Reoccupy III : Gagal Move On Part Sekian

Saya sudah lupa pada bulan berapa saya menyanggupi untuk kembali mengoordinir reunian alumni astronomi. Sebelumnya saya mengoordinir kegiatan yang sama pada tahun 2014. 

Saya menyanggupi pada tahun 2014 karena saya berhalangan hadir pada kegiatan pertama yang diadakan pada tahun 2012. Tahun 2012 saya sedang menjelajahi secuil Kalimantan Tengah. 

Terus terang motivasi saya adalah dendam. Saya kesal karena tidak berpartisipasi di tahun 2012. 

Tahun 2017 ini , pendorong saya adalah karena tidak ada yang menyanggupi untuk menjadi koordinator. Motif yang kurang baik saya pikir. Saya sudah rindu berkumpul dengan teman-teman tetapi jika terus menerus berdialektika menunggu siapa yang menyanggupi menjadi koordinator,saya merasa geregetan. 

Beberapa waktu berlalu dan ketidakbecusan saya perlahan terkuak. Saya lamban mengambil keputusan yang semestinya mudah saja diambil. 

Penentuan tanggal saja saya maju mundur berkali-kali. Sebelumnya saya mempertimbangkan akan mengadakan acara pada tanggal 15 atau 16 April. Namun saya undur pemilihan tanggalnya karena ada salah seorang alumni muda yang melangsungkan pernikahan pada tanggal 15 tersebut. Saya ingin sebisanya melibatkan setiap angkatan yang ada. Ketidakterlibatan salah satu angkatan,bagi saya pribadi adalah jelek.  Terlebih lagi mereka adalah orang-orang yang baru saja menjadi alumni. 

Sebut saja saya ingin alumni-alumni baru ini mengenal alumni-alumni lain yang lulus sebelum mereka. 

Saya lalu mengambil langkah baru dengan mengadakan pemungutan suara untuk menentukan hari baik selanjutnya . Dalam polling yang sempat diulang ini, suara terbanyak memilih diadakan pada 6 atau 7 Mei.

Belum ada suara bulat.

Saya tawarkan kepada tiga grup percakapan pada hari apa mereka lebih banyak bisa hadir. 

Di satu sisi saya selalu yakin bahwa usaha memuaskan atau menyenangkan hati semua orang akan berujung kepada ketidakpuasan dari semua pihak. Please all,please none.

Tapi ya memang saya cukup ndableg dan terlalu memaksakan semua orang bisa hadir. Lagi-lagi sedikit yang merespon. Tapi saya juga mengakui,pendekatan saya untuk mendapatkan tanggapan,lagi-lagi buruk. Reaksi minimum menjadi konsekuensi wajar dari usaha yang juga lemah. Pembelaan saya hanya satu: saya sedang menghadapi pergulatan batin terkait langkah hidup saya pribadi. Sebagian orang sudah saya ceritakan detilnya.

Saya pilih hari Minggu sebab ada yang melangsungkan pernikahan pada hari Sabtu. Alasannya praktis sama saja.

Pengumuman seadanya pun dibuat. Undangan digital seadanya juga dibuat. Bunyinya : Reoccupy hari Minggu.

Keputusan ini lalu dipertanyakan sebab hari Minggu sama artinya tidak mempertimbangkan alumni -alumni dari Jakarta yang berniat hadir. 

Setelah menimbang bahwa suara dari pihak yang menyetujui hari-H jatuh pada Sabtu lebih kuat dibandingkan Minggu,saya pun meralat informasinya.

Sampai di sini, pertanyaan lain muncul. Bagaimana konsumsi ditangani .

Saya, dengan berdasar kepada pengalaman bahwa kegiatan masak-memasak(bakar-bakar) menjadi salah satu cara untuk mencairkan suasana. Lagi-lagi secara sepihak tanpa meminta masukan dari alumni lain,saya putuskan untuk memilih bakar-bakar sebagai bagian kegiatan . Saya memilih sendirian untuk memikirkan semuanya karena sejujurnya tidak ingin merepotkan yang lain. Saya pikir kehadiran alumni-alumni pada hari-H sudah merupakan bantuan yang sangat besar. 

Sayangnya ini pilihan yang salah. Banyak alumni yang khawatir tentang konsumsi . Sebagian besar, lebih ingin datang,cerita,makan dan foto bersama. Tidak perlu repot-repot membakar sesuatu. 

Lagi-lagi saya dibantu meskipun saya melakukan kesalahan . Akhirnya dalam waktu singkat ,diputuskan untuk memesan nasi kotak. Saya dibantu oleh salah seorang alumni yang saya bahkan belum pernah berkenalan secara langsung untuk mencari tempat memesan nasi kotak.

Tadi siang, makanan datang dan saya sangat senang memesan dari katering tersebut. Anak dari pemilik usaha yang sedang memulai kembali usahanya ini tepat pada Sabtu ini pergi memulai hidup di pesantren di daerah Cikajang,Garut. Si bapak,senang karena mendapat tambahan uang saku untuk anaknya tersebut. 

Sekitar jam 12.30, kami memulai acara. Jam karet ,memang. Salah satu penyebab saya sempat menetapkan acara dimulai pada pukul 09.00.

Akhirnya dimulai juga Reoccupy edisi ketiga ini. Masih belum terlalu banyak yang hadir . Agak berat juga dalam hati tapi tidak bijak juga menunda terlalu lama menunggu yang lain datang.

Kami memulainya dengan perkenalan dari masing-masing peserta acara. Standar saja. Sambil menikmati makanan yang sudah dipesan. Ada wafer juga, yang datangnya dari salah satu negara di Eropa.

