Punk, HipHop dan Anarki : Setelah Boombox Usai Menyalak

Di tahun panas ini, meskipun bulannya sedang basah-basahnya saya berkesempatan mendapatkan sebuah buku yang membuat saya merasa jadi seorang pengecut kelas kakap sekaligus membuka sebuah khazanah baru tentang musik.

Buku itu judulnya Setelah Boombox Usai Menyalak yang merupakan kumpulan karangan Herry Sutresna atau yang dikenal juga dengan nama Ucok dari kolektif Homicide dan kini menggunakan nama Morgue Vanguard pada album terbarunya bersama Doyz.

Buku cetakan ketiga ini saya dapat dari seorang penjual di media sosial yang mengajak bertemu di sebuah resto dekat jembatan Cikapayang.

Buku bersampul putih ini berisi 27 tulisan yang mencuplik sebagian kisah hidup Ucok sejak dia kecil hingga dewasa dan memilih jalannya sendiri untuk menyuarakan perlawanan terhadap penindasan oleh penguasa lewat aparat yang menjadi kaki tangannya serta tentu saja korporasi besar.

Tulisan pertama sangat personal karena menceritakan tentang sosok Bapa yang menjadi figur pembentuk kesukaan Ucok terhadap  musik lewat kebiasaannya memutar piringan hitam di ruang tamu rumahnya.

Bapak juga yang menurut Ucok memberikannya jendela kecil untuk melihat bahwa dunia di luar sana tidak baik-baik saja.

Hanya tulisan ini yang membahas ruang bernama keluarga.

Sesudahnya banyak membuka ruang tentang filsafat dan musik.

Ucok buat saya adalah sosok yang menarik untuk diajak mengobrol sampai mabuk kata-kata, tapi tentunya dia akan lebih betah melakukan penggalangan aksi untuk membela kelompok masyarakat yang tertindas. Misalnya para korban penggusuran di Taman Sari dan Terminal Dago.

Buku ini bagi saya merupakan sebuah bacaan wajib karena banyak memberikan nuansa nostalgia selain menebarkan semangat perlawanan dan hasrat melakukan segalanya dengan tangan sendiri.

Ucok juga memberikan saya pencerahan tentang seperti apa musik hiphop mau pun punk sesungguhnya dengan semangat anarkisme yang diusung. Saya tercerahkan karena selama ini hanya mampu melihat hiphop dari sisinya yang cuma mampu memamerkan gaya hidup mewah dan serba seenaknya sendiri. Punk, saya cuma tau Marjinal yang rasanya masih menggelorakan lirik-lirik perlawanan. Dulu saya pernah punya CD Marjinal yang judulnya Predator. Saya sempat membawanya ke Bandung, tapi sekarang entah sudah di mana harta satu itu.

Ucok mengajarkan bahwa punk tidak cengeng. Dia menuliskannya saat mengomentari kasus pencukuran rambut massal anak-anak punk di Aceh. Dia juga tidak menyukai pengamen yang memakai label punk karena menurutnya semangat punk bukan yang meminta belas kasihan.

Dari Ucok juga saya tahu bahwa dulu di Ciumbuleit pernah hadir sebuah kolektif hiphop yang begitu tersohor bernama Run DMC. Manggungnya di Bumi Sangkuriang pula. Yang sedikit menggelikan saya adalah waktu itu Aszi, rekan Ucok di Homicide tidak bisa ikut nonton karena harus menjalani Ebtanas.

Ucok juga saya pikir bisa melihat bagaimana pergerakan mahasiswa kemudian kehilangan jiwanya setelah reformasi yang dia tuliskan saat membahas lagu-lagu yang membawa semangat protes. Ada 10 lagu yang dia pilih dengan urutan 1 diberikan kepada Mentarinya Abah Iwan.

Bagi kalangan gajah duduk, mestinya hafal mati lagu ini karena selalu diajarkan saat ospek kampus. Dan saya jadi tahu juga bahwa Ucok pernah kuliah di fsrd.

Kalimat penutup di ulasan lagu Mentari kiranya layak dijadikan bahan renungan kalangan aktivis mahasiswa yang bisa jadi tidak sadar sedang dijadikan alat oleh para seniornya di kampus.

 

One thought on “Punk, HipHop dan Anarki : Setelah Boombox Usai Menyalak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s