Diari Astro (2)

Sabtu pagi yang agak panas sempat membuat saya sempat mempertimbangkan ulang untuk mendatangi kota Bandung. Namun karena hati saya sudah mendapat sedikit nutrisi di paginya dan problem yang menggantung di benak saya juga mendapatkan solusi yang objektif, saya langkahkan juga kaki ke pangkalan Damri di depan kampus Unpad Jatinangor.

Saya ingat betul, bis berangkat jam 10.40 dengan jumlah penumpang yang  jumlahnya tidak sampai 10 orang. Saya duduk di deretan bangku paling belakang dengan mengambil posisi di samping jendela.  Karena hanya ada dua orang di deretan terbelakang yang masing-masing duduk di samping jendela, saya kemudian memilih untuk tidur sambil melipat kaki saya di atas bangku sebelah saya dan menyandarkan punggung ke jendela. Pendingin ruangan yang dipasang di bis ikut membantu saya menikmati dunia mimpi. Niat membaca buku  selama di perjalanan terpaksa mengalah.

Sesekali saya memang terbangun tapi lebih sering terlelap selama di bis. Saat bis memasuki jalan Terusan Jakarta, saya melihat supir mengeluh kepada penumpang yang membayar dengan selembar uang seratus ribu. Saya sedikit merasa tidak enak hati karena saya juga berniat ‘memecah’ uang lembaran biru yang saya bawa. Saya tidak memperhatikan jelas apakah akhirnya penumpang tersebut bisa membayar ataukah pak supir yang terpaksa kehilangan uang setoran. eh memangnya masih pakai sistem uang setoran ya? 

Setelah menghubungi teman SMA saya yang sedang berkunjung ke Bandung untuk menghadiri salah satu acara di daerah Dago Atas, saya menyempatkan diri untuk lapor diri di Masjid Unpad Dipati Ukur.

Saya kemudian naik angkot Kalapa -Dago karena terakhir saya mendapat kabar , teman saya sedang berada di BIP. Namun ternyata karena kelalaian saya yang tidak langsung membuka WhatsApp, kawan saya justru meluncur ke arah Dipati Ukur karena hotel tempatnya menginap berada di jalan tersebut. Apa lacur, saya kembali ke DU dengan menaiki angkot jurusan yang sama.

Kami bertemu di Indomaret Point dan mengobrol selama sekitar satu setengah jam. Membicarakan beberapa hal terutama tentang rencana-rencana masa depan saya. Yang saya sukai dari dia adalah dia cukup terbuka menyampaikan opininya tentang apa yang saya pikirkan dan memberikan masukan-masukan yang dianggap perlu. Dia juga seorang Juventini. Juventini yang tidak terlalu menganggap serius perubahan logo yang baru saja terjadi meskipun kemarin sempat saya dengar istrinya menggodanya terkait perubahan tersebut. Saya hanya tersenyum menyimak percakapan mereka.

Sekitar jam 15.00 saya meninggalkan lokasi pertemuan kami. Begitu pula teman saya tersebut yang pergi ke hotel untuk check-in . Saya lalu naik angkot ke arah RS Borromeus karena saya hendak mendatangi RAT yang biasa diadakan setahun sekali. RAT kali ini sangat berbeda karena mengambil tempat di luar lingkungan H*. Kecewa juga sebenarnya mengetahui ruang seminar besar tidak bisa dipakai. Namun saya sendiri memang tidak bertanya lebih lanjut perihal keputusan pemakaian GSG Salman sebagai tempat RAT. Saya hanya ingin menikmati saat-saat bersama orang-orang yang saya sayangi sambil menyampaikan beberapa hal yang saya anggap perlu kepada orang-orang yang masih baru saja hadir menjadi darah segar organisasi.

Secara umum saya pikir rapatnya membosankan karena dialog yang terbangun hanya terjadi antara pelaku yang itu-itu lagi. Orang-orang baru mungkin lebih sibuk memikirkan hal lain yang lebih penting bagi dirinya pribadi. Sebagian lagi malah asyik memperhatikan layar gawainya. Di satu sisi saya ingin mempertanyakan keseriusan orang-orang yang asyik menatap hal lain dan sama sekali tidak memperhatikan lagi, tapi saya timbang lagi untuk apa? Kalau secara norma mereka merasa semuanya baik-baik saja, lebih baik saya biarkan mereka dalam kebebalan berpikirnya saja.

Sudah sangat banyak wajah yang saya tidak kenali dari yang hadir. Saya hanya ingat ada GKH, LK, TP, DGR, WCS,ALI,FMN,FAMM,WS,ITA yang sudah berstatus anggota kehormatan. Sisanya yang masih anggota biasa ada CA yang belum melepaskan status mahasiswanya. Selain itu adalah para anggota biasa.

Setelah saya menyampaikan beberapa hal yang saya pikir perlu, menyapa beberapa orang dan bertanya perihal ujian masuk sekolah periode selanjutnya demi membantu seseorang, saya meninggalkan forum dan mengayunkan kaki ke Taman Hewan untuk bertemu salah seorang senior saya dari perkumpulan nomor anggota 10. memangnya nomor anggota 7 saja yang punya persaudaraan :p 

 

Senior yang satu ini saya pikir sangat dihormati oleh kalangan kami. Nyaris semua orang yang saya kenal, memanggilnya dengan sebutan Mas. Tidak peduli kakak atau adik kelas, semua mengenalnya sebagai “Mr Nice Guy”. Sebutan ini bukan tanpa alasan, beliau adalah orang yang saya pikir sangat penyabar dan saya terus terang tidak dapat membayangkan beliau meluapkan emosinya dalam bentuk amarah. Hanya ada satu kisah yang samar-samar saya pernah dengar ketika beliau marah kepada peserta penerimaan anggota baru. Selebihnya nihil.

