Diari Astro(3)

Tulisan ini seharusnya selesai dituliskan pada hari Kamis pekan lalu ketika demo angkot di Bandung berlangsung, namun karena saya kembali mengunjungi Bandung pada hari Sabtu, baru sekarang saya bisa merangkai kata-kata yang menjadi pengingat pertemuan saya dengan beberapa orang dalam satu minggu terakhir.
Saya ke Bandung pada hari Selasa siang. Pada awalnya saya hanya ingin berada di Bandung selama satu hari saja, namun saya memperpanjang kunjungan saya karena saya toh sedang tidak ada kegiatan yang berarti di kampus.
Senin siang saya memulai perjalanan dari pangkalan Damri di Jatinangor, sore setelah masuk waktu salat Asar saya sampai di Bandung. Tujuan pertama saya hari itu adalah kontrakan RWW dan S. Sepertinya sudah menjadi kebiasaan bahwa saya akan mampir pertama kali di kontrakan kecil yang sudah sekitar 5 bulan dihuni oleh bayi mungil yang bernama panggilan Foton (bukan nama sebenarnya). Setidaknya sebagian om dan tante Foton, memanggil dia dengan sebutan itu. Kedua orangtuanya memanggilnya dengan sebutan Aga yang berasal dari nama depan si bayi yaitu Tyaga. 
Bapaknya, yang bulan depan akan berangkat ke salah satu negara di Amerika Selatan untuk melakukan penelitian selama kurang lebih empat bulan sering memanggilnya dengan sebutan Gacu alias Aga Lucu. Aga juga menjadi hiburan tersendiri di lini masa media sosial saya karena bapaknya kadang mengirimkan foto Aga dilengkapi dengan caption  yang jenaka. Terakhir saya dengar, Aga direncanakan untuk dibuatkan baju yang mirip dengan yang dipakai tokoh manga One Punch Man yaitu Saitama. Dari kepala plontosnya sih saya pikir memang mirip, tinggal dipakaikan baju saja. Sore itu saya juga tidak tahu mengapa cukup bisa bermain dengan Aga, padahal sejujurnya saya termasuk kelompok orang yang tidak tahu bagaimana caranya berinteraksi dengan bayi yang bahkan belum mempunyai pilihan kata yang jelas. Tapi saat itu saya beberapa kali melihat Aga tersenyum dan membuat hati saya juga jadi lebih ringan. Senang sekali rasanya.
Saya tidak berdiam lama di kontrakan tersebut. Ketika saya melihat bahwa hujan yang sedang rajin mengguyur daerah Jatinangor dan Bandung setiap sorenya mulai mereda, saya berpamitan kepada tuan rumah yang sudah dengan senang hati direpotkan oleh kehadiran saya. Saya juga membawa oleh-oleh berupa celana jeans yang sedianya dipakai oleh RWW namun ternyata ukurannya kekecilan dan justru pas di pinggang saya. 
Awal yang menyenangkan.
Ketika saya hampir sampai di ujung gang yang bermuara di samping Pasar Cihaurgeulis, hujan mulai mengeras kembali dan saya mempercepat langkah saya karena saya ingin segera berteduh di kosan DGR dan ARA di daerah Bangbayang. Kosan ini pada awalnya dihuni oleh alumni dari salah satu SMA unggulan di kota Magelang. Tapi belakangan penghuninya mulai bervariasi meskipun tetap didominasi oleh alumni SMA tersebut.
Setibanya di kosan mereka, saya langsung menjemur jaket saya di balkon lantai dua. Kemudian saya tidur-tiduran karena kepala agak sedikit pusing, mungkin masuk angin. 
Saya terus terang sudah tidak ingat apa saja yang saya obrolkan dengan ARA dan DGR malam itu. Setidaknya dalam memori saya, ada saat ketika mereka berdua secara bergantian memainkan gitar milik DGR dan mulai memainkan tembang dari Silampukau dan Iwan Fals. Lagu Iwan Fals saya tidak terlalu kenal, lain halnya dengan Silampukau yang sekarang sudah menjadi salah satu band kesukaan saya karena lirik-liriknya yang sederhana namun dengan jeli bisa melihat permasalahan sosial yang ada di masyarakat khususnya di Surabaya. Lagu favorit saya dari Silampukau adalah Lagu Rantau. Liriknya tentang seorang manusia yang ingin mencari tempat pulang karena dirinya mulai tenggelam dalam rutinitas.

