Luffy – Naruto

Pagi ini saya mendapat berita mengejutkan. Salah seorang senior saya  terkena komplikasi penyakit.

Berita ini mengejutkan karena terasa begitu tiba-tiba. Sekitar dua minggu silam saya masih mendapat kabar bahwa senior saya ini pulang ke kosannya di Bandung karena kunci kamar kosannya di Jakarta tertinggal di dalam kamar yang di Bandung.

Saya sempat mencoba menghubungi dia untuk menanyakan kabar kamar kosannya sebab saya sedang mencari kosan ketika itu. Siapa tahu saya boleh meminjam selama dia bekerja di Jakarta. Surel saya kirimkan dua kali. Tapi tidak ada balasan. Saya juga sudah mencoba menelepon dan mengirimkan pesan singkat tapi hasilnya sama: nihil. Nomor telepon dia sedang tidak aktif ketika saya coba menghubungi.

Ketika itu saya pikir mungkin memang untuk membantu memfokuskan dirinya saat bekerja, sebisa mungkin interaksi yang lain dibatasi.

Saya pun tidak banyak mencoba mencari tahu lagi karena saya pikir semuanya baik-baik saja.

No news is good news 

Ternyata saya salah. Salah besar. Semuanya tidak baik-baik saja. Ternyata senior saya ini menyimpan penyakit. Saya seharusnya menyadarinya ketika sempat bertamu ke kosan dia. Tapi saya tidak awas.

Batuk-batuk. Saya pikir batuk biasa. Tapi itu berlangsung selama berbulan-bulan. Setidaknya, dari keterangan bapak kosan dia, batuknya sudah ada lebih dari 2 bulan berjalan.

Senior saya ini memang sangat tertutup. Jika tidak ditanya berulang kali, dia tidak akan bercerita. Itu pun jika pertahanannya luluh juga. Harus pandai-pandai memilih kata yang tepat sehingga perasaannya yang sangat halus tidak tersakiti. Saya paling hanya berani bertanya soal politik ibukota dan sesekali soal sepakbola.

Anehnya, dia selalu berusaha mencari tahu kabar semua orang di lingkaran kami. Setidaknya itu yang saya ketahui. Kenangan pertama saya bertemu dengannya di sekretariat lantai 4 adalah terkejut karena tiba-tiba ada seorang pria berambut panjang yang bagusnya seperti bintang iklan shampo menyapa saya. “Kang Nawir, apa kabar?”

Dalam hati saya curiga juga, ini malam hari. Kok ada orang tahu nama saya padahal saya belum pernah bertemu sebelumnya. Tapi karena tabiat dia yang sangat sopan dan baik, saya tidak curiga terlalu lama. Selanjutnya dia ikut menginap bersama kami di sekre selama beberapa hari.

Dari menginap bersama ini saya mengetahui bahwa dia sedang pulang sementara ke tanah air di sela-sela pengerjaan disertasinya.

Belakangan saya mengetahui bahwa dia baik ke semua orang. Setiap orang akan dia tinggikan dengan panggilan tertentu. Anak kecil sekalipun dia panggil dengan awalan ‘kang’ , begitu menurut penuturan bapak kosannya. Canggung juga sih tapi karena semua orang mendapat perlakuan serupa, saya jadi biasa-biasa saja.

Sebutan yang saya ingat salah satunya adalah “Mr Nice Guy”. Ini karena dia sangat baik ke semua orang tanpa pandang bulu. Saya pernah diongkosi ke Ciwidey untuk mengikuti acara pelantikan adik-adik organisasi kami. Malamnya kami sama-sama kedinginan. Mr Nice Guy memilih untuk membeli minuman dingin alih-alih membeli kopi panas misalnya. Alasannya adalah karena sensasi panas dan dingin itu muncul akibat perbedaan temperatur antara lingkungan dengan sistem. Sehingga untuk menghilangkan sensasi dingin tersebut, diturunkanlah suhu sistem di dalam tubuh. Saya cuma bisa tersenyum sedikit sambil berkata “Gitu ya ,mas?” Otak saya tidak sampai ke sana.

