Bodoh

Tadi sore dan sampai tulisan ini dibuat ,hati saya gundah gulana. Saya sedianya hendak berangkat kuliah. Saya baru selesai memasang sepatu ketika seorang ibu separuh baya datang menawarkan dagangannya.

‘Punten a bade nawis’ sapa ibu tersebut.Saya dengan bodohnya hanya membalas dengan senyuman pahit seraya berkata ‘Punten ibu’

Entah kenapa saya kemudian merasa hidup ini begitu pahitnya setelah saya menolak ibu tersebut .Saya memang tidak punya uang tapi kenapa saya menghalangi ibu tersebut menawarkan dagangannya ke orang lain yang ada di dalam. Apa daya saya sebenarnya sehingga begitu berani mematahkan usaha ibu tersebut?

Saya lantas teringat ibu saya sendiri ,tapi terlambat. Ibu pedagang barusan sudah pergi lagi ke rumah sebelah dan saya lagi-lagi dengan bodohnya hanya melihat dia menerima penolakan lain. Saya diam mematung selama beberapa jenak mengutuki diri sendiri.Saya garuk kepala saya yang ternyata sudah dilapisi helm. 

Saya ingin marah.

Saya ingin menangis.

Saya ingin mengulangi momen tersebut dan mengambil keputusan yang berbeda.

Tapi saya bisa apa sekarang ?

Hanya menuliskan unek-unek akibat kebodohan diri sendiri. 

Saya harap ibu tersebut memperoleh lebih banyak rezeki besok dan besoknya lagi.

Saya harap Allah SWT mendengar permohonan saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s