Keesokan harinya, saya pergi ke lantai 6 gedung Center for Advanced Studies untuk menemui salah satu dosen muda di sana yang sudah memiliki dua orang putri yang cantik-cantik. Setiba di prodi, EIA sedang tidak berada di ruangan dan setelah mengirimkan pesan singkat saya langsung masuk saja. Tidak sopan memang, tapi saya juga tidak ingin menunggu di luar. Tidak lama menunggu di dalam ruangan, pemilik ruangan datang. Ketika menunggu saya membuka-buka beberapa buku yang ada di rak di antaranya Tracer Study angkatan 200x, buku tentang sejarah astronomi di dunia, dan yang ketiga adalah buku tentang astronomi di Asia Tenggara yang diterbitkan oleh Brill.
Saya menceritakan beberapa hal dengan EIA dan setelah sekitar 30 menit mengobrol datanglah LK yang baru saja menyelesaikan pendidikan lanjutnya di kampus yang terletak di daerah Cikutra. Dari EIA saya diceritakan tentang bagaimana sepak terjang pengurus himpunan sekarang, tentang anak pertamanya yang semakin hari semakin banyak tingkah. Malam sebelumnya, R membuat ayahnya geleng-geleng kepala karena ketika sedang disuapi makan malam dia melakukan guling ke depan/belakang yang tentu saja ditegur ayahnya. “R, jangan guling-guling nanti kamu muntah”, ujar ayahnya. “Nggak kok ayah, ini R nggak muntah kan”. Hehe  
Ketika saya bercerita tentang kebingungan saya mengenai apa yang mau saya lakukan setelah saya menyelesaikan pendidikan yang sedang saya tempuh, di salah satu kalimatnya, EIA menyarankan saya untuk masuk astronomi lagi. Sebelumnya , LK juga mendiskusikan tentang peluang untuk bisa mengambil kuliah master di ITB, setengah bercanda EIA mengatakan bahwa LK tidak akan diterima kecuali dia masuk Astronomi ITB. 
Saya bersama dengan LK meninggalkan gedung CAS menjelang pukul 13.00 karena EIA akan pergi ke daerah Pasteur untuk mengikuti rapat di Lapan. Kami tidak langsung mengarahkan kaki ke kosan LK di daerah Taman Hewan sebab saya ingin menanyakan tentang tes TOEFL di UPT Pusat Bahasa ITB yang sekarang berlokasi di gedung CADL yang dulunya merupakan Gedung Serba Guna ITB. Kadang kalau ingat gedung lama yang sekarang berganti rupa, saya merasa kangen juga. GSG yang gelap dan bocor itu sudah jadi bagian dari kehidupan saya juga walaupun tidak banyak menyita waktu saya. 
Di saat menunggu front office beroperasi kembali, kami bertemu dengan AHF yang akan mengambil hasil tesnya beberapa pekan yang lalu. Setelah saya menanyakan tentang tarif dan prosedurnya kepada yang sedang bertugas, saya sedikit kaget karena tarifnya belum berubah sejak terakhir saya mengambil tes tersebut 5 tahun silam. Sepertinya fluktuasi harga minyak ataupun kenaikan harga cabai tidak ada hubungannya dengan tarif tes. 
Motor LK diparkir di belakang Masjid Salman. Hari itu, ada kuliah umum yang disampaikan oleh Kapolri di Aula Timur ITB. Kuliah umum yang ketika dikutip di salah satu harian nasional sedikit membuat alis mengernyit karena ada sebuah pernyataan tentang potensi mahasiswa sains khususnya dari jurusan Fisika dan Kimia untuk menjadi radikal bahkan sampai meledakkan diri. Tulisan tersebut ditanggapi dengan candaan saja, “Mahasiswa/i Astronomi dan Matematika aman”.
Sebelum sampai di kosan, LK ingin membeli gorengan berupa tahu dan tempe yang baru didapatkan di salah satu warteg dekat kosannya. Hanya ada tempe di warteg tersebut seingat saya. Di kosan, kami berdua makan gorengan yang dicocol dengan sambal kecap olahan LK yang ternyata cukup enak. 
