Pernikahan (Menurut seorang teman)

Kemarin siang, sekitar jam 9.30 pagi hingga menjelang datangnya waktu Zuhur, saya mengobrol dengan salah seorang teman saya yang baru saja melepaskan status bujangnya. Dia yang kelahiran Jatinangor menyunting gadis dari Kopo. Usia pernikahan mereka jika saya tidak salah ingat akan memasuki bulan kedua pada tanggal 13 Januari nanti.

Yang menjadi bahan pembicaraan adalah pandangan dia tentang pernikahan itu sendiri. Saya terus terang saja masih menyimpan rasa skeptis yang besar  terkait penyatuan dua jiwa ini. Bukannya saya tidak percaya dengan nasihat yang sudah berkali-kali dilontarkan oleh teman-teman saya tapi kejadian bulan lalu memang menguatkan keraguan saya untuk mencari pasangan hidup.

Beberapa sudut pandang baru yang saya dapatkan di antaranya adalah mengapa dia menginginkan seorang istri yang pandai memasak adalah supaya anak-anak kelak akan betah berada di rumah dan tidak hobi keluyuran sembarangan hanya sekadar untuk mencari jajanan. Jajan boleh, namun tetap prioritas makan adalah di rumah. Pikir saya benar juga, apalagi hal ini juga akan membantu dalam mengendalikan pengeluaran.

Seorang istri juga menurutnya haruslah patuh terhadap suami sebagai seorang kepala keluarga. Sehingga penting untuk mencari seorang pasangan yang lebih muda setidaknya 2 hingga 3 tahun karena dengan demikian sang suami akan lebih dihormati oleh istri karena memiliki lebih banyak pengalaman.

Baginya pernikahan adalah dunia di mana kedua pengisinya saling melengkapi satu sama lain. Tidak perlu mencari seseorang yang memiliki banyak kemiripan dengan diri kita sendiri karena akan sulit memenuhi konsep saling melengkapi tadi. Seandainya istri kita seorang yang tidak menyukai sepakbola, perwujudan saling melengkapinya adalah menemani suami menonton pertandingan klub idola si suami.

Selain itu, sebagai seorang suami sudah seharusnya menjadi seorang pendengar yang baik. Apa pun yang istri katakan terutama saat emosinya sedang memuncak, simak saja dengan merespon seperlunya. Tidak perlu berusaha untuk langsung mencari solusi pada saat cerita sedang diutarakan.

Saya sendiri tidak mendapatkan tuntutan dari keluarga untuk segera menikah. Jarak yang jauh sedikit banyak memberikan saya keleluasaan dari pertanyaan yang sering dirasa menyudutkan tersebut. Ibu saya juga tidak pernah menyinggung duluan hal tersebut. Saya  yang selalu menyinggung soal pernikahan ini saat saya menelepon ibu.

Pada dasarnya saya sendiri sedang malas untuk serius memikirkan dan mencurahkan usaha ke arah hubungan yang bersifat serius. Namun sampai kapan? Saya pikir tetap akan ada batas waktu di mana saya harus mengambil keputusan untuk menikah atau tidak sama sekali.

Advertisements

3 thoughts on “Pernikahan (Menurut seorang teman)

  1. Nah, kalau yang ini, tergantung dari tujuan menikahnya itu sendiri, Kang.
    Kalau tujuan hidupnya didefinisikan dengan indah, menikah itu jadi alat buat saling melengkapi dan menguatkan di perjalanan menuju tujuan. Dengan siapa pun itu di sebelah, bertemu di usia berapa pun bertemunya.

    Jangan mencari, jeda saja dulu mematutkan diri. Same here!

    1. Yeah Sis. Tujuan hidup. Kemarin-kemarin aku juga tidak berpikir sampai ke sana sih. Nggak melihat pernikahan sebagai suatu metode atau alat untuk mencapai tujuan hidup. But then again, mematutkan diri dulu aja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s