Kami pun berpisah jalan. Saya ke Jatinangor. Saya tidak lagi terlalu mengikuti kabar dia. Sering sih saya penasaran setelah mengobrol di salah satu sosial media. Tapi saya tidak bisa sering-sering berkunjung ke kota sebelah.

Waktu berjalan. Saya sesekali menanyakan kabar Mr Nice Guy kepada junior yang masih berada di Bandung. Kabar yang muncul malah simpang siur. Akurasinya rendah dan membuat saya malas bertanya lagi. Satu informasi yang saya pegang adalah lokasi kosannya sekarang.

Saya baru berkunjung lagi setelah tahun 2017 dimulai. Saya berkunjung bersama salah seorang adik kelas yang sekampung dengan Mr Nice Guy. Ketika itu Mr Nice Guy sedang batuk-batuk.

Saya kembali berkunjung untuk mengajak Mr Nice Guy mendatangi Reoccupy. Dia memang sangat sulit untuk berkumpul dengan yang lain. Saya ingin Mr Nice Guy bisa datang karena dua kesempatan sebelumnya tidak datang.

Pertemuan terakhir adalah ketika salah dua senior saya menikah. Di sana, saya lihat semua orang begitu senang menyapa Mr Nice Guy. Dia juga tampil berbeda. Rambutnya dipotong habis. Saya tahu karena sebelumnya saya menyampaikan undangan acara pernikahan tersebut. Setiap ada senior atau junior yang menikah juga saya berusaha sampaikan kepadanya. Saya pikir ini usaha saya untuk mempertahankan ikatan antara kami. Setidaknya jika saya mengetahui bahwa si ini sudah menikah misalnya, ingatan saya menjadi terbaharui.

Untuk Mr Nice Guy, dengan ketertutupannya serta semakin terbatasnya akses informasi, saya tidak ingin dia merasa sendirian terus menerus. Setidaknya saya ingin dia tahu bahwa semua orang ingin mengetahui kabar tentangnya. Saya sering mengawali percakapan dengan, ” Mas, dicariin tuh di media sosial. Pada kangen”

Sampai akhirnya tadi pagi ketika berita pecah. Awalnya saya ragu-ragu sekali. Ini kok tahu-tahu ada kabar seperti ini?

Hati saya sudah mulai tidak karuan. Untuk menghapus kecurigaan saya mencoba menghubungi kawan-kawan yang berdomisili di sekitar rumah sakit tempat Mr Nice Guy dirawat. Zaman serba hoax seperti sekarang membuat naluri pertama saya adalah untuk mencari konfirmasi seakurat mungkin.

Tidak lama, keraguan sirna setelah konfirmasi datang dari beberapa orang senior saya yang membuka informasi lain. Mr Nice Guy sebenarnya sudah dijenguk oleh beberapa senior minggu lalu namun belum diberitakan kepada yang lain karena penyakit yang belum jelas.

Siang tadi saya pergi ke kosan Mr Nice Guy untuk menanyakan kabar dia dari bapak kosannya. Apakah memang pernah ada gejala sakit seperti yang sekarang dialami oleh Mr Nice Guy. Ada beberapa informasi yang tidak akan saya sebutkan di sini. Pada intinya, dia masih seperti yang dulu pertama kali menginjak Bandung 17 tahun silam. Tidak ingin merepotkan orang lain dan sangat baik hati.

Sebelumnya saya sempat menelepon sepupu Mr Nice Guy untuk menanyakan kondisi terkini. Setelah menelepon sekitar dua menit, hati saya tidak kuat untuk menahan supaya air mata tidak keluar. Hati saya kuatkan untuk melanjutkan perjalanan ke musola di dekat kosan Mr Nice Guy.