Di kosan, kami mengobrol tentang pengurus himpunan yang baru, dan rencana dia ke depannya. Tidak lupa dia juga memberikan saya tips untuk bisa ke Jakarta dengan bermodalkan 14.000 Rupiah. Caranya adalah naik kereta dari Stasiun Bandung yang berhenti di Purwakarta kemudian dari Purwakarta naik kereta yang berhenti di Jakarta. Butuh niat yang kuat menurut LK untuk bisa melakukan perjalanan tersebut, terutama karena kereta dari Bandung ke Purwakarta hanya ada satu setiap harinya yang berangkat pagi hari dan kembali ke Bandung pada siang harinya.
Saya kembali ke kosan DGR sekitar pukul 16.00 setelah rintik hujan mulai turun dan juga karena saya gagal buang air besar sebab kamar mandi yang biasa dipakai LK dan kamar mandi mesjid yang biasa saya tempati salat juga pada saat bersamaan ada yang menggunakan. Perut saya memang biasa mengeluarkan beban setelah diberi minum kopi. Saya minum kopi dan makan roti setelah menikmati gorengan. Dengan agak sedikit menahan nyeri saya katakan bahwa saya sudah hendak pamitan kepada LK. Dia kemudian menawarkan untuk mengantarkan saya ke kosan DGR. 
Di kosan DGR saya beristirahat sejenak ketika tiba-tiba datang kabar duka dari teman SMA saya. Salah seorang teman sekelas saya ketika kelas XI mendapat serangan jantung dan meninggal. Perasaan saya langsung tidak enak. Jika ingatan saya bisa dipercaya, ada satu dekade saya tidak bertegur sapa dengan beliau secara langsung. Kami memang dipertemukan kembali melalui grup media sosial tapi tetap saja tidak bertatap muka secara langsung bagi saya artinya tidak bertemu.

Sore itu rasanya saya ingin segalanya cepat berlalu atau berharap ini hanya sekadar mimpi di siang hari bolong. Sulit bagi saya mempercayai bahwa orang sebaik almarhum begitu lekasnya pergi. Seperti kesaksian yang saya tuliskan di media sosial, almarhum merupakan salah satu manusia yang baik di mata saya. Baik dalam artian tidak pernah mengumpat dan tutur katanya halus. 
Tidak satu kalipun saya mendengar dia berkata kasar, padahal dia hidup di tengah teman-temannya yang tidak jarang mengeluarkan kata umpatan setidaknya ketika masih bersekolah. Saya tidak tahu bagaimana pergaulan almarhum ketika masuk masa kuliah. 
Ada satu hal yang saya renungkan setelah mendengar kabar duka tersebut. 

Saya jadi diingatkan kembali bahwa pada dasarnya manusia yang diberikan umur panjang sesungguhnya dianugerahi kesempatan lebih banyak untuk lekas bertaubat sebelum dihadiahi ganjaran di dimensi yang abadi kelak. Orang sebaik ML sepertinya memang akan berumur pendek. 
Dua grup SMA saya jadi ramai. Heran juga sebenarnya karena perlu kematian untuk membuat grupnya jadi ramai. Mungkin ikatan batin yang pernah terbangun dulu sudah luntur seiring bergeraknya setiap orang menyusuri jalan hidupnya masing-masing dan ketika ada jalan hidup yang terputus, semua orang sontak diingatkan tentang kefanaan hidup. Malam itu jenazah sepengetahuan saya dibawa ke Banyumas untuk dimakamkan di sana. Saya berharap almarhum diberikan tempat terbaik di sisi-Nya dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan menghadapi peristiwa ini.
