Saya dan Macet

Kemarin, saya dengan langkah gontai berjalan kaki dari Cileunyi ke Ikopin.

Para penumpang bis yang saya naiki mau tidak mau turun karena supir tidak ingin menempuh perjalanan sampai ujung alias di pangkalan Jatinangor sebagaimana biasa.

Bis akan memutar di Dangdeur sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke arah Bandung.

Dalam hati saya sudah menyabarkan diri untuk tidak mengumpat karena dipaksa turun seperti ini.

Saya belum sepenuhnya paham apa pasalnya bis menolak berjalan mengikuti rute biasa dan berani menurunkan penumpang .

Kalau hari itu mogok angkutan umum karena menolak kehadiran angkutan daring,saya bisa maklum.

‘Perkelahian’ berebut lahan mata pencaharian yang berimbas pada merugikan konsumen yang terkadang tidak mau tahu dengan kesulitan yang membelit para penyedia jasa misalnya angkutan adalah sesuatu yang bisa saya terima.

Saya juga tentunya bakal siap menanggung resiko dari mogok angkutan yang berarti saya harus mencari alternatif cara bepergian.

Dan biasanya mogok seperti ini diberitahukan beberapa hari sebelumnya. Setidaknya dalam bentuk kasak kusuk yang meresahkan di media sosial.

Makanya saat kemarin mendengar nama presiden disebut oleh supir sebagai penyebab membaranya indikator lalu lintas di peta elektronik , saya langsung bertanya dalam hati ada agenda apa sampai aktivitas diganggu kembali oleh presiden dan rombongannya.

Tadinya saya pikir antrian bakal mengular dari dalam tol hingga ke jalan yang menghubungkan Sumedang dengan Garut. Kondisi ini biasa terjadi jika kampus calon perpanjangan tangan negara mengadakan penerimaan anggota baru maupun melepaskan anggota lama.

Tapi kenyataannya kosong. Saking kosongnya tidak ada satu pun kendaraan yang melintas di ruas yang sehari-hari padat ini. Penjual makanan dan minuman yang juga biasa memadati pinggir jalan perempatan Cileunyi juga banyak yang tidak terlihat sebagaimana biasa.

Ada beberapa truk yang sedang dimandikan oleh supir dan kernet yang membawanya. Sungguh ganjil.

Lalu kenapa kami harus berjalan kaki?

Jawabannya baru terlihat saat saya sampai di pertigaan Jatinangor tempat mobil elf biasa menunggu penumpang . Di ruas yang mengarah ke Bandung, antrian panjang kendaraan berbaris entah sampai mana.

Salah seorang bapak yang mendatangi polisi bertanya kenapa tidak ada angkot pada petugas.

Jawabannya ,menyulut emosi saya.

Seraya merentangkan tangannya ,petugas bilang angkot tetap ada. Padahal itu menunjuk jalanan yang kosong melompong dan hanya dilewati oleh orang yang berjalan kaki.

Saya sungguh kesal. Apa petugas tersebut buta?

Sambil bersumpah serapah dalam hati, saya mencoba melihat apa yang berlangsung di seberang sana.

Adegannya mengingatkan pada saat saya SMP ketika Jakarta dilanda banjir hebat yang melumpuhkan sebagian Jakarta Barat dan memutus transportasi .

Orang-orang keluar dari mobil yang mesinnya sudah dimatikan. Ada yang cuma bisa termenung karena tidak ada yang tahu kapan antrian bakal bergerak maju kembali.

Saya bertanya kepada kasir di salah satu minimarket, sudah berapa lama orang mengantri. Jawabnya sudah sejak jam dua siang. Kaget juga karena saat saya bertanya waktu sudah menunjukkan pukul lima lebih.

Yang mengagetkan saya adalah karena di antara beberapa mobil yang pintunya dibuka dan mesin mati itu ada juga bis antar kota, beberapa truk, dan bis Damri yang terjebak di dalam antrian.

Saya jadi tambah kesal. Presiden bagi saya adalah pelayan rakyatnya. Jika terjadi perbenturan kepentingan antara urusan masyarakat dengan urusan rombongan presiden maka bagi saya selayaknya presiden mengalah. Apalagi presiden hanya menonton pertandingan sepakbola dan meresmikan kejuaraan yang sifatnya bisa dibilang hiburan dan formalitas belaka. Tak sepatutnya itu mengalahkan kepentingan ratusan orang yang perjalanannya jadi terhambat.

Saya juga punya momok tersendiri dengan yang namanya kemacetan. Segala bentuk antrian kendaraan buat saya adalah sesuatu yang di luar batas pemahaman saya.

Itu penyebab saya tidak suka Jakarta. Adegan seram mengantri berjam-jam di dalam mobil bukan yang ingin saya rasakan.

Itu juga makanya saya akan selalu heran dengan orang yang nekat keluar rumah di Bandung pada saat akhir pekan. Saya beberapa kali mengalami macet akhir pekan yang kemudian membuat saya ogah untuk bepergian . Mungkin pandangan ini akan bergeser kalau saya punya alasan kuat membelah Bandung, tapi untuk saat ini semua alasan bakal saya tolak mentah-mentah.

Saya juga benci macetnya Makassar yang sepertinya tidak berhasil disembuhkan oleh walikota sekarang menjabat. Saat mudik beberapa kali ke Sulawesi , saya selalu sedih saat harus menghadapi kenyataan di Makassar kemacetan juga merajalela .

Penyebabnya tak jauh berbeda dengan kota lain yang angkotnya tidak proporsional dengan jumlah penumpang yang ada sehingga senang berhenti di sembarang tempat untuk menunggu penumpang. Makassar juga melimpah dengan mahasiswa yang terkadang seperti tidak melihat bahwa perbuatannya membakar ban, menutup jalan dan berdemonstrasi menuntut haknya bisa mencederai hak masyarakat sekitar. Saya cuma berharap warga di sana lebih diberikan kesabaran sedangkan mahasiswa di sana diberikan lebih banyak lagi ruang berekspresi supaya energi berlebih yang tersimpan bisa disalurkan ke aksi yang lebih konstruktif secara berkala.

Dari uraian barusan, sedikit banyak menggambarkan kenapa saya benci macet dan melihat presiden jadi penyebab seperti hari Selasa kemarin, membuat saya meledak.

Saya tidak paham dan tidak terima apabila presiden yang sekarang menjabat, kelak menjual dirinya dengan kata ‘merakyat, sebab episode yang kemarin berlangsung sama sekali tidak mencerminkan sifat tersebut.

Kalau presiden benar-benar merakyat,maka kepentingan masyarakat tidaklah dinomorduakan. Dan bukankah presiden punya hak prerogatif untuk menolak prosedur protokoler kalau itu dianggap sebagai sesuatu yang memang tepat? Saya yang jelas tidak menangkap ada kesesuaian antara kata ‘merakyat’ dengan macet yang terjadi kemarin.

Apabila di akhir kemudian muncul tagar yang menegaskan presiden sekarang tidak layak lagi,itulah luapan emosi yang sebenarnya saya tidak sukai.

Seandainya kelak presiden sekarang mencalonkan diri kembali dan membawa cap ‘merakyat’ kembali maka saya sulit memahami jika pendukungnya menerima begitu saja.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s