Setelahnya saya makan di warung yang juga menjadi tempat Mr Nice Guy biasa mengisi perut sambil mengorek-ngorek informasi dari bapak kosannya. Ternyata, Mr Nice Guy terkadang mengecek tekanan darah di salah satu apotek yang ada di dekat perempatan yang lampu lalu lintasnya asimetris lama waktu nyalanya.

Jika melihat reaksi semua orang yang saya kenal, semuanya kaget kenapa ini begitu tiba-tiba. Sedih tentu saja hadir. Bayangkan kita mendapatkan kabar duka dari seseorang yang lama kita tidak dengar kabarnya.

Tadi setelah makan di warung, saya melanjutkan mampir ke kosan salah seorang kawan untuk mengecek kondisinya. Setelah mengobrol sekitar 10 menit, saya melanjutkan ke himpunan untuk mengabari teman-teman pengurus. Lalu saya melangkah ke lantai enam untuk mengobrol dengan salah seorang kawan yang juga sangat menyesal bahwa ini semua harus terjadi.

Penyesalan yang muncul karena lalai menjadi teman. Saya memang tidak pernah berjanji akan selalu berada di samping Mr Nice Guy tapi kok  tetap saja saya merasa tidak cukup memberikan perhatian kepadanya. Ketika mengobrol di lantai 7, kami bertanya-tanya kenapa harus Mr Nice Guy(orang baik) yang mengalami musibah seperti ini? Kenapa orang sebaik dia mengalami ini? Saya tidak punya jawaban. Hanya bisa meringis.

Kawan saya ini menyimpan rasa bersalah kepada Mr Nice Guy. Dia ingin meminta maaf karena sempat menyimpan prasangka kepadanya. Dari raut wajahnya penyesalan begitu kuat terlihat.

Yang juga membuat sedih adalah kemungkinan Mr Nice Guy kehilangan ingatan. Saya sulit membayangkan ini. Seperti membunuh orang lain tanpa menusukkan belati.

Mas, tadi sore saya pulang jalan kaki dari kampus melewati jalan Siliwangi karena malas naik angkot dan saya pikir akan bisa memotret senja seperti yang pernah mas kirimkan foto-fotonya di media sosial. Tapi mas, di Bandung semakin banyak gedung tinggi jadi saya kesulitan menangkap senja yang indahnya pernah dituliskan oleh Seno Gumira. Akhirnya malah saya nangis lagi, mas. Saya mau marah, mas. Marah sama diri sendiri. Saking marahnya malah jadi keluar air mata.

Mas, saya mohon maaf belum bisa jadi teman yang baik. Tidak selalu bisa membantu mas. Tapi mas, kadang mas juga yang menolak bantuan. Saya jadi terkadang bingung harus berbuat apa jika yang mau dibantu malah menolak bantuan. Kalau dengan dibantu malah membebani mas, kok saya juga tidak ingin melakukannya yah?

Mas, awal bulan Juni nanti Juventus akan menghadapi Real Madrid di Cardiff. Saya cuma bisa berdoa supaya mas segera sembuh dan bisa beraktivitas lagi seperti sedia kala. Saya dukung Juventus loh mas. Payah sih alasannya: ogah liat Real Madrid bertahta kembali. Ntar Bayern Muenchen makin ketinggalan dari Real Madrid.

Mas, ntar kalo udah sembuh, ngejunk lagi yah mas. Di P aja. Seperti biasa ngecein satu sama lain. Kami kangen mas. Sekarang Luffy sudah mau mengalahkan salah satu Yonkou. Naruto malah dilanjutin lagi ceritanya mas oleh Boruto. Tapi saya gak ngikutin Boruto mas. Ga tertarik aja.

Cepet sembuh yah mas. Kita bikin ingatan-ingatan baru bareng-bareng.

10306010

Advertisements

3 thoughts on “Luffy – Naruto

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s