Di kosan DGR dan ARA saya juga menyelesaikan serial Taboo yang dibintangi oleh Tom Hardy. Serial yang berawalan lambat ini ternyata cukup menarik juga untuk diikuti jalan ceritanya yang mengisahkan tentang seorang bekas pelaut yang sempat menghilang dan dianggap meninggal oleh semua orang di London. Ternyata dia berada di Afrika dan kembali ke London tepat di saat ayahnya meninggal dan mewariskan sepetak tanah di Nootka Sound yang nilainya secara politis dan ekonomis sebenarnya sangat tinggi. Tanah itu sebenarnya didapatkan oleh ayah James Keziah Delaney (Tom Hardy) setelah menikah dengan ibu dari James. Sepanjang delapan episode penonton diperlihatkan bagaimana East Indian Company berusaha untuk merebut Nootka Sound dari tangan James Delaney baik dengan cara bersih maupun kotor namun pada akhirnya gagal. Selain keberadaan EIC dari sisi perusahaan swasta, ada pihak lain yang juga berhasil dipermainkan Delaney yaitu pihak Kerajaan Inggris Raya dengan pangerannya yang tambun tidak kepalang, dan tentu saja Amerika Serikat yang saat itu sedang memulai kehidupannya sebagai sebuah negara dengan bermodalkan 15 negara bagian. Ada sisi mistis juga ketika diperlihatkan James seakan berkomunikasi dengan roh ibunya di masa lalu, ada kilasan-kilasan ketika James kecil sempat ditenggelamkan oleh ibu kandungnya yang kemudian menjadi dasar penahanan ibu James di kamarnya sebab diduga mengalami gangguan kejiwaan. Drama ini menarik sebab memiliki muatan sejarah yang saya sendiri tidak tahu seberapa akurat. Sayangnya tokoh Oona Chaplin yang berperan sebagai saudara tiri James Delaney hanya bertahan sampai satu season saja. Di saat James sedang ditahan oleh pihak kerajaan, Zilpha Geary (Oona Chaplin) melompat dari sebuah jembatan. Di akhir episode delapan, James bersama dengan rombongan yang compang camping memulai pelayarannya sebagai orang Amerika Serikat.
Esok paginya saya meninggalkan Bangbayang sekitar pukul 10.00 dan saya terlambat menyadari bahwa hari itu angkot tidak beroperasi karena sedang mengadakan aksi mogok sebagai bentuk protes menyikapi kehadiran transportasi daring yang mulai populer di masyarakat kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung. Saya berjalan kaki dari Bangbayang sampai pangkalan Damri di Dipati Ukur. Saat melewati salah satu kampus di jalan Dipati Ukur saya merasa agak nyaman dengan kelengangan yang tiba-tiba hadir. 
Di pangkalan Damri masih banyak armada tersedia dan saya langsung saja naik karena ingin secepatnya sampai di Jatinangor untuk mempersiapkan diri mengikuti kuliah sore harinya. Tak disangka-sangka bis yang saya naiki dicegat oleh salah satu angkot ketika melewati perempatan Kimia Farma. Semua penumpang diminta turun dan bis ‘diculik’ oleh angkot entah ke mana. Saya perhatikan raut wajah pak supir memang ketakutan dan dia tidak ingin melawan lebih lanjut. 

Yang saya heran adalah lambannya polisi bertindak bahkan sepertinya tidak melihat kejadian barusan. Padahal ada beberapa polisi di Dukomsel ketika kami semua sudah turun. Sebagian besar penumpang memilih menunggu ada bis lain yang lewat yang akan membawa ke Jatinangor namun setelah 30 menit berlalu tak satupun bis yang lewat. Pertolongan akhirnya datang lewat bis kepolisian yang memang sengaja dioperasikan untuk membantu masyarakat yang kesulitan akibat moda transportasinya sehari-hari tidak beroperasi. Awalnya bis tersebut hanya akan membawa penumpang ke jalan Asia Afrika namun karena jumlah orang yang ingin ke Jatinangor jauh lebih banyak, akhirnya si komandan yang berada di dalam bis memutuskan untuk sekalian saja mengarahkan bis ke Jatinangor. Saya lupa kapan si komandan turun dari bis karena mungkin ada keperluan lain tapi saya ingat ketika di perjalanan si polisi muda yang mengemudikan bis mengeluhkan panggilan dadakan yang dia terima kemarin sorenya serta kekhawatirannya karena dia sebenarnya belum terlalu hafal jalan di kota Bandung terlebih lagi jalan ke Jatinangor.
Aksi demo hari itu pada akhirnya menyisakan perdebatan di masyarakat tentang transportasi Bandung. Tentang bagaimana Bandung yang tiba-tiba lengang, tentang bagaimana angkot menjadi salah satu faktor di dalam silang sengkarut kemacetan jalanan Bandung, tentang apa yang akan terjadi seandainya angkot benar-benar dihapuskan, tentang desakan arus teknologi yang pelan tapi pasti mulai mengubah gaya hidup menjadi sedemikian praktisnya; tinggal tekan beberapa tombol dan menunggu beberapa menit datanglah kendaraan yang akan membawa ke tempat tujuan. Tapi tentu saja satu permasalahan tidak bisa dipandang sesempit itu, ada faktor sosial,ekonomi, dan bisa jadi politik bahkan mungkin budaya yang perlu dipertimbangkan dalam menyikapi sebuah isu yang jika dilihat seksama sudah hadir sejak belasan tahun lalu. 