Saya datang ke kosan di Taman Hewan bersama dengan DGR yang berkata bahwa dia sudah lama tidak bertemu dengan DHN. Kebetulan, DGR dan DHN sama-sama dari kota Apel di Jawa Timur.

Setelah bertanya kepada bapak kosan DHN, kami dipersilakan untuk naik ke lantai dua untuk bertamu ke kamar DHN. Saya dalam hati gembira juga melihat beliau sehat-sehat saja. Badannya memang lebih kurus jika dibandingkan dengan pertama kali saya mengenal beliau beberapa tahun silam saat rambutnya sengaja dipanjangkan.

Saya dan DGR kemudian mengajak DHN mengobrol ngalor ngidul. Saya bertanya sedang sibuk apa sekarang. Beliau menjawab bahwa dia sedang mempersiapkan sebuah naskah yang membahas tentang fenomena Flat Earth  yang ramai dibicarakan di internet. DHN membahasnya bukan dari sisi sains tapi justru dari sisi psikologi. Saya sebenarnya ingin membaca naskah yang masih mentah itu namun tidak berhasil merayu beliau.

Selain menulis, DHN juga sedang membaca-baca kembali materi pelajaran sains khususnya tingkat SMP. Kaget juga saya mendengarnya sebab sependek pengetahuan saya , DHN ingin keluar dari ranah sains beberapa waktu silam dan mencoba beralih ke bidang lain dengan mempelajari beberapa hal di antaranya Bahasa R. Mungkin memang takdir beliau untuk bergelut di bidang pendidikan dan tidak masuk ke ranah yang sifatnya lebih praktis seperti menjadi analis data/ programmer yang sedang laris bak kacang goreng di tanah air berkat menggeloranya semangat mendirikan usaha rintisan atau startup di banyak bidang industri.

Saya juga menggoda beliau supaya bersedia hadir di acara reunian informal yang rencananya ingin saya helat selambat-lambatnya bulan April/ Mei 2017. Saya berseloroh bahwa kalau saya bisa mengajak beliau hadir, saya akan bisa membanggakan prestasi tersebut ke hadapan kakak-kakak kelas saya. Saya juga menjanjikan bahwa acara reunian tersebut sama sekali tidak akan bersifat serius seperti ketika acara pertama kali digelar tahun 2012 saat saya tidak bisa hadir.

Perhelatan kedua saya tidak bisa mengajak beliau hadir namun kembali saya berusaha menekankan bahwa acaranya tidak akan serius sebab berkaca dari pengalaman, ada satu masalah yang pada akhirnya selalu diingat oleh hadirin yang ikut berpartisipasi : Tidak adanya sambal sebagai penguat nafsu makan. Selebihnya, saya pikir semua orang berbahagia hari itu. Bahagia karena bisa berkumpul bersama dengan kakak-kakak dan adik-adik dari berbagai angkatan. Saya sendiri sepulang dari sana merasakan sebuah kehampaan yang memaksa saya menangis di saat perjalanan pulang. Ada perasaan ingin bisa bersama lebih lama, tapi toh hari Senin akan datang juga. Momen bersama menjadi sesuatu yang berharga tinggi justru karena tidak selamanya bisa dilakukan. Bukan begitu ? 

Sesekali DHN bertanya kepada DGR misalnya tentang Olimpiade Astronomi. Tentang siapa yang menjadi ketua tim teknis dan menjadi sekretarisnya. Dilaksanakan di kota manakah OSN tahun 2017. Saya juga sempat mengintip beberapa buku yang mengisi rak buku beliau. Tidak ada buku sains memang kalau saya tidak salah lihat, tapi di antara tumpukan buku yang ada ,terselip dua buah DVD Friends . DHN memang sangat menyukai serial yang dibintangi salah satunya oleh Jennifer Aniston tersebut.

Saya juga meminta doa restu beliau perihal niat saya untuk mendapatkan hati seorang gadis yang saya taksir. Saya pikir, semakin banyak orang dekat saya yang tahu soal ini, setidaknya mereka akan membantu mendoakan usaha saya supaya bisa berhasil. Tentunya saya juga harus mengeksekusi banyak hal demi mewujudkan keinginan tersebut.

Setelah salat magrib berjamaah di langgar di dekat kosan tersebut, saya dan DGR meninggalkan Taman Hewan sambil ditemani oleh DHN. Saya yang lebih banyak berbicara ketika kami bertiga berjalan bersama. Kalau saya renungi sendiri, saya tentu saja heran kenapa saya jadi bisa secerewet tersebut, tapi mungkin memang ada hal-hal yang berubah di dalam hidup kita.

Saya dibonceng oleh DGR hingga terminal Cicaheum dan jam saya menunjukkan sekitar 1900 saat saya naik angkot. Sampai di rumah, saya sudah terlalu lelah untuk melakukan apapun. Saya cuma menyikat puding yang disisakan di dalam kulkas kemudian membaca sedikit di gawai dan sekitar jam 2100 saya terpejam. Saya terjaga saat semua orang sudah tidak terlihat lagi sekitar jam 2300 dan barulah saya menggoreng pempek yang masih ada di kulkas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s