Diari Astro(1)

Diari astro ke depannya akan berisikan rekaman perjumpaan saya dengan orang-orang dari lingkaran astronomi.
 
Kemarin setelah dengan agak terburu-buru mandi yang agak lama( sekitar 8 menit) saya meluncur ke Bandung.
Tujuan pertama saya adalah kosan LK yang berlokasi di Taman Hewan. LK sekarang sedang mempersiapkan presentasi tugas akhirnya yang jika tidak ada aral melintang ,akan dilaksanakan sekitar satu bulan dari sekarang. Sebelum saya bertamu ke kosannya,dia sempat pergi ke kampusnya di Jalan Pahlawan untuk bertemu dengan dosen pembimbing namun ternyata sang dosen sedang berhalangan hadir karena sakit.
Ketika saya sampai, LK sedang asyik mengetik  draft skripsi yang isinya membahas tentang rotator kamera dari teleskop yang berada di Bosscha. Tebal naskahnya mencapai sekitar 150 halaman dengan jarak spasi 2.
Dengan ketebalan tersebut,dia menghasilkan naskah yang dua kali lebih tebal dari kebanyakan naskah tugas akhir di jurusannya. Ketika saya bertanya,”Kenapa bisa setebal ini ?”
Dia menjawab karena dia merinci semua persamaan-persamaan yang dia gunakan dalam perhitungan tugas akhir tersebut.Rincian ini dibuat karena saat dia menyimak presentasi orang-orang sebelum dia, sering muncul komentar dari penguji yang menyindir penyaji karena mencantumkan persamaan tanpa pketerangan. Sindirannya halus saja,”Kamu memasukkan persamaan yang hanya dimengerti oleh kamu ya?”
Makdarit (maka dari itu) LK memberikan introduksi untuk setiap perhitungan dari semua rumus yang ada.
Saya juga bertanya sedikit tentang nona yang mendapat tempat khusus di daftar ucapan terimakasih.
Setelah mendapat konfirmasi dar GKH bahwa dia sudah berada di Cihampelas Walk, saya dan LK segera bergegas untuk bertemu GKH dan AY.
Saat saya melewati jalan Cihampelas, saya terkejut saat melihat sky-walk yang berdiri di atas jalan Cihampelas. Membuat saya merasa betapa lamanya saya sudah tidak melihat daerah Cihampelas. Dan siapa yang membayar pembangunan si sky-walk ini? Sebab biayanya tentu saja tidak murah, sementara di kota Bandung sendiri sedang dilaksanakan banyak proyek mempercantik trotoar kota di beberapa titik yang entah dipilih atas dasar apa.
Sesampainya di Ciwalk, GKH dan AY masih berbicara dengan wartawan dari salah satu harian di kota Bandung. Kami berdua diminta datang duluan ke sebuah kafe bertema teh yang berada di Ciwalk.
Tidak lama menunggu, GKH dan AY kemudian tiba di tempat yang sama. Setelah memesan makanan dan minuman, kami pun terlibat dalam percakapan ngalor ngidul seperti yang biasa terjadi di sekre beberapa tahun silam. Beragam tema yang dibicarakan membuat saya pribadi merasa begitu nikmat. Kadang dibumbui dengan saling merisak juga tentunya.
Salah satu tema yang menemani kami menikmati tiga jenis sajian singkong di meja makan adalah tentu saja bumi datar. Fenomena ini menurut cerita dari mba Vivi selaku warga yang memang lebih dulu merasakan oksigen mirip dengan ketika orang-orang beramai-ramai memperdebatkan kembali teori heliosentris dan geosentris. Sebagai informasi, heliosentris adalah teori yang menyatakan bahwa matahari adalah pusat dari sistem tata surya sementara geosentris mengatakan bahwa pusat sistem berada di bumi. Perdebatan ini ramai menghiasi forum-forum internet pada sekitar tahun 2006. Sekarang, sekitar 10 tahun berselang, perdebatan yang tidak kalah hebohnya menghiasi internet khususnya di media sosial.
Saya pribadi malas mengomentari kaum bumi datar ini karena apa yang mereka yakini sudah berada pada taraf keyakinan serupa agama. Apapun argumen yang disampaikan oleh pihak bumi bulat, pasti akan ditangkis dengan tanpa memberikan argumen logika yang cukup masuk akal. Salah satu senjatanya adalah kata ‘pokoknya’. Apalagi yang diharapkan jika seseorang sudah menggunakan kata tersebut di dalam memberikan argumen?
Kami juga membicarakan tentang lomba esai yang kalau saya tidak salah ingat digagas oleh komunitas bernama Langit Selatan yang digawangi salah satunya oleh AY. Menurut cerita dari GKH dan AY selaku ‘panitia’ dari lomba tersebut, kualitas tulisan yang dihasilkan oleh anak SMP dan SMA yang mengikuti lomba esai secara umum lebih baik jika dibandingkan dengan kualitas tulisan yang dihasilkan oleh mahasiswa. Salah satu kriteria dari tulisan yang buruk menurut penilaian adalah banyak mengkopi dan menyalin tulisan dari berbagai sumber yang kurang kredibel.
