Be eR I

Pagi tadi saya separuh berjalan kaki menyusuri kota Bandung dengan tujuan kantor sebuah bank di dekat alun-alun kota. Saya hendak mengganti password saya yang minggu lalu terblokir setelah tiga kali salah memasukkan password. 

Saat di Jakarta saya sudah mencoba mereset password saya namun ternyata harus di kantor cabang karena alamat pada kartu penduduk berbeda dengan kecamatan tempat pembuatan rekening . 

Saya akhirnya mengunjungi kantor cabang yang terletak di jalan Dewi Sartika. Ketika masuk,satpam yang menyambut saya setengah ragu apakah saya bisa mengganti password saya atau tidak. ” Mudah-mudahan bisa ya pak”,kata dia sambil menekan tombol pengambil nomor antrian.

Saya mendapat nomor antrian 11. Hanya ada dua meja costumer service yang sedang bekerja melayani nasabah. Setelah menunggu sambil membaca buku Semua Ikan di Langit, akhirnya nomor antrian saya dipanggil juga. Tidak butuh waktu lama ternyata. Setelah menanyakan nama ibu kandung dan tanggal lahir sebagai pengidentifikasi bahwa saya bukanlah seorang penipu, saya disodori lembar isian sebagai bukti permohonan penggantian password. Di halaman belakang ,saya juga dimintai tandatangan yang harus diulang karena bentuknya agak berbeda dengan yang tertera pada kartu penduduk .

Saya juga sempat mempertimbangkan untuk sekalian saja menyudahi menjadi nasabah bank tersebut karena ketidakefisisenan sistem yang mereka pergunakan. Jika kehilangan kartu atm misalnya,harus mendatangi tempat di mana kartu tersebut dibuat. 

Setelah saya pikir-pikir lagi, sepertinya bank tersebut memang tidak mendesain sistem mereka untuk orang yang bepergian dan menetap di tempat lain untuk waktu yang relatif panjang. Kelebihan mereka adalah daya jangkaunya yang sampai ke desa-desa. Penduduk desa, cenderung tidak berpindah dari tempat mereka dilahirkan . Lahir dan meninggal di tempat yang sama.

Saya juga senang menjadi nasabah bank ini karena nasabahnya kadang datang dengan celana pendek dan sendal jepit. Saat saya di Depok, banyak nasabah yang setelannya seperti itu. Membuat saya nyaman. 

Ketika menunggu kartu saya diproses, ingatan saya tadi melayang ke masa lalu ketika saya diceritakan tentang petani kopi dan cokelat di salah satu kabupaten di Lampung . Petani-petani kebanyakan tidak mau mengambil pinjaman dari bank untuk memodali lahan mereka karena khawatir terbelit utang. Itu tahun 2013 dan 2014.  Saya tidak tahu bagaimana kondisi sekarang dengan nilai bunga kredit yang dipatok 9% oleh pemerintah pusat. Apakah itu mengubah cara berpikir para petani di sana atau tidak? Bagaimana dengan di propinsi yang lain? Bagaimana dengan kehadiran startup-startup fintech yang banyak menyasar petani dan KUKM untuk menawarkan mikrokredit?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s