Butuh

img_20170109_083644
Dompet saya sekarang

 

 

Di dalam kehidupan sehari-hari rasanya kita sering dihadapkan pada pernyataan atau lebih tepatnya pilihan antara memenuhi kebutuhan atau keinginan.

Sebenarnya apakah yang dimaksud dengan kebutuhan? Berdasarkan KBBI versi V yang saya gunakan di gawai saya, Butuh memiliki dua makna. Yang pertama adalah perlu, sedangkan yang kedua – yang saya juga baru mengetahuinya – adalah bentuk kasar untuk menyebutkan kemaluan laki-laki.

Kebutuhan dengan demikian adalah keperluan.

Kebutuhan dasar manusia saya pikir sudah sangat jelas, berdasarkan ajaran guru-guru saya selama di sekolah dasar yang masih saya ingat sampai sekarang ada tiga : Sandang, Pangan, dan Papan.

Belakangan konsep ini bergeser lagi setelah saya mengetahui konsep kebutuhan yang disampaikan oleh Abraham Maslow. Berdasarkan teori Maslow, kebutuhan manusia terbagi ke dalam 5 tingkatan yang dimulai dari kebutuhan fisik seperti sandang,pangan, dan papan. Setelah itu terdapat kebutuhan akan rasa aman,rasa cinta/ keterikatan, rasa dihargai/dihormati, dan terakhir adalah aktualisasi diri.

Pada kebanyakan individu, mereka baru bisa memenuhi kebutuhan di tingkat atas jika telah terpenuhi kebutuhan di tingkatan yang letaknya lebih rendah. Manusia yang belum terpenuhi kebutuhan fisiknya, tidak akan berusaha untuk mencari rasa cinta atau keterikatan misalnya. Perut harus terisi terlebih baru bisa mencari cinta. Meskipun mungkin tidak tepat seperti itu juga, toh banyak pemuda pengangguran yang rela pontang panting demi mendapatkan hati pujaannya dengan berhutang kiri kanan, bekerja serabutan ataupun melakukan tindakan yang dilarang oleh hukum yang berlaku.

Pertanyaan saya kemudian adalah apakah yang sebenarnya kita butuhkan? Jawabannya baru saya dapatkan setelah saya mengalami kehilangan dompet dan handuk. Kehilangan sesuatu tentu saja sering dianggap sebagai hal yang merugikan, tetapi sangat sedikit yang dapat menarik suatu kesimpulan dari sebuah kejadian yang sedang atau telah berlangsung.

Saya kehilangan handuk ketika saya mencicipi kehidupan di pinggir sungai Montalat di Kalimantan Tengah. Penduduk di kampung yang ditumpangi oleh saya melakukan aktivitas MCK di sungai tersebut. Untuk memfasilitasi kebutuhan tersebut, dibuat sebuah kamar mandi yang diikat ke pohon di pinggir sungai. Terdapat jarak antara bibir sungai dengan si permukaan rakit yang menjadi tempat si kamar mandi terpasang. Untuk menjangkaunya, penduduk setempat menggunakan kayu ulin sebagai jembatan.

 

Suatu hari saya hendak mandi seperti biasa, kemudian karena kurang berhati-hati saya terpeleset dan tercebur ke sungai. Handuk yang sedang saya ikatkan di pinggang saya hanyut bersama aliran sungai yang tidak terlalu deras. Saya sempat bingung karena ini pengalaman pertama saya hidup tanpa handuk. Di tempat asing pula. Maklumlah, saya besar di kota dan meskipun orangtua saya tidak tergolong berada namun tetap mampu membelikan saya benda-benda seperti handuk sebagai kebutuhan sehari-hari. Setelah saya ceritakan kepada teman satu camp  saya, dia bilang tenang saja. Nanti akan dibelikan handuk di pasar yang buka sekali seminggu di Kandui, sekitar 20 km dari tempat kami menginap. Untuk sementara, saya cukup menggunakan kaos saja sebagai handuk. Pikir saya ketika itu, benar juga. Kenapa tidak pakai kaos saja sebagai handuk.

Pengalaman kehilangan lainnya yang memperkuat pemahaman saya soal kebutuhan adalah saat saya kehilangan dompet saya di angkot. Peristiwa ini terjadi sekitar dua tahun lalu. Saya kehilangan dompet saya yang berwarna hitam berikut semua kartu-kartu yang sedikit banyak membantu mendefinisikan siapa saya di dunia ini.

Saya ketika itu lagi-lagi panik sebab kartu pendefinisi siapa saya hilang. Saya jadi dianggap tidak ada di mata institusi bernama negara dan semua embel-embel turunannya. Setelah saya perlahan mengumpulkan kembali kartu-kartu serupa, saya sekarang menggunakan dompet seperti yang ada di gambar di atas. Hanya berupa kantong plastik yang biasanya lebih dikenal sebagai kantong gula. Yang difoto di atas adalah dompet kedua saya setelah saya mengalami kehilangan dompet kulit dua tahun silam. Dompet pertama saya sudah sobek-sobek akibat tusukan-tusukan dari sudut kartu-kartu yang ada.

 

Kesimpulan yang saya dapatkan dari dua kehilangan di atas dalam beberapa kalimat sederhana adalah sebagai berikut.

Benda-benda yang sekarang kita anggap sebagai sebuah kebutuhan, menurut saya adalah sebuah rekayasa tambahan saja dari sebuah benda yang merupakan kebutuhan dasar sebenarnya. Dompet, fungsi dasarnya adalah untuk menyimpan uang, bon, dan kartu atau dengan kata lain menyimpan kertas-kertas. Apakah bedanya dompet seharga satu juta dengan dompet plastik gula milik saya yang di warung-warung dihargai 2000 untuk 40 lembar? Jika fungsi dasarnya terpenuhi, lalu untuk apa lagi menghamburkan kertas untuk membeli tempat penyimpanan kertas?

Jika kita bisa menggunakan kaos yang kita gunakan sebelum mandi sebagai alat pengering badan setelah mandi, lalu untuk apa membeli handuk yang harganya ratusan ribu misalnya? Toh sama-sama bisa membuat badan kita kering.

Jadi apa yang sebenarnya anda butuhkan hari ini?

Advertisements

2 thoughts on “Butuh

    1. Iya Sisca, dengan kata lain seperti itu hehe. Dunia konsumsi zaman sekarang dengan segala pemasarannya membuat kita selalu merasa ada yang kurang sih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s