir setiap saat orang mencari alasan. Alasan untuk hidup adalah salah satu yang sering lama dicari. Jika beruntung pencarian berhasil menemu kepada sebuah ujung. Jika tidak beruntung, sampai menjadi debu pun tidak berhasil mempunyai alasan.

Alasan yang sekarang sedang berusaha saya buat adalah tentang kenapa menulis itu perlu. Dulu, saya pernah berpikir menulis adalah untuk memperpanjang ingatan. Sok-sok meminjam ungkapan Pramoedya. Namun saat ini saya pikir ada yang lebih menarik. Itu adalah mencatat kehidupan yang tidak tercatat.

Penduduk bumi saat ini diperkirakan mencapai 7 milyar jiwa. Apakah anda spesial? Saya tidak terlalu yakin. Setiap hari 7 milyar jiwa bertarung berebut oksigen, berebut penghidupan, saling bekerja sama, saling mengadali satu sama lain. Dari 7 milyar itu, berapa banyak yang menjadi orang terkenal dan kemudian dibahas hingga berkali-kali sampai rasanya tidak ada hal yang lebih penting lagi? Seperti penghibur di layar kaca misalnya. Berapa banyak artikel yang dimuntahkan sekedar untuk membahas seseorang pergi ke suatu tempat? Atau sekedar memandikan bayinya? Apa pentingnya? Apa manfaatnya? Apa kegunaannya? Cuma sekedar membius otak kita ke dalam kepalsuan bahwa ada dunia yang indah di luar sana. Sementara hidup kita sendiri sangat kepayahan. Makan tak tentu. Mandi belum tahu. Tidur apakah bisa.

Orang-orang yang sehari-hari tidak pernah menjadi pusat perhatian. Tukang sayur. Tukang becak. Supir angkot. Penyapu jalanan. Penjual combro. Pembuat bala-bala. Tukang parkir. Penjual pulsa. Entah jenis pekerjaan apa lagi di luar sana yang mungkin banyak dari kita tidak pernah membayangkannya. Memungut sampah misalnya. Saya tidak yakin di lingkaran pertemanan saya di media sosial ada yang bercita-cita dibayar dengan memungut sampah. Kita terlalu sering dicekoki dengan ‘passion’. Dan seringkali lupa bahwa di luar sana jauh lebih banyak orang yang bekerja bukan menurut ‘passion’ dia namun lebih karena keterpaksaan.Entah karena pendidikannya tidak cukup tinggi. Entah karena dia dipaksa oleh keadaan fisik yang kurang memadai.

Orang-orang seperti ini, saya yakin kesulitan untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Seperti apa keinginan mereka. Mereka tidak tahu kemana harus berkeluh kesah selain kepada Tuhan YME. Bisa jadi mereka malu.Bisa jadi mereka takut. Bisa jadi mereka tidak mau. Enggan dicemooh karena sekedar mengungkapkan isi hatinya. Padahal, seingat saya, di Indonesia salah satu bekas presidennya senang mencurahkan isi hatinya di depan awak media.

Lalu, apa hubungannya keluhan saya dengan judul?

 

Saya pikir, alasan untuk menulis seyogyanya adalah merekam sebanyak mungkin kehidupan orang-orang yang terpinggirkan.

Sekitar 100 meter dari rumah tempat saya sekarang tinggal ada seorang perempuan tua yang bertahan hidup dengan berjualan bermacam-macam barang. Jika ilmu penaksiran saya benar, maka usia beliau berada di kisaran 55-65 tahun. Beliau hidup sendirian saja jika saya perhatikan. Warungnya tutup pada jam 8 malam. Saya tidak tahu sepagi apa dia membuka warungnya karena saya selalu berangkat setengah 7 ke sekolah tanpa pernah bisa menyapa beliau terlebih dulu. Rumahnya cukup besar untuk ukuran orang yang hidup seorang diri. Di depan lemari-lemari yang beliau gunakan untuk menyimpan barang-barang yang dia jual, terdapat dipan kecil yang dipakai beristirahat sambil menunggu pembeli.

Beliau ke pasar sendiri saja. Saya pernah mencari sesuatu yang ternyata tidak ada di warung. Alasan dia pendek saja,”Acan ke pasar a’ “Saya terkadang geli mendapati kehidupan bisa begitu sederhana. Televisi sebagai salah satu sumber pembodohan terbesar seringkali menunjukkan hidup yang mewah. Dan bagi saya pemberitaan berlebihan tentang hidup badut-badut layar kaca hanya membuat kita kembali lupa bahwa yang di sana itu hanya sebagian kecil. Orang-orang di sana itu bukan bagian besar yang mengisi frasa ‘Masyarakat Indonesia’ . Yah seperti mayoritas pemberitaan yang bersifat jawasentris dan melupakan apa yang terjadi di ujung Papua, di perbatasan Kalimantan dengan Malaysia, dan masih banyak lagi yang lainnya.

 

Saya akui, sering kali kita dituntut untuk berbuat lebih dari sekedar mengeluhkan sesuatu. Jika melihat ada kelaparan, lebih penting menulis tentang kelaparan itu sendiri,  mencari akar permasalahannya atau memberi makan kepada si yang lapar? Jawaban bisa bermacam-macam. Tapi bagi saya mengingatkan bahwa ada orang-orang terpinggirkan yang hidupnya begitu sederhana dan tidak neko-neko sudah lebih dari cukup. Saya percaya kita terlalu banyak lupa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s