Mencemari Nama Orangtua Tokoh yang Tak Kita Sukai

Orang Tua ( Foto : Logo Share)

Dulu saya pernah keluar dari grup rohani Islam sekolah menengah saya karena salah seorang di grup mengangkat isu soal orangtua tokoh partai terlarang di Indonesia. Ayahnya DN Aidit waktu itu. Saya tidak suka karena menurut saya hal tersebut kebangetan gobloknya.

Hanya waktu itu saya sepertinya tidak mengutarakan alasan tersebut di grup karena kelewat panas melihat kegoblokan teman sebangku saya sendiri waktu kelas X di ibukota.

Saya nggak paham kenapa seseorang yang makan bangku pendidikan tinggi, kerja di perusahaan yang cukup mapan bisa menyebarkan hal yang serendah itu.

Argumen saya sederhana saja : kita tidak pernah bisa memilih orangtua kita. Tidak semua orang beruntung dibesarkan di keluarga yang lengkap, apalagi harmonis. Saya bukan yang kedua. Jelas bukan.

Dan saat ada yang mengedepankan nafsu mengkritisi membabi buta dan mengambil sudut pandang orangtua, geram rasanya.

Barusan, saya mendapati lagi kegoblokan yang seirama. Presiden Indonesia sekarang dibilang ayahnya anggota Remason lah, keturunan PKI lah, yang begitu saya baca sampai ujung ternyata dibuat oleh akun abal-abal yang telah lama malang melintang. Saya ingat nama akunnya karena pernah iseng mencoba mencari siapa sih Annisa Madaniyah dan hasil penelusuran menemui jalan buntu. Coba saja cari akun tersebut. Mungkin masih ada.

Saya mungkin salah karena menimpali omongan ‘hantu’ yang pastinya akan semakin berkembang biak menjelang berlangsungnya pemilihan umum yang sedikit banyaknya menentukan nasib bangsa lima tahun ke depan, dan pundi-pundi bandar serta dapur para pemilik proyek yang sedang berlangsung pengerjaannya.

Saya bukan simpatisan presiden petahana, karena beliau membuka keran lapangan pekerjaan untuk warga negara lain. Untuk pekerjaan yang butuh keahlian dan keterampilan khusus, saya bisa menerima karena sejatinya di zaman sekarang menolak kehadiran ilmu hanya atas dasar nasionalisme buat saya dungu, tapi mempekerjakan buruh-buruh kasar dari luar negeri saya sulit memahaminya. Di kampung-kampung bahkan di beberapa kota besar jumlah penganggur bukannya sedikit. Melimpahnya ojek daring yang bahkan sampai diberlakukan kuota untuk setiap kota adalah indikasinya.

Tentu, saya tidak mau ambil pusing membuktikan pernyataan bahwa presiden sekarang membuka keran mata pencaharian ke warga negara lain, silakan berupaya sendiri memetakan narasinya berdasarkan sumber-sumber berita yang berseliweran dan kembalikan kepada nalar masing-masing untuk menafsirkannya. Sekarang toh konon zaman pasca kebenaran.

Kembali kepada metode kampanye kotor yang saya sulit terima di atas yang jadi pembuka curahan hati kali ini, saya hanya berharap siapa pun kawan-kawan di luar sana yang berkepentingan dengan jalannya pertaruhan besar bakar uang berjudul pemilu presiden kelak, tolong hati dan otak kalian serta masyarakat tidak dikotori dengan trik hina seperti menyebarkan berita bohong soal orangtua seseorang. Memainkan statistik, realita lapangan buat saya sah-sah saja karena layak diperdebatkan mengingat itu berkaitan dengan jerih payah di mana ada faktor usaha di dalamnya yang menyiratkan pilihan. Seorang presiden toh bisa saja kan menolak hadir di peresmian gedung baru atau proyek baru dengan beragam alasan?

Tapi sampai mati, darah yang mengalir di dalam tubuh kita selalu dari kedua orangtua kita. Kekurangan orangtua lawan politik kita bukan sesuatu yang pantas dibahas di muka publik karena kita tidak pernah memilih siapa yang jadi orangtua kita.

dari warga negara yang masih baper kalo liat politik indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s