Kesempatan dan Kepentingan

Fokus ada pada stang

Hari ini jadi kesempatan keempat saya mencoba mengukur elastisitas tanah pada kedalaman tertentu. Kesempatan pertama berlalu sudah cukup lama dan baru minggu lalu kesempatan kedua itu muncul dan langsung diberi guyuran air hujan yang bukan main derasnya. Kesempatan ketiga sehari setelahnya dan hari ini yang keempat.

Terus terang kadang saya merasa tidak ada gunanya untuk ikut turun ke lapangan karena banyak kikuk dalam menggunakan kunci untuk mengencangkan baut-baut yang ada pada alat ukur.

Kesempatan saya bersinggungan dengan kunci 14, kunci inggris, kakak tua, dan beberapa alat lainnya yang saya masih belum hafal namanya, tidak jauh berbeda dengan jumlah kesempatan saya mengikuti pengukuran elast.

Tapi jika saya bertahan pada pemikiran ‘memberatkan’ rekan satu tim, maka selamanya saya tidak bisa memperjuangkan kehidupan saya ke arah yang lebih baik.
Kesempatan mempelajari hal baru bukan sesuatu yang datang setiap saat dan pekerjaan melakukan pengukuran di tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi selama ini selalu membuat hati saya sumringah.
Pertemuan dengan orang baru, melihat cara hidup penduduk setempat, ikut makan dan minum serta mungkin berbagi cerita tentang susah dan senang kehidupan di tempat yang jauh dari hiruk pikuk perpolitikan nasional. Atau sekadar ikut menikmati malam penuh bintang di tempat tak berlistrik.
Politik nasional. Binatang ini rasanya semakin dekat saja dengan kehidupan saya.
Saya merasa hidup sekarang memasuki fase di mana pelaku politik praktis mulai dijalani oleh orang-orang yang satu daur hidup saat di kampus dulu. Dan ini rasanya agak mengerikan.
Politik pada dasarnya adalah seni memainkan kepentingan dalam pandangan sempit saya.
Menyaksikan beberapa orang di linimasa F dan I membagikan informasi yang menunjukkan kedekatan dengan tokoh politik tertentu, saya sulit untuk tidak membayangkan kepentingan apa yang dibawa masing-masing orang. Agenda apa yang ingin dimainkan oleh orang-orang ini.
Tadi siang saat saya melihat bapak-bapak kru bor mengerjakan lubang yang akan diukur dengan bermandi peluh dan lumpur, dalam hati saya bertanya kepentingan siapa yang mereka semua perjuangkan.

Berjuang untuk kepentingan siapa?

Dari taksiran kasar saya bisa menduga bahwa kebanyakan sudah berkeluarga. Simpulan saya jadi mudah, cita-cita mereka kemungkinan tidak jauh dari keluarganya tersebut. Menyekolahkan anak, memberi nafkah bagi anak dan istri, membelikan tiket pulang kampung, sambil tetap berusaha jumpalitan mencari uang untuk membeli rokok, karena jarang saya temui orang lapangan yang tidak merokok. Saya berkali-kali tergoda tapi rasanya takut terkena candunya.

Melihat bapak-bapak kru bor itu saya bertanya dalam hati apakah mereka memusingkan siapa yang akan naik jadi presiden kelak. Dan tak lama jawabannya muncul dalam bentuk selorohan saat menunggu alat ukur bekerja: tak peduli siapa yang jadi asalkan mata pencaharian tetap ada.
Saya sulit untuk bisa lebih sepakat lagi. Saat ini saya mulai merasa jengah dengan hiruk pikuk politik. Rasa penasaran masih ada tapi penatnya ingin membuat muntah. Untuk itulah saya berusaha memutus keran informasi yang saya terima: baik grup media sosial, situs berita, dan sumber lainnya berusaha saya pangkas sedapat mungkin karena dalam hati saya merasa siapapun yang naik jadi presiden, keadaan perekonomian tidak akan jadi lebih baik atau minimal relatif stabil.
Pemilik kepentingan di Indonesia terlalu sulit bersatu untuk mencapai satu tujuan bersama dan lebih menyukai terkotak-kotak demi melindungi golongannya masing-masing, dan saya yang sekarang lebih ingin mewakili golongan Nawir yang hanya ingin bisa bekerja dan mendapat penghasilan sambil berusaha terus mengejar cinta yang entah kapan bisa diraih.

Kalau meminjam istilah Ron Swanson si pembenci pemerintah yang jadi kepala dinas pertamanan di Parks and Recreation: Apa artinya hidup jika tidak mencintai?

Tapi jika setelah membaca ini, anda jadi ingin masuk golongan Nawir, saya sarankan berhenti sampai di niat saja karena golongan Nawir hanya bisa diisi oleh satu orang saja.

Malam ini saya akan melanjutkan prakarya merakit buku harian untuk orang penting.

Tapi sebelumnya, saya mau merasakan kemewahan baru di malam ini: mandi air hangat.

Dan kepentingan siapa yang sedang anda perjuangkan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s