Menghapus angkot begitu saja yang jelas bukan merupakan pilihan yang dapat diambil menurut saya. Saya tidak yakin jumlah penduduk Bandung yang melek internet dan paham bagaimana memesan ojek daring misalnya sudah melampaui jumlah penduduk yang belum melek internet dan masih mengandalkan transportasi konvensional sebagai alat mencari nafkah sehari-harinya. 

Kadang, saya sebagai manusia yang ingin enaknya saja memang masih terlalu egois dan lupa bahwa kehadiran teknologi tidak serta merta membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Ada proses panjang yang butuh waktu dan dalam perjalanan itu sendiri, sepatutnya semua orang dirangkul dan tidak pilih-pilih.

Itu
bagian pertama perjalanan saya ke Bandung yang diselingi oleh kuliah pada hari Kamis dan lima buah ujian pada hari Sabtu dan Minggu
Hari Sabtu saya sempat mengobrol selama kurang lebih tiga jam dengan GPP di salah satu rumah makan di dekat kosannya. Kami menikmati tahu dan minum teh panas sambil menunggu hujan yang mengguyur Jatinangor untuk berhenti. Kami saling menanyakan kabar sambil membicarakan beberapa undangan yang secara beruntun datang. Rasanya sangat puas setelah bisa mengobrol panjang seperti itu lagi. Ini bentuk interaksi sosial yang saya sudah lama ingin dapatkan. Ketika bertamu ke kontrakan RWW dan S maupun di kosan DGR dan ARA ataupun saat bertemu EIA dan LK saya belum merasa cukup. Jadilah dahaga itu dilampiaskan sabtu sore.
Minggu sorenya setelah ujian terakhir, saya langsung pergi kembali ke Bandung. Target saya sekarang adalah mempersiapkan reuni informal yang rencananya dilangsungkan bulan depan. 
Malam itu saya bersama dengan DGR, ARA, dan LDSP makan di salah satu rumah makan di Simpang Dago di sisi pasar. Kami berjalan kaki melewati jalan tikus yang tembus di Tubagus. Ketika melewati jalan Tubagus Ismail saya merasa banyak hal telah berubah dibanding pertama kali saya menginjakkan kaki di Bandung. Berbagai jenis penjual makanan penuh mengisi sisi kiri dan kanan jalan yang 10 tahun silam masih lebih sepi. Bahkan sekarang ada jasa binatu yang berdiri bersebelahan dan keduanya penuh dengan tumpukan pakaian yang belum diambil oleh pemakai jasanya, yang bagi saya berarti mahasiswa ITB semakin mampu untuk membayar jasa binatu atau mungkin waktunya sudah lebih difokuskan untuk kegiatan belajar. 
Kami makan sambil menyimak jalannya pertandigan final Piala Presiden antara Arema melawan klub yang saya tidak ingat namanya. Kaget juga melihat Christian Gonzales masih sanggup bermain bahkan mencetak gol ke gawang lawan. Pertandingan berakhir dengan skor 5-1 untuk keunggulan Arema. Sehari sebelumnya Persib meraih juara ketiga.
Setelah selesai makan, saya dengan DGR pulang lebih dulu ke kosan sedangkan ARA mengantar LDSP ke kosan. Hari itu sebenarnya ARA sedang sakit gigi. Ketika saya tiba di kosan mereka, saya mendapati ARA berbaring dengan sedikit lesu sambil asyik menatap layar gawainya dan memainkan sebuah permainan di sana.
Senin pagi dia tidak masuk kerja dan memilih untuk pergi memeriksa giginya ke dokter. Saya sendiri tadinya hendak bertemu dengan DH untuk memohon izin supaya boleh meminjam salah satu sudut prodi baru sebagai tempat reuni bulan depan. Tapi karena keteledoran saya sendiri, sepatu saya terkunci di kamar ARA dan terpaksa saya pergi ke kampus dengan memakai swallow yang berarti tidak mungkin saya menghadap DH. 
