Darah dan Silat Banten

Jika menyimak kembali dan mengingat ulang apa yang saya rasakan Kamis kemarin, yang muncul adalah kengerian. Ngeri melihat sederetan gambar-gambar yang lalu lalang di beranda saya. Bagi mereka yang cukup melek internet dan memanfaatkannya lebih dari sekedar berfoto ria atau berkomentar sekenanya, tentunya mengetahui bentuk kengerian yang menggelayut kemarin.

Nun jauh ribuan kilometer jauhnya di sana ada negeri yang sedang dibumihanguskan. Sekelompok manusia membunuh manusia lain. Atas dasar apa? Menurut pihak penyerang yang konon merupakan pemerintahan yang ‘sah’ , penduduk di Aleppo adalah pemberontak. Klaim antara dua belah pihak yang diselesaikan dengan darah.

Salah satu perbuatan paling nista di dunia menurut saya adalah pembunuhan. Saya kadang bertanya dalam hati, kok bisa ada manusia membunuh manusia lain ya? Hak dia apa? Lebih jauh saya akan memberi label orang tersebut sebagai orang yang ‘bermain Tuhan’ karena berani mencabut nyawa seseorang. Mencabut nyawa seseorang bagi saya hak prerogatif Tuhan, dan oleh karenanya manusia yang membunuh orang lain seperti sedang menantang Tuhan. Setidaknya itu yang saya pertanyakan. Bahwa setiap nyawa yang lepas adalah tidak lain karena ketentuan-Nya, saya tidak mau mempertanyakannya kembali.

Dan sepanjang hari, setelah melihat gambar-gambar tersebut saya pun jadi lembam. Badan rasanya teramat lelah padahal saya hanya mondar-mandir di Unpad – Ikopin saja. Tapi yang lelah tentu saja sebenarnya batin saya.

Saya ingin membantu, tapi ya saya punya apa? Uang tidak ada. Mau kirim doa, tapi kok rasanya lemah betul. Di sini jadinya saya berpikir lagi, memang manusia itu dalam kelemahan. Seringkali dalam hidup kita melihat sesuatu yang melanggar keyakinan kita tapi tidak punya kuasa untuk memperbaiki alih-alih mencegahnya.

Dan saya pun dipaksa untuk mau tidak mau mengabaikannya karena ada kejadian lain seperti pilkada DKI yang maha penting sampai seluruh penduduk ‘negara’ Indonesia wajib mengetahuinya. Sampai ada kandidat yang enggan menghadiri debat pun saya ‘dipaksa’ tahu meskipun tidak mencari tahu sendiri. Informasi datang tanpa diminta. Itulah yang sekarang terjadi di era ‘click monkey’. Kadang ada berita yang membuat hati melengos atau mencelos setelah dibaca dan dia membuat batin kita merana karena ya itu tadi : nggak bisa ngapa-ngapain. Mbaca tok! Kadang tebersit keinginan menjitak orang yang membagikan informasi tersebut tapi ntar saya dituduh melawan kebebasan berbicara, kebebasan berpendapat. Bebas tidak selamanya menyenangkan. Tidak semua manusia memahami bahwa ada batasan di dalam kebebasan. Bebas mutlak ya tidak ada. Seandainya bebas mutlak itu ada, maka saya pikir orang-orang akan bertelanjang saja ke kantor. Suka-suka gw lah! Kira-kira seperti itu. Toh kita tetap dibatasi oleh norma, oleh aturan, bisa yang bersumber dari undang-undang negara, bisa yang bersumber dari ketentuan agama, ataupun kesepakatan kecil di antara pihak-pihak tertentu. Kalau saya mau benar-benar bebas, saya tidak mau disebut manusia, tentu saja boleh dong? Tapi kan tidak seperti itu.

