Punya Anak

Kemarin malam saya bertemu dengan seorang penjual putu yang menyenangkan. Saya katakan dia menyenangkan karena saat memasak putu yang saya pesan, kami terlibat dalam obrolan yang cukup hangat. Tak biasanya saya bertanya macam-macam kepada orang yang baru saya kenal. Mungkin saya sedang mengalami transformasi.

Dia bahkan berhasil membuat saya tertawa karena candaannya. Pertanyaan yang saya ajukan sebenarnya ya standar saja. Pertama saya tanyakan sudah keliling ke mana saja hari itu? Saya bertanya seperti ini karena ketika memberikan uang kembalian kepada saya, saya melihat gepokan uangnya sudah cukup tebal dan ada beberapa lembar puluhan ribu terselip di sana. Tentunya dia sudah berjualan seharian, dan memang benar. Dia sudah berjualan sejak jam 1 siang. Sungguh perjuangan yang hebat. Saat melewati rumah yang saya tinggali berarti dia sedang dalam perjalanan pulang.

Pertanyaan saya selanjutnya adalah sudah punya anak berapa. Saya tidak bertanya sudah menikah atau belum sebab berdasarkan salah satu buku yang saya baca, pertanyaan seperti itu cenderung mematikan percakapan karena hanya memiliki dua pilihan jawaban dan jika kita tidak pandai bersilat lidah, orang yang kita tanya akan merasa tersinggung. Eh tidak tahunya dia malah memberikan jawaban yang saya tidak duga sama sekali. Kata dia, dia tidak punya anak. Bapaknya dia tidak punya anak. Begitu pula kakeknya. Yang punya anak adalah istrinya. Boleh juga bapak satu ini pikir saya. Saya pun tertawa mendengar jawaban tersebut. Sambil sedikit menahan malu tentu saja.

Selanjutnya, dia mulai berkisah tentang petualangannya dulu di ujung barat pulau Sumatra. Di Aceh, dia tidak lama karena ketika itu sentimen anti Jawa kuat tertanam di otak para penduduknya. Kalau saya tidak salah ingat, dia tinggal di daerah Singkil yang tidak terlalu jauh dari perbatasan dengan Sumatra Utara. Setelah terusir dari Aceh, dia pun pindah ke Medan. Setelahnya saya tidak ingat. Yang masih saya ingat adalah kampung halaman beliau yang lebaran kemarin sempat naik daun karena menjadi plesetan dari hasil referendum bangsa Britania Raya. Referendum yang akan efektif dimulai implementasi keputusannya pada tahun depan.
Kembali ke penjual putu tadi, anak beliau sudah cukup besar dan bekerja di ibukota sebagai perawat anak (apa ya padanan baby sitter dalam bahasa Indonesia?).

Karena putunya yang dihargai 700 setiap potongnya sudah matang semua (saya membeli 9 buah), obrolan kami pun terpaksa dihentikan. Saya cuma bisa bilang nyuwun sewu kepada pria tersebut setelah menerima bungkusan berisi putu yang habis dalam waktu kurang lebih 15 menit. Enak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s