Poetry(2010)

Seingat saya, ini adalah film Korea Selatan keenam yang saya nikmati. Sebelumnya saya menonton Oldboy, Thirst, Memories of Murder, Spring,Summer,Fall,Winter…and Spring, dan terakhir My Sassy Girl. 

Bisa dibilang hanya MSG yang bernuansa ceria atau bahkan jenaka. Film-film lain justru mengajak merenung dan bahkan membuat terhenyak menyaksikan adegan di film tersebut .

Poetry tidak jauh berbeda. Benang merah ceritanya memang adalah puisi,tetapi yang disajikan lebih dari itu.

Bermula dari ditemukannya sesosok mayat di sungai yang kemudian diketahui merupakan teman sekolah cucunya,hidup Mija,seorang perempuan yang tinggal berdua dengan cucunya, mengalami goncangan . Goncangan tidak hanya datang dari tabiat cucunya yang ternyata melakukan perbuatan kriminal dan menyudutkan Mija yang hidup sebagai perawat pria jompo,namun juga datang dari dalam dengan bentuk penyakit Alzheimer.

Sungguh hidup yang berat. Cucunya di sekolah belakangan diketahui bersama 5 orang rekannya telah memperkosa dan membunuh gadis yang ditemukan mengambang di awal cerita.

Demi menjaga masa depan keenam bajingan tersebut, kelima ayah dari 5 remaja tanggung tersebut mendekati keluarga si korban untuk bersedia diberikan uang tutup mulut supaya tidak membawa kasus ini ke jalur hukum. Proses ini dibantu oleh pihak sekolah yang tentunya tidak ingin kehilangan muka di masyarakat.

Besarnya uang tutup mulut yang disepakati adalah 30 juta. Dengan demikian masing-masing keluarga wajib menyetorkan 5 juta ke pihak keluarga korban. Bergidik juga rasanya saya ketika menonton. “Oh,nyawa seseorang ada harganya betulan ternyata”.

5 juta bukan jumlah yang sedikit bagi Mija yang semakin digerogoti oleh Alzheimer. Melihat Mija yang mulai kesulitan mencari kata ‘Dompet’ saja rasanya sangat sedih. Solusi yang ditempuh Mija akhirnya adalah memeras lelaki jompo semi hidung belang yang dia rawat untuk memberinya kepuasan seksual. Mija mengancam membocorkan ke keluarga si pria bahwa dia telah memaksa Mija untuk melayaninya.(bagian ini saya sedikit lupa,tapi yang jelas Mija memanfaatkan si pria)

Jika di bagian sebelumnya seakan hidup Mija begitu sengsara, tidak demikian jika kita menyimak bagian hidupnya saat dia perlahan mengejar mimpinya yang lama terkubur : menjadi penyair.

Demi mewujudkan mimpi tersebut,Mija mengikuti kelas menulis puisi yang diadakan di pusat kesenian di kotanya. Salah satu hal yang diajarkan oleh penyair ternama yang menjadi pembimbing kelas tersebut adalah coba untuk  melihat semua benda di sekitar kita dengan seksama dan tuangkan yang kita lihat,dengar,rasakan ke dalam sebuah puisi .

Selain kelas teori, pusat kesenian tersebut juga memfasilitasi pembacaan puisi setiap pekannya. Memang,dengan wawasan sastra yang saya miliki , puisi-puisi yang dibacakan jadi sangat absurd. Belum lagi plesetan dari Bahasa Korea yang juga saya tidak mengerti . Lalu saya membayangkan di Indonesia apakah sudah cukup masyarakatnya membaca karya Chairil Anwar, Sitor Situmorang , WS Rendra,Sapardi Djoko Damono,Sutardji Calzoum Bachri atau Emha Ainun Najib misalnya? Jangan-jangan malah ditenggelamkan oleh spesies baru bernama puisi esainya Denny JA.

Akhir cerita, Mija setelah menyelesaikan masalah yang disebabkan cucunya,pergi entah ke mana. Penonton hanya disajikan adegan ibu dari cucunya datang ke rumah yang kosong. Seraya disuguhi adegan tersebut,melantunlah puisi Agnes’ Song.

How is it over there?

How lonely is it?

Is it still growing red at sunset?

Are the birds still singing on the way to the forest?

Can you receive the letter I dared not sent?

Can I convey…

the confession I dared not make?

Will time pass and roses fade?

Now it’s time to say goodbye 

Like the wind that lingers and then goes, 

just like shadows

To promises that never came,

to the love sealed till the end.
To the grass kissing my weary ankles 

And to the tiny footsteps following me

It’s time to say goodbye

Now as darkness falls

Will a candle be lit again?

Here I pray..

nobody shall cry..

and for you to know..

how deeply I loved you

The long wait in the middle of a hot summer day

An old path resembling my father’s face

Even the lonesome wild flower shyly turning away

How deeply I loved

How my heart fluttered at hearing faint song

I bless you

Before crossing the black River

With my soul’s last breath 

I am beginning to dream…

a bright sunny morning ..

again I awake blinded by the light..

and meet you..

standing by me.

Film ini civil disaksikan oleh insan berkesabaran tinggi karena alur ceritanya cukup lambat. Dan cocok juga bagi penggemar badminton . Mija dan cucunya sesekali bermain badminton di lingkungan mereka. 

Negara mereka dulu punya Bang Soo Hyun sebagai pressing Susi Susanti dan Ye Zhaoying. Dan Denmark punya Camilla Martin. Dulu saya juga senang menonton badminton .Kemunduran Indonesia di olahraga tepok bulu ini juga menyurutkan minat menonton saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s