Ngomong-ngomong saya melihat gambar-gambar mengerikan kemarin setelah saya mengikuti sebuah kuliah umum di FISIP Unpad. Isi kuliah umumnya tentang dinamika dunia persilatan di masyarakat Banten. Kuliahnya menarik salah satunya karena pembicaranya adalah orang dari bangsa yang menelurkan orang-orang seperti Napoleon Bonaparte, Albert Camus, Voltaire, Blaise Pascal. Gabriel Facal namanya dan dia sangat lancar berbicara dalam bahasa Indonesia. Dua kata yang menarik bagi saya ketika dia sebutkan adalah ‘Kuntilanak’ dan ‘Kliwon’. Dari yang saya dengar, sepertinya Kang Gabriel cukup memahami apa itu Kuntilanak dan Kliwon. Mungkin karena di kampungnya sendiri, dua benda tersebut hadir dengan nama yang berbeda. Tapi saya ragu juga jika Christine Lagarde misalnya menggunakan weton untuk menentukan apakah sebuah negara patut diberikan bantuan finansial (baca: utang ) atau tidak.

img_20161215_094110
Gabriel Facal saat menyampaikan hasil penelitiannya di depan mahasiswa/i Departemen Antropologi Universitas Padjajaran

Alkisah, dari penelitian Monsieur Facal, terdapat lima aliran pokok di dunia persilatan masyarakat Banten.

Yang pertama adalah TTKKDH yang sayangnya saya lupa mencatat apa kepanjangannya. TTKKDH ini sedikit mengingatkan saya dengan sebuah band beranggotakan dua orang yang bernama The Trees and The Wild yang belakangan menyingkat nama mereka menjadi TTATW untuk alasan yang saya sendiri kurang paham. Aliran ini merupakan turunan dari aliran Cimande yang berpusat di kota Bogor.

Salah dua ritual dari aliran ini adalah Tarian Ibinggan serta Ritual Pertarikan yang sederhananya merupakan semacam penarikan janji kepada para sesepuh aliran ini.

Aliran kedua adalah Terumbu Banten. Entah apa yang dipaparkan tapi saya cuma mencatat Kyai Abdul Fatah sebagai salah seorang tokohnya. Saya lupa apakah beliau merupakan tokoh pendiri atau tokoh yang sekarang menjadi pemimpin spiritual kelompok Terumbu Banten.

Yang ketiga mempunyai keunikan tersendiri karena dikembangkan untuk menghadapi para perompak yang dengan demikian spesialisasinya adalah teknik bertarung di atas kapal. Kalau saya tidak salah ingat sih dibilangnya kuda-kudanya harus kuat (?). Bukannya kuda-kuda memang harus kuat ya kalau di dalam bela diri? Mungkin saya salah ingat. Oia nama alirannya adalah Bandrong Kibeji. Pusatnya berada di Kampung Beji. Apakah ini di Depok, saya juga tidak tahu. Saya cuma ingat di wilayah Depok ada daerah bernama Beji yang menjadi markas salah satu penerbit kesukaan saya bernama Komunitas Bambu. Terakhir saya melihat Kobam, panggilan akrab Komunitas Bambu mencetak ulang buku Involusi Pertanian karya Clifford Geertz. Kebetulan orangtua angkat saya mempunyai edisi lamanya yang dicetak tahun ‘80an awal dan masih dibandrol 2100 Rupiah.

Tokoh aliran ini sekarang bernama Kyai Mahfud Muhidin. Aliran ini juga mempunyai koperasi jawara. Saya penasaran apa kira-kira unit usaha dari koperasi jawara ini. Sepertinya sih mengambil usaha simpan pinjam, mengingat ini yang paling mudah.

Selanjutnya adalah aliran Haji Salam yang berdiri pada tahun 1860. Aliran ini didirikan oleh Kyai Bintang sebelum beliau naik haji ke tanah suci. Konon, Kyai Bintang ini sempat berkelana ke daerah Pandeglang dan beradu silat dengan putri Ki Asti dan kalah. Hal ini membuat Kyai Bintang malu dan berguru kepada Ki Asti. Ciri khas dari aliran ini adalah filosofi gerakan yang mengambil dari fenomena alam seperti gerakan padi di sawah dan bahkan kuntilanak (?). Salah satu tokoh aliran ini juga sedang bertarung di pentas politik Banten dengan menjadi cawagub.

Yang terakhir adalah Ulin Makau. Ulin Makau ini memiliki campuran gerakan kung-fu yang memang dibawa oleh seorang Cina yang ketika itu dipenjara setelah ikut membantu gerakan anti kolonialisme di tanah Jawa.