Selain itu tentu saja membicarakan dinamika kehidupan di kampus. Salah satu tema yang sering naik ke permukaan adalah tentang mahasiswa/i baru yang perilakunya dianggap tidak sopan dalam menghadapi dosen-dosen di jurusan. Saya sendiri beberapa tahun setelah dibaptis menjadi anggota salah satu persekutuan di kampus, hampir selalu mendengar kabar tak sedap tentang penurunan kualitas kesopanan mahasiswa/i baru. Jika ditelusuri baik-baik, terdapat beberapa penanda di gedung lama yang sayangnya sekarang sudah diakuisisi oleh jurusan lain. Di antaranya tulisan dilarang berisik ketika berada di dalam ruangan kelas. Hal ini memang mengganggu sebab kelas-kelas di jurusan dibatasi hanya oleh tembok yang dibuat dari triplek sehingga suara dari satu ruangan akan sangat mudah didengar oleh ruangan sebelahnya. Teguran selanjutnya adalah ketika penggunaan kamar mandi diatur supaya mematikan air jika tidak digunakan. Saya pikir ini sebuah teguran yang cukup memalukan, mengingat konon yang masuk ke kandang gajah adalah putra putri terbaik bangsa. Jika mematikan keran air setelah digunakan saja perlu dikendalikan, rasanya mengecewakan sekali. Tapi mungkin memang sebegitu mengecewakannya karena saya ingat ketika ada reuni alumni jurusan tertentu, yang pesertanya sudah gendut-gendut dan diperkirakan berada pada kisaran usia 40 ke atas, mereka dengan mudahnya membuang plastik pembungkus kaos temu alumni begitu saja di lantai.
Setelah dirasa cukup berbagi cerita dan tentunya foto-foto lama yang sebenarnya merupakan tujuan awal, kami pun berpisah. Saya dan LK kembali ke Taman Hewan sambil membicarakan sang editor tugas akhir LK, sedangkan GKH dan AY mencari makan di tempat lain. Saya dan LK akhirnya makan di salah satu warung pecel di dekat Borma Dago. Setelah makan saya melanjutkan perjalanan ke tempat ARA untuk menginap. Tadinya saya ingin membicarakan sesuatu dengannya tapi mata saya terlalu lelah.
Pagi ini saya terbangun setelah ARA membangunkan saya karena alarm saya berbunyi. Saya meninggalkan kosan ARA di daerah Bangbayang sekitar jam 07.20. Kami berjalan kaki sampai tempat menunggu angkot. Saya naik angkot hijau ke arah Caheum , sementara ARA ke arah Ledeng sebab dia berkantor di daerah Gegerkalong.
Saya melanjutkan perjalanan ke kosan GKH karena saya belum sempat mengopi berkas-berkas untuk mengikuti tes kefasihan berbahasa asing yang rencananya akan dipelajari untuk membantu menyiapkan diri menghadapi tes yang sesungguhnya. Tujuan akhirnya adalah bisa merasakan sedikit pendidikan di luar wilayah Indonesia.
Setelah memindahkan berkas-berkas buku elektronik ke laptop yang saya pinjam, plus beberapa berkas tambahan seperti Running Man dan Gintama, saya mengobrol dengan GKH tentang keluarganya, tentang adiknya yang sekarang sedang menempuh pendidikan di sebuah sekolah kejuruan di kota Makassar dan adiknya yang paling muda yang sekarang sedang bersekolah di salah satu sekolah negeri di kota yang sama. Saya menceritakan ide saya untuk berkunjung ke tempat S dan RWW untuk bertemu dengan bayi berusia 4 bulan jika saya tidak salah menghitung.
Setibanya di rumah tersebut, kami terlibat dalam beberapa percakapan yang saya pribadi beranggapan sangat menarik. Salah duanya adalah tentang pengembangan institut teknologi di luar pulau pengunci kekuasaan serta peluang pendirian rumah baru di sebelah timur pulau pengunci.
Alkisah, di luar pulau pengunci kekuasaan akan didirikan rumah pengamatan yang baru yang diharapkan akan beroperasi selambat-lambatnya setahun setelah raja yang sekarang menjabat melanjutkan tahtanya untuk kali kedua, melanjutkan pembangunan jalur-jalur infrastruktur baru yang sekarang sedang dirintis hingga membuat dompet kerajaan mengalami kanker alias kantong kering. Setidaknya itu cerita yang beredar dari mulut seorang bekas pejabat bank kesohor yang sekarang kembali mengabdi di kerajaan.
Jika anda merasa bingung membaca paragraf barusan, tidak usah dipikirkan. Lanjutkan saja kehidupan anda dan bebaskan dari pikiran-pikiran yang membebani. Hidup toh menurut sebagian orang adalah harus dinikmati.
Jadi kapan kita reoccupy?

Selamat malam.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s