Sedang asyik menikmati makanan sambil ada sedikit tanya jawab antara alumni dengan mahasiswa , hujan turun. Kami lalu pindah ke dalam sekre untuk melanjutkan makan dan berdiskusi .

Setelah melihat hadirin kebanyakan sudah mengosongkan kotaknya,saya melanjutkan dengan sesi berbagi tentang beasiswa yang digagas oleh beberapa orang alumni salah satu angkatan. 

Saya sekali lagi bersyukur bahwa perwakilan dari pengelola beasiswa ini berkenan hadir untuk berbagi tentang program yang mereka telah jalankan selama kurang lebih tujuh bulan.

Pengurus beasiswa ini mengaku masih berjalan dengan sangat seadanya akan tetapi mendapatkan apresiasi yang baik dari alumni lain. Ini terlihat dari beberapa pertanyaan dan masukan yang dilontarkan saat diskusi. 

Beasiswanya sendiri cukup menarik karena mereka memberikan dukungan finansial terhadap adik-adik mahasiswa yang kurang mampu dan tanpa memberikan persyaratan yang terlalu selektif. Dari salah satu cerita yang disampaikan , terdapat kasus di mana seorang mahasiswa tidak dapat mengajukan beasiswa ke jalur yang konvensional karena tidak memiliki KTP dan KK. Kondisi yang pelik saya pikir, tapi tidak mustahil terjadi. 

Sejauh ini,dari usianya yang memasuki bulan ketujuh, beasiswa ini telah berhasil menyokong tiga orang mahasiswa selama satu semester dengan menyalurkan dana dari 21 orang donatur. 

Keberhasilan ini mendapatkan pujian dari alumni lain karena selama ini niat memberikan beasiswa sebenarnya telah lama ingin diwujudkan namun belum berhasil menjadi sebuah gerakan yang terstruktur dengan rapi. 

Diskusi selanjutnya saya lemparkan kepada ketua himpunan yang sekarang menjabat. Sejujurnya saya lupa seperti apa permulaannya akan tetapi saya mulai menyimak dengan lebih baik ketika pembicaraan menjurus kepada sopan santun dalam berkorespondensi. Tata cara penyusunan kata-kata yang tepat untuk dapat menghasilkan efek yang diinginkan adalah sangat perlu meskipun bagi sebagian orang ini merupakan hal remeh.

Pembicaraan saya potong karena di luar cuaca kembali cerah dan yang hadir sudah lebih banyak. Kembali lagi kami berkenalan satu dengan yang lainnya.

Setelah itu yang saya ingat, ketua himpunan bertanya tentang fenomena di mana lulusan astronomi banyak yang memilih berkarir di jalur yang sama sekali berbeda dengan jurusan yang telah diambil. Dalam salah satu survei yang pernah dibaca si ketua himpunan , astronomi menempati peringkat terendah dalam hal linearitas jurusan dengan pekerjaan . 

Alumni yang mengaku paling muda memberikan kisahnya yang sempat berprofesi sebagai penerjemah di salah satu penerbit. Sekarang ,ketika sudah tidak lagi bergabung dengan penerbit tersebut, tawaran menerjemahkan buku-buku bertema sains fiksi, time travel , dan tema-tema lain yang sejenis masih sering menghampiri karena dia dikenal sebagai lulusan astronomi . Walaupun terkadang bertanya lagi kepada alumni lain tentang keakuratan pemahaman astronomi yang dia miliki.

Detil wejangan dari alumni lain saya terus terang sudah lupa. Beberapa poin yang saya ingat di antaranya adalah pentingnya memiliki keterampilan sebab ia adalah sesuatu yang melekat pada diri kita . Tidak mempunyai uang tidak menjadi masalah selama keterampilan ini masih bisa dijadikan alat untuk bertahan hidup alias menyintas.

Beasiswa yang sebelumnya disampaikan diulang kembali penyampaiannya sebab masih cukup banyak yang belum mendapatkan kesempatan untuk menyimak penjelasan.

Tidak banyak pertanyaan maupun tanggapan karena memang sifatnya hanya mengulang.

Di sesi ini, saya heran melihat dua bocah yang terus menerus berlari ke sana kemari , duduk sedetik di kursi yang pura-puranya menjadi odong-odong kemudian berlari lagi. Lelah juga melihatnya.

Setelah saya lihat tidak banyak pembicaraan yang berlangsung kondusif, tibalah sesi foto bersama .

Saya segera masuk ke dalam sekre untuk mengambil kaos yang baru. Ini pembelian baju pertama saya di tahun 2017. Harus bangga tentunya mengenakan kaos baru.

Pada akhirnya,saya merasa bahwa sekali acara kemarin (sudah jam 12.07) berjalan dengan baik walaupun ada kekurangan di sana sini yang lebih karena kesalahan saya pribadi . Tapi mengingat sesuatu juga terkadang menjadi pilihan. Jika saya mengingat siapa saja yang tidak datang dengan alasan apapun itu ,saya seperti menghina orang-orang yang datang. Jadi saya memilih menikmati momen tertawa bersama orang lama dan baru.

Sekali lagi saya ucapkan​ terima kasih atas semua partisipasinya baik dari yang bisa hadir hari ini maupun tidak . Tanpa kalian semua, acaranya tidak akan memiliki arti .

Dan ini foto favorit saya: 

Sampai berjumpa lagi di Reoccupy edisi selanjutnya .

PS: Jika ada yang berminat menjadi koordinator Reoccupy selanjutnya, jangan semengenggemaskan saya.😅

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s