Hal Menarik Lainnya

Ada beberapa ritual lainnya yang juga menarik menurut saya. Salah satunya Buburan. Mungkin ini semacam “Puasa Mutih” di mana seseorang berusaha menahan diri dari merasakan nikmat dunia demi mendapatkan sebentuk kekuatan tertentu. Jika Puasa Mutih hanya boleh makan nasi putih dan minum air putih, pada Buburan, seseorang dianggap seperti seorang bayi lagi yang hanya boleh memakan bubur selama beberapa hari.

Saya juga diperlihatkan gambar sebuah meriam bernama Ki Amok yang dipercaya oleh masyarakat sekitar bahwa jika kaum hawa duduk di atas meriam tersebut dapat meningkatkan kesuburan mereka.

Ada juga kisah tentang pendiri salah satu dari kelima aliran di atas yang sayangnya lagi-lagi saya lupa catat jadi diletakkan di belakang.

Suatu hari terdapat seseorang pria yang pernikahannya selalu gagal karena perempuan yang menjadi istrinya tidak berumur lama. Selalu meninggal. Karena hal ini, pria tersebut kemudian bertanya kepada sesepuh di kampungnya dan dia diminta untuk membuat sebuah kolam keramat. Di kolam ini ditaruh benda-benda yang dapat menarik minat penduduk dunia gaib untuk datang dan mandi. Setelah menunggu beberapa hari datanglah tiga makhluk gaib mandi di kolam tersebut. Pria yang telah lama menunggu tersebut kemudian mencuri salah satu pakaian makhluk gaib itu sehingga dia tidak bisa pulang ke negerinya. Pria tersebut dan makhluk dunia gaib itu pun menikah.

Kuliah umum ini menghadirkan juga dosen dari jurusan Antropologi, Ira Indrawardana sebagai pihak yang menanggapi pemaparan dari pemateri. Kang Ira sendiri merupakan seorang ahli di bidang etnisitas dan etnografi Sunda. Pada saat menanggapi pemaparan Gabriel dan ketika sesi tanya jawab, diperlihatkan beberapa video yang menunjukkan kemahiran Kang Ira dalam hal bersilat.

Di akhir kuliah umum yang juga dapat dikatakan peluncuran buku Gabriel Facal ini, sang penulis menunjukkan kebolehannya dalam bersilat. Mungkin ada sekitar 5 menit warga Perancis ini memukau para hadirin yang datang, terlebih lagi setelah Gabriel menggunakan dua bilah golok sebagai alat bantu. Tepuk tangan langsung memenuhi ruangan tanpa diminta.

Dan tinggallah saya sedikit termenung membayangkan bagaimana bisa seorang yang lahir ribuan kilometer jauhnya menghabiskan masa hidupnya untuk mempelajari sesuatu yang teramat sangat asing. Bicara mengenai lemahnya peran pemerintah dalam mendukung penelitian seperti ini tentunya sudah menjadi rahasia umum.


Saya pikir memang dituntut kegigihan tersendiri untuk meneliti tentang bagaimana dan apa itu sebenarnya suku-suku bangsa yang mendiami arkipelago berjudul Indonesia. Kuliah umum kemarin hanya ‘secuil’ membahas tentang satu aspek dari salah satu suku bangsa yang ada.

Ngomong-ngomong, Gabriel termasuk orang yang tidak setuju dengan adanya olahraga yang dikompetisikan. Baginya, hal ini tidak lebih sebagai daya upaya untuk meraih kursi di pemerintahan. Dengan adanya cabang tertentu sebagai bagian dari sebuah olahraga yang diperlombakan, memperbesar peluang ada dinas khusus yang menggawangi olahraga terkait.

Tapi di Indonesia, olahragawan menjadi pesohor paling jauh sampai di mana ya? Seingat saya mayoritas yang naik di permukaan beritanya justru berita tentang nestapa menjual medali. Apakah ada yang berhasil naik ke posisi gubernur atau menteri olahraga? Cabor yang paling sering digaungkan saja (baca:sepakbola) sering kisruh dan sekarang dipimpin oleh orang berseragam. Yang mana saya tidak mengerti bagaimana mungkin orang yang berlatarbelakang berbeda diserahi amanah memimpin sebuah organisasi? Tapi toh ini negeri sirkus, seorang menteri dipecat dari mengurusi transportasi untuk kemudian dipercayai mengurusi bidang energi.

PS: Terimakasih saya haturkan kepada mamang Ersa di Kolaka yang telah menyambungkan informasi soal kuliah umum ini melalui wasap. Haturtengkyu!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s