Apa boleh buat, saya tetap ke prodi tapi dengan tujuan lain yang sedianya memang ingin saya lakukan juga selain menghadap DH. Saya mengajak mengobrol beberapa orang adik kelas saya yang bisa saya temui hari itu di antaranya SF, MBS, MFAMM, ITA, TP,WCS dan AAY. Dari obrolan dengan mereka saya mengetahui bahwa pada pagi harinya ITA baru saja seminar sedangkan sore harinya giliran MFAMM untuk mempresentasikan tentang tesis yang dia kerjakan. SF rencananya seminar pada hari Kamis.  Saya juga mengetahui bahwa masih ada dua orang angkatan 2011 yang belum menyelesaikan studinya yaitu B dan AA. Sedangkan dari angkatan 2012 tersisa 6 orang yang jika lancar maka mereka bisa sapu bersih kelulusan pada bulan Oktober 2017. Sependek pengetahuan saya ini merupakan prestasi tersendiri seandainya benar-benar terwujud kelak sebab berdasarkan pengetahuan saya, selalu ada orang yang lulus paling terakhir dari setiap angkatan yang memaksimalkan masa hidupnya di perkuliahan. Kendala umum pada zaman dulu adalah hobi mengambil mata kuliah yang sama pada semester yang berbeda.
Kami menikmati siang itu bersama-sama karena salah satu pengampu mata kuliah sedang berhalangan hadir. Akhirnya kami mengobrol ngalor ngidul mulai dari e-KTP; pilihan untuk menggunakan paspor ketimbang repot mengurus KTP; dunia mistis; tanah yang semakin mahal; ruang di kota Bandung yang semakin semrawut;serial TV dan anime; serta tentu saja rencana masing-masing setelah menyelesaikan jenjang masternya. Satu hal menarik lainnya adalah meningkatnya jumlah lulusan sarjana astronomi yang mengambil jalur master astronomi dengan berbagai alasan tentunya.
Hal trivial yang menurut saya penting tidak penting lainnya adalah bahwa semua angkatan di bawah saya dan sudah lulus, setidaknya ada  satu orang yang melangsungkan pernikahan kecuali angkatan 20xx(disensor demi nama baik angkatan tersebut). 
Setelah salat Asar di lantai dua dan naik sebentar ke lantai enam saya melanjutkan perjalanan ke Taman Hewan untuk bertamu ke DN yang terakhir saya dan DGR kunjungi dua bulan silam. DN baru saja menyelesaikan makan siang(sore?) ketika saya mengetuk pintu kamarnya. Kondisi kesehatannya agak sedikit menurun, karena faktor kelelahan dan cuaca yang memang kurang mendukung. Minum obat baginya bukan pilihan yang bijak untuk diambil. Dia sedang membaca buku Thinking yang merupakan kumpulan tulisan dari beberapa penulis ternama di antaranya Nassim Taleb, Daniel Dennett, Daniel Kahnemann. Saya ingin meminjamnya tapi cuma akan menambah perasaan berdosa saja.
Saya tidak lama berada di kosan DN karena saya membawa kunci kosan DGR dan saya akan berjalan kaki ke Bangbayang dari Taman Hewan. 
Setibanya di kosan, ternyata ARA dan LSDP baru akan keluar mencari makan malam. Jadilah saya ikut mereka mencari makan di Simpang Dago dan pilihan akhirnya jatuh ke salah satu rumah makan di ujung jalan Tubagus yang menyediakan mi dan roti bakar sebagai hidangan utamanya. Saya memilih untuk makan roti bakar coklat kacang meskipun sempat tergoda juga untuk mencoba berbagai olahan mi yang ada di daftar menu.
Sambil makan, saya diceritakan tentang perjalanan mencari dokter gigi siang itu yang tidak semulus bayangan mereka berdua. Ketika mereka sampai di salah satu klinik, ternyata dokter gigi yang praktik di sana hanya bekerja sampai pukul 08.00. Akhrinya mereka pergi ke klinik lain dan didapati bahwa gigi ARA ada yang perlu dicabut. Entah bagaimana cerita selanjutnya karena Selasa pagi saya memutuskan untuk kembali ke Jatinangor.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s