Menyikapi Keyakinan Orang Lain : Berkata Baik atau Diam

Di kepala saya, orang yang yakin bahwa prinsip tersebut adalah sesuatu yang mudah dia adalah orang yang sok tahu sehingga pandangannya keliru atau dia seorang yang ilmunya sudah sangat meresap ke dalam perilaku sehari-hari sehingga dia melakukannya semudah menarik napas.

 

Semua hal di dunia ini berakar dari keyakinan. Pemeluk ateisme juga meyakini satu hal : Tuhan tidak ada. Kita bangun di pagi hari untuk bekerja karena keyakinan bahwa ada yang perlu dihidupi di rumah. Kita tidur di malam hari dengan keyakinan besok akan ada hari baru.

 

Yang kemudian menjadi sulit adalah saat dua pandangan berbeda keyakinan bertemu dalam satu gelanggang. Keyakinan yang kita pegang sudah barang tentu akan kita bela sebab apa artinya jika keyakinan tersebut tidak mampu sekadar kita pertahankan walaupun itu berarti menjadi pendekar keyboard.

 

Keyakinan menjadi sesuatu yang melekat pada diri kita dan jika dia diserang kita pun meradang. Rasa puas bukan hanya muncul jika si pemeluk keyakinan yang berseberangan kehabisan langkah, tapi keyakinannya goyah dan lantas menjadi saudara satu keyakinan kita.

 

Belakangan ini saya merasa lelah dengan lini masa media sosial saya. Isinya perkelahian tidak langsung antara pendukung pemakaian vaksin dengan pendukung pengabaian vaksin. Ada juga yang lebih memilih menyikapi tentang seorang aktris yang dikabarkan dekat dengan seorang artis. Inginnya saya berkata untuk apa dipikirkan dengan siapa R atau C dekat dan lantas menikah, tapi toh itu bagian dari paket yang mereka pilih saat memutuskan menjadi tontonan masyarakat. Cara orang-orang mengungkapkan ketidaksetujuan (saya lebih suka menyebutnya sebagai keikutcampuran dipadu kekecewaan) unik-unik. Mungkin maksudnya melucu karena di awal saya juga tersenyum saat membacanya namun perlahan saya merasa tidak ada gunanya.

 

Terakhir yang ramai adalah tentang klaim terhadap seorang makhluk yang telah mati sebagai pemeluk agama tertentu. Saya juga bagian dari pemeluk agama tersebut tapi saya merasa klaim tersebut jadi menunjukkan rasa tidak aman sekaligus tidak percaya diri para pengklaim.

 

Apakah keimanan orang-orang ini akan bertambah jika misalnya tiba-tiba konglomerat sekaligus presiden di seberang lautan sana menjadi pemeluk agama yang sama? Atau justru berkurang ketika presiden negara dengan pulau terbanyak di dunia memutuskan pindah agama?


Jawabannya saya pikir tidak. Karena dengan demikian keyakinannya begitu rapuh. Perlu disokong oleh orang lain yang mungkin seumur hidup pun tidak akan pernah berjabat tangan.

 

Kembali ke tokoh masa lalu yang konon wajahnya mirip salah seorang pahlawan negara kepulauan terbesar di dunia.

 

Saya heran juga. Kenapa di saat sekarang berita tentang si tokoh adalah beragama tertentu dinaikkan sekarang. Buku yang menuliskan pemikiran tersebut sudah terbit beberapa tahun silam. Entah keuntungan apa yang si  “penyundul” ini dapatkan dari sundulannya tersebut. Saya yakin semua orang punya motif dalam berbuat sesuatu. Insentifnya apa, saya cuma bisa menduga-duga.

 

Satu hari. Dua hari. Kritikannya masih cukup terhormat. Memandang sebuah pemikiran berbeda sebagai sebuah pengaya wawasan. Sederhananya mungkin seperti ini: “Oh ternyata di kampung sebelah ada orang yang makan tidak pakai sendok. Kapan-kapan saya mau coba juga ah. Mungkin menyenangkan”

 

Lambat laun kritikan jadi cemooh. Saya sulit melihat niat baik dari ujaran-ujaran yang menyerang pihak sebelah. Di satu sisi mungkin memang menyenangkan saat kita bercanda tentang sebuah keyakinan kelompok lain. Tapi itu tidak perlu disebarluaskan di dunia maya karena di dunia maya, moralitas punya mayoritas.

 

Apa yang tersisa dari ejekan dan cemoohan jika bukan sakit hati? Apa lagi di depan umum. Tidak semua orang, bahkan sepertinya kebanyakan orang (saya tidak pernah menyurvei, hanya menerka-nerka) bukan bagian yang sanggup membedakan antara sarkas,nyinyir dan satir. Silakan tanya diri anda sendiri apa bedanya sarkas dengan satir dalam kata-kata anda sendiri dan jangan mencarinya dengan mesin pencari. Bisa?

Saya tidak melarang saling ejek dalam rangka bercanda untuk kalangan terbatas. Karena kalau kita ingin serius terus menerus bukan hal yang baik juga. Kompartementalisasi pergaulan, percakapan sepertinya perlu ditelaah lagi.

 

Contoh paling mudah adalah penggunaan kata “anjing” di kalangan masyarakat tertentu. Awalnya saya pikir ini sesuatu yang sifatnya kurang ajar karena seakan merendahkan. Tapi belakangan pemahaman saya berbeda. Justru penggunaan kata tersebut menunjukkan kedekatan antara para penggunanya. Sulit dimengerti jika orangnya tidak mengerti terlebih dahulu.

 

Di dunia maya, informasi menyebar laksana bulu dari bantal yang beterbangan ditiup angin. Sekali dilepaskan, kita tidak pernah bisa mengumpulkan semuanya kembali. Akan ada yang terlewat.

 

Jika karena ini saya dianggap terlalu serius, saya tidak peduli. Saya cuma tidak ingin menambah daftar orang-orang yang saya perlu minta keikhlasannya dalam memaafkan kesalahan saya. Mencegah lebih baik daripada mengobati.

 

Anggaplah ini perenungan saya karena saya pernah tersinggung dengan ucapan seseorang yang menyerang apa yang saya yakini. Tentunya dia tidak bermaksud demikian, tapi kalimatnya memang terasa mengganggu. Waktu itu saya tidak meladeninya karena saya anggap tidak ada gunanya memberi penjelasan. Sekarang pun saya masih meyakini hal yang sama.

Selamat mencoba berkata baik. Bulan Ramadhan diyakini banyak orang sebagai bulan berlatih untuk membiasakan diri dengan kebaikan di sebelas bulan lainnya. Semoga sisa waktu yang ada bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s